Sabtu, 17 Juli 2010

Peta Satelit Bulukumba


PETA SATELIT BULUKUMBA. Mudah-mudahan peta satelit Bulukumba ini dapat membantu. Mohon maaf kalao belum pas / sesuai dengan keinginan para pembaca. Kalau ada link yg lebih pas, mohon di-copy di kolom komentar, trims... (Asnawin / pembuat dan pengelola blog Kabupaten Bulukumba)

Pilkada Putaran Kedua Saat Puasa


Zainuddin Hasan


Sukri Sappewali






Pilkada Putaran Kedua Saat Puasa

Harian Tribun Timur, Makassar
Selasa, 13 Juli 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/117232/sitemap.html

Makassar, Tribun - Ketua Komisi PemilihanUmum (KPU) Sulsel Jayadi Nas menetapkan 23 Agustus mendatang sebagai sebagai hari pencoblosan putaran kedua di Bulukumba dan Luwu Utara (Lutra).

Jayadi menegaskan, tidak ada kampanye terbuka pada putaran kedua seperti layaknya putaran pertama.

Masing-masing pasangan calon hanya diberikan kesempatan untuk melakukan penajaman visi misi pada 17-19 Agustus mendatang dalam bentuk kampanye tertutup (indoor) sebelum memasuki masa tenang selama tiga hari.

"Tidak ada lagi arak-arakan, konvoi, atau panggung orasi seperti pada putaran pertama, yang ada adalah penajaman visi misi calon," kata Jayadi usai melakukan rapat koordinasi dengan KPU Bulukumba dan Lutra, Senin (12/7)

Ketua KPU Lutra Amiruddin Kapeng kembali mengingatkan kepada petugas PPK dan PPS untuk tidak coba-coba melakukan kecurangan atau terlibat dalam kampanye pasangan calon dalam bentuk apapun.

Ia mengaku tidak segan-segan memecat oknum penyelenggara, jika memang terbukti turut terlibat dalam kampanye atau upaya apapun untuk memenangkan pasangan tertentu dan merugikan pasangan lainnya.

Anggota KPU Sulsel Lomba Sultan menambahkan, bukan hanya PPS dan PPK yang harus warning, tapi pegawai negeri sipil (PNS) dan pasangan calon pun menurutnya perlu diingatkan.

Lomba mengingatkan kepada pasangan calon utamanya incumbent untuk tidak menyalahgunakan jabatan serta memanfaatkan fasilitas negara baik dalam bentuk sarana, prasarana, maupun sistem.

Ia mencontohkan beberapa putusan sidang di mahkamah konstitusi (MK) terhadap proses pilkada dibeberapa daerah seperti di Konawe Selatan, Surabaya, dan Lamongan setelah terbukti ada penyalahgunaan wewenang yang merugikan pasangan lainnya.

"Kalau sampai ini terjadi, tentu pasangan itu sendiri yang rugi, makanya saya perlu mengingatkan juga PNS dan pasangan calon utamanya incumbent untuk tidak memanfaatkan sistem pemerintahan," kata Lomba di KPU Sulsel.

Jayadi pun mengatakan tidak akan ada pemutakhiran data pemilih tetap pada putaran kedua nanti. DPT yang digunakan pada putaran pertama, itu juga yang akan digunakan pada putaran kedua.(cr7)

Deadline Pilkada Bulukumba

Belum cairnya keseluruhan dana untuk pilkada putaran kedua di Bulukumba mengharuskan Ketua KPU Sulsel Jayadi Nas untuk bersikap tegas.

Menurutnya, jika dana untuk putaran kedua belum cair dalam tenggang 14 hari setelah penetapan pasangan calon yang melaju di putaran kedua, maka ia memerintahkan KPU Bulukumba untuk menghentikan sekalian tahapan pilkada putaran kedua.

"Kalau 14 hari belum juga dicairkan, KPU Sulsel perintahkan untuk menghentikan tahapan," kata Jayadi di KPU Sulsel, Senin (12/7).

Penetapan hasil pilkada putaran pertama di Bulukumba dilakukan pada 2 Juli lalu, menetapkan pasangan Sukri A Sappewali - Abd Rasyid Sarehong dan Zainuddin Hasan - Syamsuddin untuk bertarung pada babak selanjutnya.(cr7)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Pilkada di Bulan Puasa, KPU Diprotes

Pilkada di Bulan Puasa, KPU Diprotes
- Partisipasi bisa rendah karena warga sedang berpuasa

Senin, 12 Juli 2010, 19:57 WIB
Arfi Bambani Amri
http://politik.vivanews.com/news/read/164047-pilkada-di-bulan-puasa--kpu-diprotes

VIVAnews - Puluhan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Pemilihan Kepala Daerah Sulawesi Selatan berunjuk rasa di Kantor Komisi Pemilihan Umum Sulawesi Selatan. Mereka menolak pilkada putaran kedua di dua kabupaten digelar 23 Agustus 2010 karena bertepatan dengan bulan Ramadan.

Dua daerah yang bersiap menggelar pemilukada putaran kedua adalah Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Bulukumba. Pada putaran pertama yang digelar 23 Juli lalu, tidak satu pun pasangan di dua daerah tersebut mencapai suara 30 persen.

Menurut kordinator pengunjuk rasa, Akbar, penolakan pelaksanaan pemilukada di bulan Ramadan karena dikhawatirkan akan mencederai kemurnian bulan suci tersebut. Padahal masyarakat muslim menginginkan adanya kekhusukan dan kenyamanan selama menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, pelaksanaan pemilukada di bulan puasa akan mencederai demokrasi. Utamanya dalam tingkat partisipasi pemilih. Sebab pada saat itu, masyarakat dihadapkan pada acara tahunan mudik Lebaran sehingga tidak bisa menyalurkan suaranya.

“Pada putaran pertama saja, tingkat pemilih di Luwu Utara hanya sekitar 70 persen. Jika tetap dipaksakan untuk memilih di bulan puasa, maka partisipasi pemilih akan lebih rendah,” kata Akbar saat menyampaikan orasinya.

Untuk itu, mahasiswa meminta KPU untuk bersikap bijak dengan tidak memaksakan pelaksanaan pemilukada di bulan puasa mendatang. Mahasiswa juga mengimbau agar KPU bersikap profesional dengan memprioritaskan kepentingan masyaraka daripada pribadi dan golongan.

Ketua KPU Sulsel, Jayadi Nas memiliki pandangan berbeda dengan pelaksanaan Pemilukada di bulan Ramadan. Menurut Jayadi, pelaksanaan pemilukada di bulan puasa akan membangkitkan kesadaran masyarakat dalam berpolitik secara jujur.

“Ini adalah bagian dari ibadah politik. Sebab masyarakat nanti akan berhati-hati melakukan politik uang serta melakukan kecurangan karena takut berdosa,” kata Jayadi yakin.

Saat ini, tambah Jayadi, KPU tidak memiliki alasan kuat untuk tidak menggelar Pemilukada tanggal 23 Agustus mendatang. Sebab dalam Undang-undang sangat jelas, bahwa tahapan pemilukada putara kedua digelar 61 hari pasca pelaksanaan putaran pertama. Sehingga jika pelaksanaan pemilukada diundur, Jayadi khawatir justru melakukan pelanggaran Pemilukada.

“Jadi kami sebagai pelaksana kami tidak mungkin mengeluarkan keputusan yang melanggar undang-undang,” ujar dosen Universitas Hasanuddin ini.

Informasi yang dihimpun VIVAnews, Pemilihan putaran kedua di Bulukumba dan Luwu Utara digelar karena tidak ada pasangan calon yang meraih suara 30 persen. Kedua pasangan yang ikut putara kedua di Luwu Utara adalah pasangan calon Arifin Junaidi dan Indah Putri, dan pasangan Muhammad Thahar dan Ansar Akib.

Sedangkan di Bulukumba, pasangan cabup dan cawabup AM Sukri Sappewali-Rasyid Saherong akan ditantang oleh pasangan Zainuddin Hasan-Syamsuddin.

Laporan Rahmat Zeena | Makassar

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Jumat, 16 Juli 2010

Bulukumba Gelar Festival Phinisi 2010



Gambar perahu phinisi khas Makassar dalam lukisan cadas di Australia menunjukkan interaksi Suku Abvorigin dengan pelayar Bugis atau Makasan sudah lama berlangsung. Pemerintah Kabupaten Bulukumba akan menggelar Festival Phinisi 2010. Kegiatan pariwisata skala nasional itu dipusatkan di Tanjung Bira Bulukumba, 5-9 Oktober 2010.
(foto: Rick Stevens)

Kamis, 15 Juli 2010

Syamsi Ali Harumkan Nama Bulukumba di Amerika Serikat


Nama Bulukumba tidak asing lagi bagi sebagian warga kota metropolitan New York, Amerika Serikat, karena Imam Masjid Islamic Center of New York (masjid terbesar di New York) sekaligus Ketua Masyarakat Muslim New York itu adalah pria asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.Namanya Muhammad Syamsi Ali.

Selasa, 13 Juli 2010

Informasi Publik Harus Dibuka



Di era keterbukaan informasi dan kebebasan pers dewasa ini, semua informasi seolah-olah bebas dibuka dan disampaikan kepada publik, termasuk rekening pribadi pejabat publik dan video koleksi pribadi sepasang kekasih atau sepasang suami isteri.

Senin, 12 Juli 2010

Dicurigai Tidak Netral, Kantor Radar Bulukumba Didemo

Dicurigai Tidak Netral, Kantor Radar Bulukumba Didemo

Tempo Interaktif
Senin, 12 Juli 2010
http://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/07/12/brk,20100712-262731,id.html

TEMPO Interaktif, Makassar - Puluhan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat Aliansi Masyarakat Pengawas Demokrasi (AMPD) berunjukrasa di kantor harian Radar Bulukumba di Jalan Mukhtar Lutfi, siang tadi.

Massa menduga pimpinan media tersebut berpihak kepada salah satu pasangan calon peserta pemilu kepala daerah yang lolos putaran kedua, dan menilai pemberitaan di medianya tidak berimbang.

Beberapa menit melakukan orasi di depan kantor harian yang tergabung dalam gerup Fajar ini, massa diterima Pemimpin Redaksi Radar Bulukumba Syamsul Bakir, dan radaktur Khaeruddin. Safir, salah seorang pengunjuk rasa menyatakan bahwa media seharusnya tidak berpihak kepada salah satu pasangan calon.

"Koran Radar Bulukumba pemberitaannya tidak berimbang dan tendensius. Dukungannya mengarah pada salah satu calon kepala daerah, sehingga penyampaian beritanya tidak objektif," kata Safir.

Tuduhan tersebut dibantah Syamsul Bakir. "Jika memang ada pemberitaan kami yang salah, itu bukan kesalahan kami tapi kesalahan dari sumber," kata dia.

Ia mengatakan bahwa terbitan pekan lalu koran yang dipimpinnya itu pernah terjadi kesalahan tapi sudah diklarifikasi sesuai dengan ketentuan. Dia mengaku jika dalam pemuatan berita sebelumnya terjadi kesalahan penyebutan nama partai, dimana seharusnya Partai Merdeka, tetapi tertulis Partai Buruh. Hal tersebut juga sudah diperbaiki.

"Saya sudah bilang kepada para pendukung Aspirasi bahwa jika ada beritanya Zaidin yang naik itu karena tim mereka yang datang ke kantor dan ada juga yang menghubungi lewat telepon dan pesan singkat," kata Syamsul Bakir.

Menurut dia, siapa pun yang datang memberikan informasi maka akan dimuat menjadi berita. Pihaknya tidak membeda-bedakan pasangan calon. "Karena koran ini adalah untuk masyarakat," ucapnya.

Menyinggung dugaan pencemaran nama baik atas tuduhan yang tidak benar tersebut, Syamsul Bakir menyatakan pihaknya belum menentukan sikap. "Saya akan ketemu dengan pemilik lembaga ini dan grup Fajar untuk membahasakan langkah selanjutnya," katanya.

Terpisah, Hamzah Libiyah, Dewan Pimpinan Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria Bulukumba mengecam tindakan massa yang mendemo kantor media massa. Dia menilai tindakan tersebut merupakan bentuk intimidasi kerja-kerja jurnalis.

"Mereka itu mengancam kebebasan pers di Bulukumba, dengan mendatangi kantor koran Radar Bulukumba," kata dia.

Hamzah menduga massa yang berdemo di kantor Radar Bulukumba adalah pendukung salah satu pasangan calon.
JASMAN


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Poros Tanjung Bira-Kota Bulukumba Rusak

Poros Tanjung Bira-Kota Bulukumba Rusak

Harian Tribun Timur, Makassar
Selasa, 6 Juli 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/115812/Poros_Tanjung_Bira-Kota_Bulukumba_Rusak

Bulukumba, Tribun - Jalan poros yang menghubungkan Tanjung Bira dengan Kota Bulukumba mulai rusak. Penyebabnya diduga karena seringnya dilalui alat berat dan guyuran hujan deras. Kondisi ini sering dikeluhkan warga.

Material jalan poros yang juga dilalui oleh warga Kabupaten Selayar ini mulai terangkat. Akibatnya, pengguna jalan, khususnya pengendara motor dan mobil, harus memperlambat laju kendaraannya.

Kerusakan itu antara lain terlihat di perbatasan antara Kecamatan Ujung Loe dengan Bonto Bahari hingga melewati ibu kota kecamatan tersebut.

"Kondisi seperti ini telah berlangsung sejak awal Januari hingga saat ini dan rawan kecelakaan lalu lintas," kata Fadli, warga Tana Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Minggu (4/7).

Fadli berharap, pemerintah dapat menganggarkan dana untuk perbaikan jalan tersebut. Apalagi jalan itu juga banyak dipakai warga dari luar Bulukumba yang berkunjung ke kawasan wisata Tanjung Bira.

Sebelumnya, Wakil Bupati Bulukumba, Padasi, menyebutkan, pengerjaan beberapa proyek jalan di daerah itu kurang berkualitas. Akibatnya cepat rusak lagi.

Padasi mengharapkan, untuk pengerjaan proyek tahun ini dapat dilakukan pengawasan yang ketat, sehingga rekanan bekerja maksimal. Jika tidak, dapat merugikan msyarakat banyak dan negara.

Beberapa waktu lalu, anggota Komisi A DPRD Bulukumba, Amar Ma'ruf, juga menyoroti pengerjaan Jl Sam Ratulangi Kota Bulukumba, yang sudah rusak dan berlobang.

Amar juga meminta dinas terkait mengawasi rekanan yang mendapat proyek. "Pelaksanaan pengerjaan jalan tahun ini harus diawasi bersama dan dilaporkan ke pihak berwajib jika ada rekanan yang nakal," kata Amar. (cr5)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Ketua Umum PB KKMB Bulukumba Diberhentikan

Ketua Umum PB KKMB Bulukumba Diberhentikan
- Curiga Kenapa Ada Dua Lokasi Mubes

Harian Tribun Timur, Makassar
Senin, 12 Juli 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/117045/Ketua-Umum-PB-KKMB-Bulukumba-Diberhentikan

Bulukumba, Tribun - Ketua Umum Pengurus Besar Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba (PB-KKMB), Radianto, diberhentikan oleh sejumlah pengurus lembaga itu.

Alasan pemberhentiannya antara lain, dianggap melanggar ketentuan organisasi, tidak loyal, dan tidak menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) PB-KKMB yang berlangsung di Kawasan Wisata Benteng Somba Opu, Makassar, Sabtu (10/7).

"Dia diberhentikan, karena pengurus menganggap terlalu banyak pelanggarannya," kata Kaspul Bj, Ketua Komisiariat KKMB UNM (Kaspul BJ), Minggu (11/7).

Pelanggaran yang dianggap paling fatal adalah tidak menghadiri mubes dan tidak memandatkan kepada salah seorang pengurus untuk menyampaikan laporan pertanggung jawaban (LPJ).

Selain itu, beberapa pengurus bergantian mengundurkan diri. Termasuk Sekretaris Jenderal Kahar Muda Mappasoba, mundur beberapa waktu lalu sebelum memasuki mubes.
Pengurus lain menilai, ketidakhadiran Radianto di mubes merupakan hal yang fatal.

Tidak Mengerti

Dikonfirmasi terpisah, kemarin, Radianto, mengatakan, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh beberapa pengurus itu. Sebab Mubes PB-KKMB belum waktunya.

"Saya tidak mengerti mubes yang dilakukan oleh beberapa pengurus, karena setahu saya kegiatan itu baru akan dilakukan dan belum saat ini," katanya.

Ia mengungkapkan, ada campur tangan beberapa oknum mantan pengurus yang sengaja mempolitisir sebagian pengurus lembaga ini untuk melakukan mubes.

"Ada mantan pengurus terlibat di mubes, karena kenapa sampai ada dua lokasi mubes, yakni satu di Tanjung Bunga dan satunya di Benteng Somba Upu," tambahnya.

Radianto mengatakan, akan melakukan upaya hukum terkait yang dilakukan oleh beberapa pengurus lainnya. (sb)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Kades Belajar Pengelolaan ADD

Kades Belajar Pengelolaan ADD

Citizen Reporter
Ardiansyah
Staf Humas Pemkab Bulukumba
Melaporkan dari Bulukumba

Harian Tribun Timur, Makassar
Jumat, 9 Juli 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/116460/Bulukumba-Usul-1.000-Jeneponto-2.000

Sebanyak 207 pegawai kecamatan, aparat desa, dan ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Se-Kabupaten Bulukumba mengikuti sosialisasi alokasi dana desa (ADD) selama dua hari, 8-9 Juli. Kegiatan ini berlangsung di Gedung STAI Al-Gazali Bulukumba.

Dalam laporannya, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Pemkab Bulukumba A Munthasir menyebutkan sosialisasi terdiri atas camat, kepala desa, dan ketua BPD se-Kabupaten Bulukumba.

Bupati Bulukumba AM Sukri Sappewali mengharapkan, dengan mengikuti kegiatan tersebut peserta dapat mengetahui mekanisme pengelolaan ADD sesuai dengan peraturan bupati tentang petunjuk teknis pengelolaan ADD dan keputusan bupati tentang penetapan besaran ADD tahun anggaran 2010.

"Peserta wajib mengikuti sosialisasi ini karena terkait dengan penggunaan dana dari pusat kedaerah untuk dimanfaatkan membiayai program pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat desa melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan akuntabilitas sesuai koridor yang ditetapkan," kata bupati, didampingi Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Bulukumba A Mahyuddin. (*)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Bulukumba Usul 1.000, Jeneponto 2.000

Bulukumba Usul 1.000, Jeneponto 2.000
- Untuk Penerimaan CPNS 2010

Harian Tribun Timur, Makassar
Jumat, 9 Juli 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/116460/Bulukumba-Usul-1.000-Jeneponto-2.000

BULUKUMBA, TRIBUN - Badan Kepegawaian Diklat Daerah (BKDD) Kabupaten Bulukumba mengusulkan sekitar 1.000 CPNS untuk penerimaan tahun ini ke Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara (Meneg-PAN).

Dari usulan itu, jumlah terbanyak adalah guru berbagai tingkatan mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Sedangkan untuk formasi kesehatan, yang paling banyak diusulkan tenaga perawat, bidan, dan tenaga medis lainnya.

"Kami baru usulkan formasi ke MenegPAN sekitar 1.000-an orang dan belum ada informasi," kata Ketua BKDD Bulukumba, A Hartatiah, Kamis (8/7).

Ia menjelaskan, formasi yang paling banyak diusulkan oleh Bulukumba adalah tenaga kependidikan dan tenaga kesehatan. Disebutkan, tenaga tersebut sangat dibutuhkan.
Ia belum tahu kapan pendaftaran. Tapi berdasarkan pengalaman selama ini, biasanya pada November.

BKD Jeneponto

Sementara BKD Jeneponto mengusulkan sekitar 2.000 jatah CPNS ke MenegPAN. Jatah terbanyak untuk tenaga pendidik atau guru.
Asisten I Pemkab Jeneponto, Baharuddin BJ, menyampaikan, pihaknya sudah mengusulkan kuota ke Jakarta, namun belum ada jawaban.
"Ini baru usulan dan belum ada pemberitahuan resmi dari Menpan mengenai berapa jumlah
kuota untuk Jeneponto," kata Baharuddin, kemarin. (sb)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Jumat, 09 Juli 2010

Suku Bugis

Suku Bugis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
-http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.

Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara.

- Sejarah

Awal Mula

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.

Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi.

Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.

Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Perkembangan

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.

Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru.

Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Masa Kerajaan

Kerajaan Bone

Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.

Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng.

Istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. Pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan, dan barat.

Kerajaan Makassar

Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

Kerajaan Soppeng

Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. Dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

Kerajaan Wajo

Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung.

Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi.

Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi Arung Cinnotabi IV.

Setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La Tenribali dan La Tenritippe. Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. Adapun rajanya bergelar Batara Wajo.

Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La Mataesso Batara Wajo II, dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara Wajo III dibunuh. Kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak kemerdekaan Wajo. Setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo hingga meleburnya Wajo pada pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Konflik Antar-kerajaan

Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru.

Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng.

Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "tellumpoccoe".

Penyebaran Islam

Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.

Kolonialisme Belanda

Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka.

Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berkhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.

Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak ada lagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda.

Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

Masa Kemerdekaan

Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya.

Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka.

Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

Mata Pencaharian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Bugis Perantauan

Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka[rujukan?].

Penyebab Merantau

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Bugis di Kalimantan Timur

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Makassar.

Referensi

1. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. ISBN 9812302123.
2. ^ http://www.rajaalihaji.com/id/article.php?a=YURIL3c%3D= Situs Raja Ali Haji
3. ^ Naim, Mochtar. Merantau.

Sensasi Berburu Escolar di Lepas Pantai Bira


Seorang nelayan sedang mengayuh sampannya dengan latar belakang Pulau Kambing, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Pantai Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba. Pulau Kambing adalah tempat memancing yang dapat menimbulkan sensasi luar biasa. (Sumber Foto: http://www.forumms.com/bira.htm)


----------------------------------------

Sensasi Berburu Escolar di Lepas Pantai Bira

Oleh: Andi Harianto

Kompasiana (http://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2010/04/12/sensasi-berburu-escolar-di-pulau-kambing/)
12 April 2010

Tidak lebih setengah jam dari bibir berpasir putih Pantai Bira, sampailah kami di lokasi dimana arus teluk Bone bertemu dengan air lautan Flores. Tebing kokoh Pulau Kambing, adalah penjinak dua arus berputar ganas lautan tersebut, yang menjadikan area ini dihuni berbagai jenis ikan khas yang berdiam di antara bebatuan karang yang ada di dasar lautan. Tebing batu yang menjulang menantang gelombang dan karang koral di dasar lautan, menjadikan Pulau Kambing ini akrab disebutan para nelayan sebagai lokasi Pulau Batu.

Kak Toto, demikian aku memanggilnya, adalah pemancing senior yang aku temani. Ia mulai memancing di Pulau Batu itu sejak sewa perahu hanya disewa seharga Rp 10.000, yang sekarang sewanya saja sudah mencapai Rp 350.000, belum termasuk bahan bakarnya. Ia sudah mengenal semua tukang perahu dan telah paham waktu yang baik untuk memancing.

“Tidak ada tempat yang tenang di Pulau Batu ini, bagi mereka yang tidak mengenal karakter lautnya. Kalau bukan ombak yang mengguncang, maka arus deras bawah lautlah yang mengganggu,” katanya kepadaku saat dalam perjalanan menuju lokasi mancing Pulau Kambing.

“Saat ini, waktu dalam hitungan 25 bulan. Pertemuan arus akan tenang karena lautan pasang di sore dan pagi hari,” kata Daeng Sansu’ menambahkan analisisnya tentang hari baik untuk memancing.

Saya tidak paham arti 25 bulan, karena kalender resmi hanya sampai pada angka bulan ke-12. Saya tidak memancingnya untuk menjelaskan, karena saya tak peduli dengan hitungan itu. Bagiku yang pemula ini menganggap bahwa lautan pasti dihuni banyak ikan, dimanapun itu.

Dugaanku salah besar, nenek moyang kita telah menggunakan pengalamannya untuk mengetahui waktu tepat ikan datang bergerombol bahkan tahu waktu makanannya. Mereka tidak menggunakan peralatan canggih GPS yang digunakan pemancing modern, mereka hanya mengandalkan hitungan kuno namun tepat.

Tentang Pulau Kambing, aku pun penasaran. Kenapa harus disebut Pulau Kambing yang tak berpenghuni manusia tersebut. Ternyata di Pulau itu terdapat ratusan kambing yang berkeliaran tanpa pemilik. Kambing-kambing itu dilepas oleh nelayan sebagai persembahan. Mungkin persembahan kepada penghuni lautan agar tak diganggu saat mencari ikan. Tentang kepercayaan ini saya tak peduli, juga saya tak ingin menentangnya. Soalnya ada rasa bergidik juga jikalau mendengar cerita tentang banyaknya perahu yang karam dan awaknya hilang entah kemana.

Adapula cerita dari nelayan yang pernah melihat gadis ber-baju bodo, yang berpakaian khas orang Bugis sedang berjalan di atas lautan. Entah itu takhayyul atau bukan, saya mengabaikannya karena saya ingin memusatkan konsentrasiku pada ikan apa gerangan yang akan kami dapatkan, membayangkan hentakannya dan merasakan sensasi tarikan pancing yang menyenangkan.

Sebenarnya bukan hanya Pulau Batu ini yang menjadi tujuan favorit para pemancing, tetapi juga terdapat Pulau Pasir di dekat Pulau Selayar, yang juga tak kalah menyenangkannya menjadi area memancing ikan escolar, tuna, sunu' merah dan berbagai ikan besar yang memicu adrenalin ketika mata pancing besar ukuran 14 disambar buas ikan-ikan tersebut.

“Strike…strike….uuppss”, demikian dengusan gembira ketika pertama kali mata pancingku tersambar oleh sesuatu yang teramat besar. Tidak ada ingatan lain kecuali ikan yang ada di dasar dan mengkonsentrasikan kekuatan di tangan untuk menariknya ke permukaan.

Ikan apakah gerangan di bawah sana, dalam benakku tergambar kemungkinan ikan escolar yang oleh pemancing dijadikan supremasi tertinggi untuk menjadi pemancing hebat. Ikan Escolar harganya bisa 2 jutaan, dagingnya menurut cerita sangat lezat bahkan ada yang menjadikannya obat mujarab. Saya tidak pernah melihat, merasakan lezat dan juga menjadikannya obat. Yang pasti ikan ini sangat jarang didapat, karena mereka datang bergerombol di pertemuan arus ini mengikuti musimnya, yang hanya beberapa orang tukang perahu di Bira ini mengetahuinya. Kalaupun waktu datangnya tepat, belum tentu si escolar itu menghampiri mata pancing Anda. Sulit yah….

Semua kawan sesama pemancing menghampiriku, ada yang membantu menggulung tali pancing dari benang tasi, ada yang menyemangati sambil menebak ikan yang ada dalam tarikanku, yang lain mempersiapkan ganco runcing untuk mengangkat ikan itu ketika sampai di permukaan. Ada pula yang tetap dengan pancingnya sambil berharap mendapatkan sesuatu yang seperti aku dapatkan, walau belum terlihat sejenis apakah gerangan ikan yang meronta berat di pancingku ini.

Aku sudah mulai lelah menariknya setelah sekitar 20 menit aku bertarung, maklum ikannya sangat kuat meronta dan kedalamannya berkisar 200 depa. Pancing yang aku pakai disebut di daerah kami sebagai pancing Lingara atau pancing manual. Pancing ini dirakit dengan menggunakan stainless berbentuk unik, memakai beberapa gilingan untuk menyesuaikan putarannya dengan arus lautan yang deras. Pancing lingara ini dilengkapi ladung atau pemberat yang terbuat dari timah seberat setengah kilo. Diujung lingara inilah diikatkan picura atau tali pancing dengan panjang ideal 3 meter.

Sensasi tarikan dengan memakai Lingara lebih terasa dibanding penggunaan stick pancing yang belum tentu ikannya dapat ditarik jikalau hanya menggunakan stick dan rool yang murah. Pancing Lingara yang hanya menggunakan gulungan sederhana dengan tasi yang besar ini, langsung ditarik oleh tangan.

Pemancing bertarung secara langsung dengan ikan tersebut dengan mengandalkan kekuatan tangan tanpa bantuan peralatan seperti yang ada pada stick pancing yang sering kita nikmati di tivi pada acara mancing mania.

Sensasinya luar biasa, tapi otot tanganku tidak cukup kuat menariknya. Saya mundur setelah kuperkirakan masih ada sekitar 50 depah lagi ikan itu sampai kepermukaan. Kuserahkan tali pancingku ke seorang teman, sementara aku terduduk kelelahan sambil berharap semoga ikan besar itu sampai ke permukaan dan jenisnya bisa ketebak.

Tenaga baru, membuat tarikannya juga lebih cepat. Dan byarr..byarr..byarr, ikan itu sekali lagi meronta teramat keras sebelum sesaat tiba di permukaan. Mungkin karena ikan yang hidup di kedalaman itu merasa aneh berada di lingkungan yang berbeda, diperparah lagi dengan tusukan pancing dan tarikan yang mengalahkannya.

“Tarik terus…tarik….” Aku menyemangati dan akhirnya ikan besar itu pun tampak di permukaan. Semua bersorak kagum sambil menepuk-nepuk punggungku bertanda pengakuan dan penghargaan. Inilah sportivitas di dunia memancing. Dan ikan itu….Aha, seekor Ikan Moang besar dengan panjang sekitar 1,75 meter, lebar 45 cm. Beratnya tidak kurang dari 40 kg karena saya sendiri tak mampu mengangkatnya. Ikan Moang adalah penamaan lokal, saya tidak mengetahui bahasa Indonesianya apalagi bahasa latinnya.

Ikan besisik tebal, berwarna merah mirip ikan Mas itu juga adalah salah satu ikan langka yang jarang didapat. Walau bukan Escolar, hari itu saya menjadi pemacing di kelompokku yang terdiri dari 7 orang dalam satu perahu itu, sebagai orang baru yang unggul mendapatkan ikan terbesar.

Ketika itu, jam 04.00 dini hari. Saya kembali menurunkan pancingku dengan umpan seekor ikan layang kecil. Sayang, pancingku tersangkut di karang dan aku tak mampu melepaskannya. Aku berhenti dan mengikatkan pancingku ke perahu, kubiarkan saja sampai ombak yang menggoyangkan perahu melepaskan pancingku.

Tenagaku sudah habis dan saya berniat shalat subuh di perahu dan kemudian istirahat sambil menunggu waktu pulang di pagi hari. Teman-teman yang lain masih asyik memancing dan mendapatkan ikan yang bermacam-macam walau belum mengalahkan hasil pancinganku. Kotak gabus yang berisi es balok untuk mengawetkan ikan sudah sumpek terisi, setelah semalaman penuh kami memancing.

Ngantuk dan lapar tak terasa, yang ada hanya sensasi demi sensasi bergulat dengan ikan Pulau Batu yang besar-besar dan menyenangkan. Inilah hobby, kesehatan pun terabaikan. Untung aku telah meminum anti mabuk sehingga pengalaman sebagai pemancing pemula di lepas Pantai Bira tak membuatku teler dengan gocangan ombak menggocok perut.

Sambil menunggu jangkar diangkat, kami semua membenahi pancing dan mengatur letak ikan hasil pancingan. Waktu menunjukkan jam 07.00 WITA, kami pun balik pulang menuju pantai, tempat mobil terparkir yang akan membawa kami kembali ke rumah di Kabupaten Bantaeng yang berjarak sekitar 50 km dari Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba tempat dimana obyek wisata pasir putih Pantai Bira berada.



Pantai Bira adalah salah satu wisata unggulan di Sulawesi Selatan yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Pasir pantainya yang putih, panorama indah bawah laut dan berbagai fasilitas resortnya, menjadikan pantai Bira ini terkenal dimana-mana. (Foto: http://www.forumms.com/bira.htm)

Tidak hanya itu, Perahu Phinisi yang pernah berlayar sampai ke Madagaskar adalah perahu berasitektur khas daerah ini yang kini banyak menjadi lambang ataupun logo yang dipakai di Sulsel. Phinisi adalah kebanggaan kami. Keahlian membuat perahu phinisi, menjadikan Bulukumba dikenal sebagai daerah “Bumi Panrita Lopi” atau daerah dimana tempatnya para ahli pembuat perahu.

Hasil penelitian Pelras dalam bukunya “Manusia Bugis” yang menyimpulkan bahwa masyarakat Sulsel itu adalah petani tulen dan bukan pelaut setidaknya terbantahkan jikalau ia sempat mengunjungi Kabupaten Bulukumba, yang nelayannya kadang tertangkap patroli Australia karena tidak sadar mereka telah memburu ikan tuna di perairan Negara lain.

Banyaknya orang Bugis Makassar di masa lalu yang merantau dimana-mana melalui jalur laut dengan perahu phinisinya, juga banyaknya orang Bugis Makassar dimasa lalu yang merantau dimana-mana melalui jalur laut dengan perahu phinisinya, juga adalah pembukti bahwa nenek moyang Bugis-Makassar adalah pelaut-pelaut handal.

Ungkapan “sekali layar terkembang, pantang surut kembali ke pantai” (kualleangngangi tallanga na towalia) adalah komitmen keberanian yang masih dipegang teguh para pelaut pemberani Bugis-Makassar, dan tentu pula para pelaut di bahagian Nusantara lainnya.

Walau kupasan singkat tentang Pantai Bira berpasir putih, dan Perahu Phinisi di Bulukumba ini belum lengkap dalam memoriku, setidaknya aku ingin mengenalkan bahwa tidak hanya itu yang menarik, tetapi juga wisata memancingnya, yang pasti tidak kalah dengan obyek wisata lainnya.

Sayangnya, obyek memancing ini belum diperkenalkan oleh Pemda Bulukumba untuk menarik minat wisatawan yang hobby memancing. Belum disiapkan perahu khusus memancing, fishing shop, ataupun area bakar ikan.

Teringat saya dengan Bupati Wakatobi yang menyiapkan aturan tentang area khusus memancing. Di area itu dilarang untuk menggunakan pukat apalagi bom ikan yang memunahkan biota laut. Hanya memancing yang dibolehkan, itupun diatur waktunya, memberi kesempatan ikan berkembang biak agar ikan tak bakal habis yang tentu akan memuaskan para pemancing.

Saya pun kembali ke Pantai dengan perasaan puas tak terkira. Lautan tenang dan angin semilir mengantar kami, bersama loncatan bermanuver segerombolan lumba-lumba hitam sahabat para nelayan. Lumba-lumba itu seolah mengucapkan selamat jalan kepada kami. Perahu melaju tenang dan kunikmati aroma pagi lautan yang begitu sejuk. Beningnya lautan menampakkan karang yang ada di bawahnya. Indah, sangat indah Sang Pencipta mendesain alam yang demikian kaya ini. Adakah kita mau melestarikannya ?

Sehari setelah kembali memancing dari Pulau Batu
Bantaeng, 10 April 2010


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Kenangan Perjalanan Ke Sebuah Pulau


(Dok. Pribadi Petrus Purnama)


Kenangan Perjalanan Ke Sebuah Pulau

Oleh: Petrus Purnama
Kompasiana (http://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2010/06/04/kenangan-perjalanan-ke-sebuah-pulau/)
4 Juni 2010

Indonesia memiliki banyak keindahan dari pulau-pulaunya, tidak salah kalau ada suatu ungkapan , Indonesia adalah Jamrut Katulistiwa. Keindahan setiap jengkal wilayah Nusantara memang sangat menakjubkan.

Saya teringat suatu perjalanan ke sebuah pulau di ujung pulau Sulawesi, sebuah pulau dengan banyak sekali daerah wisata bahari yang belum banyak diketahui orang. Ditambah dengan beberapa wisata budaya dan sejarah, sangat lengkap untuk dikunjungi sebagai pilihan tujuan wisata.

Luas pulau tersebut adalah sekitar 903,35 Km2. kalau dihitung dengan wilayah kepuluan disekelilingnya menjadi 1.118,28 Km2. Yang unik dari pulau ini adalah pulau dibelah gugusan pegunungan di tengah pulau yang membagi kedua daerah pesisir pantai di kanan kirinya, sangat eksotis, melihat pegunungan di bibir pantai.

Perjalanan dimulai setelah sebelumnya menghabiskan perjalanan udara dari Yogyakarta – Surabaya – Makassar. Kami menginap satu malam menikmati suasana kota Makassar di waktu malam, terutama aktivitas malam di pantai Losari yang terkenal itu. Saat saya berkunjung (2004) pembangunan besar-besaran sedang dimulai, dan memang terdengar kabar akan dilakukan penataan pantai dengan memberikan fasilitas baru seperti hot spot internet yang sudah bisa dinikmati saat ini.

Malam di pantai Losari terasa sangat indah sembari kami, menikmati makanan yang dijajakan dipingir jalan. Bagi yang pernah berkunjung ke pantai ini maka akan tahu makanan khas daerah ini, yaitu panganan pisang kepok yang dipipihkan kemudian dibakar dan ditambah dengan gula aren (gula jawa) yaitu Pisang Epe. Sangat nikmat sembari menyeruput Kopi atau Teh Hangat.

Setelah bermalam , kami melakukan perjalanan darat dari Makassar ke pulau yang kami tuju. Tidak lupa dalam perjalanan kami menikmati makanan khas Makassar yaitu Sop Konro, sop iga sapi yang orang Makasar biasanya disantap dengan menambah susu kental manis pada kuahnya dan menyeruput sumsum iga sapi dengan sedotan, nikmat sekali melihatnya.

Perjalanan darat mencapai ujung ‘kaki’ Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Bulukumba. Sayang sekali ketika kami datang kondisi air laut tidak memungkinkan untuk kapal fery berlabuh sehingga harus menunggu air pasang naik. Terpaksa kami harus menunggu sambil beristirahat di sebuah rumah makan di daerah dermaga.

Makanan yang kami santap kali ini adalah makanan laut khas pantai berupa berbagai ikan laut tangkapan dan lobster laut, cukup untuk mengobati kejenuhan menunggu diberangkatkannya kapal Fery. Kami menyempatkan melihat pembuatan Kapal Phinisi yang banyak terdapat di Kabupaten Bulukumba, kapal yang sangat melegenda sebagai salah satu wujud adanya kejayaan bahari negeri ini.

Perjalanan bisa dilanjutan saat malam menjelang, ketika air pasang sudah cukup untuk membuat kapal fery merapat kedermaga Pelabuhan Bira, Bulukumba. Perjalanan dengan kapal fery kalau pada siang hari bisa menikmati munculnya ikan lumba-lumba, tetapi tidak bisa kami nikmati karena perjalanan harus dilakukan dalam gelapnya malam.

Kami mencapai tujuan di pulau itu menjelang dini hari, merapat di pelabuhan Penyebrangan Fery, Pamatata, masih dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju ibukota kabupaten, yaitu Benteng. Pulau yang saya maksudkan adalah Pulau Selayar yang sekarang merupakan Kabupaten Kepulauan Selayar.


Keterangan gambar: perahu phinisi. (foto: Petrus Purnama)

Potensi wisata pulau ini sangat beragam dari wisata bahari, alam, sejarah dan budaya. Moda transportasi untuk mencapai daerah ini adalah transportasi kapal fery yang menghubungkan dermaga penyeberangan Bira di Bulukumba dan Pamatata di Pulau Selayar, atau dengan moda angkutan udara perintis langsung dari Bandar udara Hasanudin, Makassar ke Bandar udara Padang di Pulau Selayar, hanya saja moda transportasi ini pada saat saya berkunjung tidak ada jadwal rutin per hari.

Pemerintah setempat sudah mempromosikan paket wisata bahari yang tidak kalah dengan gugusan terumbu karang di bunaken, yaitu wilayah Takabonerate, sangat diminati oleh wisatawan yang mempunyai hobby menyelam atau diving. Gugusan terumbu karang ini adalah yang terbesar di Indonesia, mempunyai luas 320,765 ha. Wisata Bahari lainnya yang bisa dikunjungi diantarnya Pantai Baloiya, Pantai Bone Tappalang, Pantai Pinang, Pantai Batang, Pantai Hara, dan Pantai Bonesialla.

Wisata sejarah yang dapat dikunjungi adalah peninggalan dari sebuah jangkar kapal raksasa, dari saudagar China yang pernah berkunjung di Selayar akhir abad XVI, terdapat di daerah Padang, pulau Selayar. Daerah ini juga sebagai salah satu daerah asimilasi dari keturunan orang china dan penduduk setempat. Terdapat juga wisata alam melihat salah satu hewan langka Tarsius , yang masih dapat ditemui di pesisir timur Pulau Selayar.

Suatu perjalanan yang tidak bisa saya lupakan, karena banyak sekali tempat indah yang saya nikmati. Tempat dimana saya bisa menikmati perbukitan, dan dibagian kaki bukit terdapat bentangan laut yang luas. Tempat yang cocok untuk para adventure dan pencinta diving. Lokasi menyelam yang perlu ditawarkan pada dunia. Pulau yang terkenal dengan berbagai hasil bumi seperti buah jeruk, paneli dan cengkeh, dan kaya akan ekosistem laut.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Pinisi, Riwayatmu Kini


Keterangan gambar: Gambar : Perahu modifikasi pinisi (?) tanpa layar, berdiri kokoh di musium samudera Melaka Malaysia


Pinisi, Riwayatmu Kini

Oleh : Nurtjahjadi

Kompasiana (http://umum.kompasiana.com/2009/03/11/pinisi-riwayatmu-kini-ngelmu-34/)
11 Maret 2009

Suku Bugis Makassar adalah salah satu pewaris bangsa bahari. Banyak bukti yang menunjukkan kepiawaian menguasai laut dengan layar. Perantauan mereka sudah terkenal abad2 lalu.

Ditemukannya komunitas orang Bugis Makassar di beberapa kota di Indonesia merupakan bukti perantauan mereka sejak dahulu. Mereka tidak hanya menguasai perairan wilayah nusantara, tetapi sejak beberapa abad lalu juga melanglang buana jauh melampaui batas-batas negara. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa sejak dulu pelaut Bugis Makassar telah sampai di Semenanjung Malaka, Singapura, Philipina, Australia Utara, Madagaskar dan sebagainya .

Dalam melakukan pelayaran ke berbagai penjuru Nusantara maupun negara lain, para pelaut Bugis Makassar menggunakan alat transportasi tradisional yaitu perahu. Perahu yang mereka gunakan itu ada beberapa jenis. Salah satu jenis yang digunakan dalam kurun waktu terakhir ialah perahu Pinisi. Perahu Pinisi telah digunakan oleh pelaut Bugis Makassar sejak ratusan tahun lalu.

Di luar Sulawesi selatan, dulu perahu Pinisi lebih dikenal sebagai perahu Bugis, Hal ini disebabkan karena yang menggunakannya kebanyakan orang Bugis atau setidaknya pandai berbahasa Bugis. Walaupun orang Bugis Makassar terkenal sebagai pelaut ulung dengan menggunakan perahu tradisional yang kokoh, tetapi ternyata perahu yang mereka gunakan tersebut dibuat oleh satu komunitas tukang perahu Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Kecamatan Bontobahari (Ara, Bira, Lemo-lemo/Tanahlemo), kondisi geografisnya berbeda dengan kecamatan lain di bagian utara dan bagian barat Kabupaten Bulukumba.

Di kecamatan ini sebagian besar tanahnya terdiri dari bukit kapur yang gersang dan hanya ditumbuhi padang rumput dan semak belukar. Sangat sedikit tanah yang dapat dijadikan lahan pertanian untuk menghidupi warganya. Itulah sebabnya kebanyakan penduduk daerah ini memilih pekerjaan di sektor kebaharian sebagai profesi mereka yaitu bertukang perahu dan pelaut.

Keahlian berlayar bagi orang Bugis Makassar telah dikenal sejak sekitar abad XVI. Dengan demikian berarti sejak waktu itu pula keahlian membuat perahu sudah berkembang. Penggunaan perahu di Sulawesi selatan telah berlangsung sejak dahulu.

Menurut beberapa sumber, perahu yang dipergunakan masyarakat pesisir ada beberapa jenis. Tetapi perlu diketahui pada umumnya perahu yang mereka gunakan adalah perahu kecil yang dipergunakan untuk menunjang aktifitas mereka sehari – hari.

Menurut legenda, perahu besar mulai dikenal di Sulawesi selatan sejak zaman Sawerigading seperti disebutkan di dalam Lontarak I lagaligo. Sawerigading adalah putra Raja Luwu yang diyakini pertama kali menggunakan perahu yang berukuran besar.

Konon perahu tersebut dibuat dengan kekuatan magis/ghaib di dalam perut bumi oleh neneknya yang bernama La Toge Langi (gelar Batara Guru). Karena melanggar sumpah, dalam suatu perjalanan perahu Sawerigading dihantam badai dan pecah ditelan gelombang. Kepingan-kepingan perahu tersebut hanyut dan terdampar di beberapa tempat di sekitar Tanjung Bira, Sebahagian besar badan perahunya terdampar dipantai Ara, sotting/Linggi perahu terdampar di Lemo-lemo sedangkan layar dan tali temalinya terdampar di Bira. Orang Ara mengumpulkan kepingan-kepingan perahu tersebut lalu menyusunnya kembali (nipuli paso’–direkonstruksi).

Selanjutnya mereka percaya bahwa dari hasil rakitan itulah nenek moyang mereka mendapatkan ilham dasar membuat perahu yang disusun dari lembaran–lembaran papan.

Mereka percaya konstruksi perahu sawerigading telah dibakukan oleh nenek moyang mereka yang selanjutnya menjadi pola dasar dari perahu yang terkenal yakni Pinisi.

Bagi orang Lemo-lemo (Tanahlemo) percaya pula bahwa keahlian membuat perahu yang mereka miliki bersumber dari penemuan bagian perahu Sawerigading. Demikian pula orang Bira, mereka percaya bahwa keahlian berlayar yang mereka miliki sejak dahulu diwarisi dari penemuan layar dan tali temali perahu Sawerigading.

Perahu pinisi sekarang tinggal kenangan. Kalau anak cucu ingin melihat kehebatan perahu pinisi, silahkan datang ke negara tetangga, Malaka, Malaysia. Di Indonesia sendiri adakah yang melestarikannya ? Perahu pinisi, riwayatmu kini…..
(dari berbagai sumber)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Kamis, 08 Juli 2010

Dari Ara, perahu Bugis menjelajahi dunia


Keterangan gambar: Kapal Pinisi (Beautiful Sulawesi)

Dari Ara, perahu Bugis menjelajahi dunia

Oleh: Ris Sukarma
Kompasiana, 17 Januari 2010
http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/17/dari-ara-perahu-bugis-menjelajahi-dunia/

Menyusuri pantai selatan pulau Sulawesi ke arah timur kita akan sampai ke Kelurahan Ara di Kabupaten Bulukumba. Desa kecil yang pernah saya kunjungi awal-awal tahun 1980-an itu adalah desa yang sederhana.

Ara adalah salah satu dari tiga desa di kabupaten Bulukumba yang, bersama-sama dengan Desa Tana Beru dan Lemo-lemo, terkenal karena kepandaiaan masyarakatnya dalam membuat perahu. Penduduk desa Ara, pada abad ke 14 Masehi, sudah bisa membuat perahu yang menjelajahi dunia.

Perahu pinisi yang dibuat masyarakat Bugis pada waktu itu sudah bisa berlajar sampai ke Madagaskar di Afrika, suatu perjalanan mengarungi samudera yang memerlukan tekad yang besar dan keberanian luar biasa. Ini membuktikan bahwa suku Bugis memiliki kemampuan membuat perahu yang mengagumkan, dan memiliki semangat bahari yang tinggi.

Pada saat yang sama Vasco da Gama baru memulai penjelajahan pertamanya pada tahun 1497 dalam upaya mencari rempah-rempah, dan menemukan benua-benua baru di timur, yang sebelumnya dirintis Marco Polo.

Berbeda dengan penjelajahan suku Bugis dengan perahu pinisinya, perjalanan Vasco da Gama dan Marco Polo tercatat dengan rapi dan rinci dalam berbagai literatur. Bahkan pada tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh penjelajah laut Eropa tersebut dibangun tugu peringatan yang masih dapat dilihat sampai sekarang. Misalnya monumen yang terletak di pantai Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika Selatan.

Meskipun catatan perjalanan suku Bugis di masa lampau tidak banyak ditemukan dalam berbagai literatur, tapi mereka meninggalkan monumen hidup yang lebih permanen, yaitu keturunan suku Bugis yang tersebar di berbagai tempat di tanah air, serta tempat-tempat jauh yang pernah didatangi para pelaut ulung jaman dulu sampai ke negeri China dan Afrika Selatan. Mereka tidak hanya singgah, tapi juga tinggal lama dan menghasilkan keturunan yang masih bisa ditemukan sampai sekarang.


Keterangan gambar: Miniatur kapal pinisi di pusat desa Ara (foto: Michael Kasten)

Menurut catatan dalam naskah Lontarak I Babad La Lagaligo (www.portalbugis.com) perahu pinisi sudah ada sekitar abad ke-14 M. Menurut naskah tersebut, perahu pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu.

Sawerigading membuat perahu tersebut untuk berlayar menuju negeri Tiongkok, hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Singkat cerita, Sawerigading berhasil memperistri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di Tiongkok, Sawerigading rindu kepada kampung halamannya. Dengan menggunakan perahunya yang dulu, ia berlayar ke Luwu. Namun, ketika perahunya akan memasuki pantai Luwu, tiba-tiba gelombang besar menghantam perahunya hingga pecah. Pecahan-pecahan perahunya terdampar ke 3 (tiga) tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu di Kelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo.

Oleh masyarakat dari ketiga kelurahan tersebut, bagian-bagian perahu itu kemudian dirakit kembali menjadi sebuah perahu yang megah dan dinamakan perahu pinisi. Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsen perahu pinisi, dimana para pengrajinnya tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu tersebut.

Pada abad modern sekarang ini, prestasi yang sudah dibuat perahu pinisi adalah berhasilnya perahu tersebut berlayar ke Vancouver, Kanada pada tahun 1986. Oleh karena kepiawaian para pengrajin tersebut, Kabupaten Bulukumba dijuluki sebagai Butta Panrita Lopi, yaitu bumi atau tanah para ahli pembuat perahu pinisi.

Penulis pernah tinggal satu setengah tahun di Makassar dan berinteraksi dengan suku Bugis. Di mata pendatang seperti saya, orang Bugis adalah orang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu, demi mempertahankan kehormatan (siriq), mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Jadi tidak heran apabila ada yang mencoba menyinggung perasaan orang Bugis, maka serentak akan mendapat protes keras. Namun demikian, di balik sifat keras itu, saya merasakan bahwa orang Bugis juga adalah orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi kesetiakawanannya.

Tetangga saya suku Bugis bahkan menjadi teman sampai sekarang. Orang Bugis memiliki berbagai ciri khas yang sangat menarik, yang diulas secara panjang lebar dalam artikel berikut ini.

Dalam sejarah kebangsaan kita, orang Bugis banyak menghasilkan manusia-manusia teladan, seperti pahlawan nasional Sultan Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur, juga Baharuddin Lopa dan M.Yusuf, pendekar hukum dan jenderal yang terkenal jujur dan lurus. Dan jangan lupa, mantan Presiden Habibie dan mantan Wapres Jusuf Kalla keduanya adalah orang Bugis.

Bugis adalah salah satu suku yang melengkapi dan memperkaya khazanah budaya nusantara. Semangat bahari suku Bugis membuktikan bahwa kita bukan bangsa yang lemah dan bisa didikte bangsa lain, sejarah sudah membuktikannya. Tapi janganlah kita terpukau oleh kejayaan masa lampau. Semangat petualangan bahari suku Bugis masa lalu hendaknya tetap dipelihara dalam konteks dunia modern sekarang sebagai semangat untuk maju dalam persaingan yang ketat dengan bangsa lain. Musuh bersama kita sekarang ini adalah kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Itulah tantangan kita bersama sebagai bangsa.

Salam Kompasiana


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Ekses Otda, Sukuisme Mengemuka Nasionalisme Merana (O’RiKe -2)*

Ekses Otda, Sukuisme Mengemuka Nasionalisme Merana (O’RiKe -2)*

Oleh: Pepih Nugraha

Harian Kompas, Jakarta
7 Februari 2009
http://umum.kompasiana.com/2009/02/07/ekses-otda-sukuisme-mengemuka-nasionalisme-merana-orike-2/

BUKAN bermaksud mengagung-agungkan sistem pemerintahan orde baru yang sentralistis. Tidak juga ingin mengatakan bahwa sentralistis lebih baik. Tetapi saya sekedar mamaparkan berbagai persoalan dari ekses buruk penerapan otonomi daerah (otda).

Ekses baiknya tentu saja ada dan bahkan banyak, tetapi ekses buruk ini harus menjadi perhatian kita bersama sebagai warga karena bersinggungan langsung dengan persoalan nasionalisme dan kebangsaan, meski dalam skala kecil dan mungkin tidak penting.

Sewaktu bertugas di Makassar, sekitar tahun 2003, ada persoalan serius di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Bulukumba. Persoalan yang sebelumnya tidak pernah mengemuka, yakni persoalan proses penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) yang dianggap tidak transparan. Tahu sendirilah, menjadi PNS pada sebagian besar masyarakat Indonesia adalah cita-cita dan bahkan harapan.

Ada banyak faktor mengapa menjadi PNS menjadi demikian diminati meskipun gajinya relatif kecil. Faktor mendapat pensiun, adanya jaminan hari tua, jam kerja yang lentur dan bisa diatur, serta bisa nyambi kerja lain, hanyala beberapa pertimbangan mengapa seseorang ingin menjadi PNS.

Di Bulukumba, waktu tempuh empat jam dari Makassar, sekan-akan menjadi cermin pertama ekses buruk dari penerapan otonomi daerah. Waktu itu DPRD dan bupati mendapat protes warga yang datang bergelombang silih berganti. Alasannya serius: terjadi kolusi, korupsi dan nepotisme dalam proses penerimaan PNS.

Warga yang cermat mengamati, dari sekitar seratusan jatah PNS untuk kabupaten itu, tidak ada seorang pun warga biasa yang tersaring menjadi PNS. Mereka yang menjadi PNS adalah anak-anak dan kerabat bupati, anak dan kerabat para pejabat tinggi di kabupaten itu, dan ini…. anak dan kerabat anggota DPRD!

Sekali lagi, saya tidak mengagung-agungkan sistem pemerintahan Orba di bawah kendali Soeharto. Setidak-tidaknya pada zaman Soeharto, ketika penerimaan PNS masih tersentral dan tidak diserahkan ke masing-masing kabupaten dan kota, tidak pernah muncul protes dugaan KKN dalam penerimaan PNS ini. Dulu digunakan merit system, dimana hanya mereka yang bisa lolos seleksi saja yang bisa menjadi PNS, tidak peduli dari daerah atau kabupaten/kota mana dia berasal. Tidak perlu tahu sukunya apa, agamanya apa, kecenderungan partai politiknhya kemana. Tidak perlu. Semua dilakukan secara transparan dan penuh semangat berkompetesi.

Tidak bisa dipungkiri. Ada juga KKN dalam penerimaan PNS di masa orba. Ada istilah titip-titipan dan jalan belakang. Tapi itu dilakukan tidak merusak proporsi. Bagian terbesar tetap jatah untuk publik. Sekarang dengan fenomena yang muncul di Bulukumba, nyatalah bahwa yang cawe-cawe dan minta jatah PNS itu ternyata anggota Dewan!

Jelaslah, tidak mungkin jatah itu hanya diberikan pada satu anggota Dewan. Semua ya harus dapat jatah, bukan begitu? Jadi kalau kabupaten/kota terisi 45 anggota Dewan dan di provinsi 100 anggota (belum lagi di pusat yang 550), bisa kita bayangkan jatah PNS itu jatuh pada kerabat dekat anggota Dewan. Jika dulu yang melakukan KKN itu eksekutif, sekarang ditambah dengan legislatif. Anda mungkin bertanya, apakah para pejabat yudikatif di kehakiman dan kejaksaan tidak minta jatah pula? Saya tidak bisa menjawab. Yang jelas, kasus penerimaan PNS di Bulukumba beberapa tahun lalu itu menjadi contoh kasus yang amat terang benderang dari ekses buruk berpindahnya kekuasaan di tangan daerah.

Apa yang terjadi dalam penerimaan PNS di beberapa kabupaten sekarang? Lebih memilukan lagi, ternyata para pentolan parpol setempat juga cawe-cawe, minimal jadi broker PNS. Motifnya sederhana. Kepada seseorang yang jelas-jelas dinyatakan lolos penerimaan PNS, didekati dan diminta menyerahkan uang Rp 50 juta. Ini kejadian di kabupaten saya sendiri, Tasikmalaya, yang kebetulan menimpa kenalan saya.

Mengapa harus menyerahkan uang? Bukankah sudah ada pengumumannya di Koran sudah diterima? Jawabannya: “Tidak akan ada pengangkatan kalau Rp 50 juta belum turun!” Siapa yang meminta uang itu? Tidak lain dari calo parpol, broker politik di lingkungan kabupaten dan DPRD. Hemmmm… di sini bolehlah saya mengurut dada, menyesakkan!

Belum lama saya berbincang-bincang dengan seseorang yang bergerak di bidang charity dan bersedia membocorkan “kebijakan intern” yang diterapkan oleh satu kabupaten (tidak usah saya sebut nama kabupaten itu, tetapi mungkin terjadi di banyak kabupaten lainnya ) dalam penerimaan PNS. Kebijakan intern itu menekankan: semua PNS harus “putra daerah” kabupaten itu! Kabupaten tetangga atau kabupaten yang jauh, jangan harap bisa menjadi PNS di kabupaten itu. Parahnya, kebijakan intern itu merembet ke soal-soal lainnya, yakni para teknokrat di level kabupaten juga harus putra daerah. Masa Allah!

Bagi saya, dalam skala kecil PNS itu “simbol” negara yang seharusnya dikelola oleh pusat, jangan menjadi bancakan para pejabat dan legislator daerah. Eksesnya terlalu banyak dan sudah sampai taraf memuakkan. Iya kalau yang menjadi PNS itu putra daerah yang berkualitas. Kalau dipaksakan dan hanya terisi oleh orang-orang kurang cakap tetapi bernasib baik karena dekat dengan para pemangku kebijakan, apa yang bisa diharap dari SDM daerah macam itu?

Akhirnya saya mengambil kesimpulan tergesa-gesa, ada persoalan kebangsaan dan nasionalisme yang tergerus dari penerapan Otda ini, dimana warga negara dbenturkan dengan istilah “putra daerah” dan “pendatang”. Dimana pikir dan tindak kebangsaan kalau semua pejabat daerah mendikotomikan “putra daerah” dan “bukan putra daerah”? (Bersambung)

O’RiKe = Obrolan RIngan KEbangsaan



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Dari Tanaberu hingga ke Ujung Dunia


Keterangan gambar : Kapal pinisi yang siap dikirim ke Singapura buatan perajin di Tanaberu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Senin (16/11). Bulukumba adalah salah satu sentra pembuatan kapal pinisi yang terkenal di seluruh dunia. Beberapa negara di Eropa, Amerika, hingga Afrika juga memesan perahu di Bulukumba. (foto: lucky pransiska/kompas)

Harian Kompas, Jakarta
Selasa, 17 November 2009
http://regional.kompas.com/read/2009/11/17/07261610/Dari.Tanaberu.hingga.ke.Ujung.Dunia

Dari Tanaberu hingga ke Ujung Dunia

Oleh: Iwan Santosa dan Lucky Pransiska

KOMPAS.com - Dentaman palu, hantaman kapak, dan suara pasak menancap di kayu besi terdengar di sepanjang Pantai Tanaberu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Senin (16/11) pagi. Deretan kapal pinisi dan kapal kayu setengah jadi terhampar di batilang, galangan tradisional beratap rumbia.

Kami membuat kapal sendiri, lalu dijual atau berdasarkan pesanan. Kapal buatan Tanaberu dipakai berlayar melintasi Samudra Pasifik sampai ke Vancouver, Kanada, perairan Atlantik di Eropa,” kata Bachri (35), putra Tanaberu.

Saat ditemui, Bachri sedang mengerjakan pinisi berukuran lebih dari 100 ton. Kapal sudah setahun lebih dikerjakan di batilang milik ayahnya, Jafar (73).

Jafar adalah empu pembuat kapal di Tanaberu yang pernah membuat Pinisi Nusantara. Ia adalah satu dari beberapa pandita lopi, sebutan untuk ahli pembuat kapal dalam bahasa setempat.

Pandita lopi adalah tokoh adat yang memberi berkah dan memimpin upacara tradisional untuk setiap kapal yang dibuat di Tanaberu. Sesaji emas murni dan beberapa benda keramat ditanam di lunas kapal sebagai perlambang perkawinan kayu jantan dan betina yang dijadikan lunas kapal. Itu diyakini membuat kapal berhasil dalam pelayaran.

Kebijakan lokal seperti larangan menyambung kapal di mata kayu membuat kapal-kapal buatan Tanaberu dikenal kuat dan kokoh.

Penjelasan ilmiahnya, ujar Ridwan Alimuddin, aktivis Lembaga Perahu, mata kayu adalah bagian yang rapuh untuk dijadikan sambungan kapal.

”Ada banyak pemali dalam pembuatan kapal tradisional di Tanaberu. Pemali yang ada sebetulnya bisa dijelaskan secara ilmiah, seperti pantangan membuat sambungan pada bagian batang yang memiliki mata,” kata Ridwan, yang beberapa kali berlayar bersama orang asing di atas kapal buatan Tanaberu.

Nilai tradisional pembuatan kapal di Tanaberu setidaknya membuat warga setempat mendapat pesanan tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga mancanegara.

Satu pinisi warna coklat tua, misalnya, Senin, sudah diluncurkan dari galangan kering (dry dock) dan dikandaskan di laut dangkal. ”Itu kapal pesanan orang Singapura, untuk wisata sekitar Singapura-Malaysia. Ada 12 kamar untuk penumpang. Banyak kapal buatan Tanaberu dipesan orang asing,” kata Rian (22), putra Tanaberu yang kuliah pelayaran di Makassar.

Rian bertekad pulang kampung seusai kuliah untuk melanjutkan bisnis kapal tradisional.

Siang itu, Rian sedang menjumpai belasan warga yang memperbaiki kapal pinisi bernama Sampai Jumpa. Kapal berukuran 70 ton itu milik seorang pria Belanda yang tinggal di Thailand. Sampai Jumpa digunakan untuk berlayar di perairan Teluk Thailand.

Tanpa sketsa, apalagi desain komputer, pria-pria Tanaberu tekun membangun kapal kayu berkualitas dunia. ”Beberapa tahun lalu orang Australia juga pesan kapal di sini untuk berlayar dari Sulawesi Selatan ke Marega (istilah Bugis/Makassar untuk Tanah Australia). Kapal itu selanjutnya disimpan di museum di Australia,” ujar Bachri.

Replika kapal dari relief Candi Borobudur turut dibuat di Tanaberu. Kapal yang berlayar hingga Ghana di pantai barat Afrika itu mengukuhkan tradisi bahariwan Nusantara. Satu pinisi buatan Tanaberu yang akan dibawa ke Eropa juga sedang ditambatkan di Tanjung Bira.

Kapal-kapal Tanaberu dibuat menggunakan campuran kayu biti dan kayu besi (sejenis ulin) yang didatangkan dari Sulawesi Tenggara atau Kalimantan. Kulit kayu asal Kalimantan digunakan sebagai pelapis sambungan kayu untuk mencegah kebocoran.

Harga kapal kayu buatan Tanaberu bervariasi. Kapal berukuran 40 ton, misalnya, sekitar Rp 150 juta, seperti yang sedang dikerjakan Safrudin (35), tak jauh dari batilang milik Bachri. Sementara kapal berukuran di atas 100 ton sekitar Rp 4 miliar.

Kapal buatan Tanaberu dirancang sesuai pesanan, seperti dari nelayan Flores, Nusa Tenggara Timur. Kapal itu dilengkapi dengan tempat duduk tambahan di anjungan untuk memancing ikan laut dalam.

Namun, perajin saat ini sulit mendapatkan baku kayu. ”Alasannya, pemerintah memberantas illegal logging (penebangan liar),” kata Bachri.

Sri, pedagang bakso asal Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, membenarkan ucapan Bachri. ”Kalau usaha kapal lagi ramai, warung bakso tidak bakal sepi,” katanya.

Persinggahan pertama

Desa Tanaberu adalah persinggahan pertama Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara ke arah timur kepulauan Indonesia. Tim berangkat dari Pantai Losari di Makassar, 15 November lalu sekitar pukul 12.00, dilepas Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.

Sekitar pukul 19.00, kapal yang dinakhodai Hidayat (63), putra Tanjung Bira, melintasi pesisir Takalar, membelok ke arah Tanaberu, sebelum mencapai ujung timur daratan Sulawesi Selatan di Tanjung Bira.

Perjalanan dilanjutkan Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara, Senin malam, menuju selatan Pulau Selayar. Diperkirakan tim tiba hari Selasa pagi ini di Pulau Selayar.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Selasa, 06 Juli 2010

Dewan Setuju Lepas Aset PDAM



Dewan Setuju Lepas Aset PDAM

Harian Fajar, Makassar
Rabu, 7 Juli 2010
http://www.fajar.co.id/koran/1278425449FAJAR.MET_7_24.pdf

BULUKUMBA — DPRD Bulukumba sepakat melepas aset milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulukumba. Aset tersebut adalah tanah dan gedung Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bulukumba.

Legislatif telah membentuk panitia khusus (Pansus) dan telah melakukan komunikasi dengan eksekutif. Ketua DPRD Bulukumba, Edy Manaf mengatakan, pada prinsipnya dewan sepakat melepas aset tersebut menjadi kantor Bank Sulsel Bulukumba.

Ketua PAN Bulukumba ini menjelaskan, keberadaan Bank Sulsel yang representatif akan memberi efek positif terhadap pembangunan di daerah berjuluk Bumi Panrita Lopi ini.

“Kita setuju melepas aset itu, karena itu untuk kepentingan pembangunan di daerah ini,” kata Edy Manaf, kemarin.

Hanya, kata Edy, butuh pengkajian agar tidak terbentur persoalan hukum di kemudian hari. Dia berharap, pelepasan aset ini bisa dilakukan dengan hati-hati dengan memperhatikan prosedur pengalihan aset pemerintah.

“Jangan sampai terbentur masalah hukum,” ujarnya.

Dewan juga telah melakukan rapat koordinasi dengan eksekutif untuk membicarakan persoalan ini. Langkah-langkah yang akan diambil sebelum aset ini dilepas, termasuk nilai jual aset yang terletak di jantung kota kabupaten ini.

Edy mencontohkan, nilai jual yang ditawarkan pemkab lebih rendah dibanding taksiran harga dari Bank Sulsel sendiri. (syr)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Tahun Ini, SMAN 2 Bulukumpa Punya Gedung



Siswa SMAN 2 Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, bisa bernapas lega. Selama dua tahun terakhir, siswa sekolah tersebut menumpang di SDN 80 Bulukumpa. Pemerintah pusat akan segera membangun ruang kelas baru untuk SMA Negeri 2 Bulukumpa.(Foto: Tribun Timur/Syamsul Bahri)

Tahun Ini, SMAN 2 Bulukumpa Punya Gedung
- Dua Tahun Menumpang di Rumah Pegawai 

Harian Fajar, Makassar, Rabu, 7 Juli 2010
http://www.fajar.co.id/koran/1278425449FAJAR.MET_7_24.pdf



BULUKUMBA — Siswa SMAN 2 Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, bisa bernapas lega. Selama dua tahun terakhir, siswa sekolah tersebut menumpang di SDN 80 Bulukumpa.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bulukumba, Akbar Amier mengatakan, pemerintah pusat akan segera membangun ruang kelas baru untuk SMA Negeri 2 Bulukumpa.

Lokasi pembangunan tidak jauh dari SDN 80 Bulukumpa. Lokasi pembangunan sekolah ini adalah tanah yang dihibahkan seorang warga.

Dia mengatakan, beberapa bulan ke depan dalam tahun ini pembangunan akan dilaksanakan. Bahkan, ditargetkan rampung akhir tahun ini.

“Kita berharap 2011 sudah bisa digunakan gedungnya,” kata Akbar Amier saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 16 Juli 2010.

Dia menuturkan, tim dari kementerian pendidikan sudah melakukan peninjauan dan berjanji akan melakukan pembangunan. Dia meminta kepada pihak sekolah bersabar karena telah dijanji tahun ini akan dibangun
ruang kelas.

“Nanti kan akan bertahap pembangunannya. Untuk tahap pertama ini ada enam ruang kelas yang akan dibangun untuk SMA 2 Bulukumpa,” ujarnya. (syr)

Belajar di Rumah Pegawai

Bulukumba, Tribun - Siswa-siswi SMAN 2 Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, hingga sekarang menumpang belajar di SD 80 Dusun Tujua, Desa Salassae, Bulukumpa, karena tidak memiliki gedung sendiri. Sekolah ini dibuka tahun 2008 lalu.
 
Selain itu, pihak SMAN 2 Bulukumpa juga meminjam bangunan bekas rumah pegawai SD 80 Dusun Tujua yang diubah menjadi ruang kelas. Bangunan rumah yang diubah menjadi ruang kelas itu tidak layak pakai. Pasalnya, lantainya berlobang, atap bocor, dan dinding mulai retak. Saat musim hujan, air kadang-kadang masuk ruangan, sehingga mengganggu proses belajar-mengajar.
  
"Gedung yang kami tempati selama setahun lebih ini milik SDN 80 Dusun Tujua," kata Kepala SMAN 2 Bulukumpa, M Alwi, Selasa (18/5/2010), ketika Tribun berkunjung ke sana.
 
Alwi mengatakan, tidak tahu kenapa pemerintah tidak mendirikan gedung sekolah untuk SMAN 2 Bulukumpa. Padahal, mereka sudah pernah menyampaikan kondisi itu.
 
"Kami telah bermohon sejak awal berdirinya sekolah ini tahun 2008 lalu ke Pemkab Bulukumba dan pemerintah pusat," kata Alwi.
 
Ia menambahkan, salah satu guru di sekolah itu baru saja diutus ke Jakarta mengurus permohonan dana untuk pengadaan gedung. Tapi, belum ada hasilnya. Alwi menjelaskan, pihak sekolah sudah beberapa kali ke Pemkab Bulukumba, Kota Makassar, hingga Jakarta untuk mengurus proposal pembangunan gedung.
Ia memprediksi, butuh ratusan juta rupiah untuk membangun gedung sekolah. Tahun lalu, Pemkab Bulukumba sudah memberikan lahan satu hektare untuk gedung sekolah ini di Salassae. (cr5)

Punya 120 Siswa

SMAN 2 Bulukumpa dibuka tahun 2008. Saat ini, sekolah yang berjarak sekitar 30 kilometer itu memiliki 120 siswa yang terdiri atas siswa kelas satu dan dua. Ketika pertama kali dibuka, SMAN 2 Bulukumpa meminjam gedung SDN 244 Desa Salassae. Saat itu, siswanya baru berjumlah 70 orang.
 
Tahun berikutnya, jumlah siswa bertambah. Kelas pun menjadi dua, yakni kelas satu dan kelas dua. Ruangan SDN 244 Salassae tidak mampu lagi menampung seluruh siswa. Karena itu, SMAN 2 Bulukumpa kemudian meminjam dua ruang kelas dan satu rumah  bekas pegawai SDN 80 Dusun Tujua. Karena menumpang, mereka tidak memiliki kantor, ruangan guru, dan kamar kecil. 
 
"Belum ada kantor, ruangan guru, dan kamar kecil. Kami hanya bisa duduk di luar ruangan saja, sambil menunggu pergantian jam pelajaran," kata salah seorang guru.
 
Siswa sekolah ini berasal dari Desa Bulo-bulo, Jojjolo, Bonto Mangiring, dan Sampeang. Ada pula dari Kecamatan Rilau Ale dan Kajang. Belum diperoleh tanggapan dari Kadis Pemuda dan Olahraga Bulukumba, A Akbar Amier. (cr5)
 
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Oknum Anggota Dewan Dilapor ke Kejari

Oknum Anggota Dewan Dilapor ke Kejari

Harian Fajar, Makassar
Rabu, 7 Juli 2010
http://www.fajar.co.id/koran/1278425449FAJAR.MET_7_24.pdf

BULUKUMBA — Anggota DPRD Bulukumba, Andi Baso Zulkarnain dilapor ke kejaksaan setempat dengan dugaan penipuan. Hal itu dilaporkan Baharuddin bersama tiga warga lainnya, Selasa 6 Juli.
Dalam laporannya, Baharuddin mengatakan, warga menyetor uang tabungan sebesar Rp 750 ribu untuk menjadi anggota koperasi sebagai persyaratanmendapatkan bantuan bedah rumah. Koperasi yang ditunjuk untuk menyimpan uang adalah Koperasi Serba Usaha Lestari diketuai oleh terlapor.

Tak pelak, warga merasa tertipu karena setelah menyetor uang, tapi bedah rumah tak kunjung dilakukan. Setiap anggota koperasi menyetor uang Rp 750 sejak tahun lalu. Tapi, bedah rumah senilai Rp 18 juta itu tak kunjung dilaksanakan.

Baharuddin mengaku telah dua kali dijanji, yakni April dan Mei tahun lalu. Kepala Kejari Bulukumba, Raden Sjamsul Arifin membenarkan adanya seorang oknum anggota dewan yang dilapor dugaan penipuan. Dia mengaku masih akan meneliti laporan dari warga tersebut untuk mengetahui ada tidaknya unsur penipuan.

Andi Baso Zulkarnain yang dikonfirmasi Fajar membantah telah menipu warga yang menyetor tabungan anggota koperasi.

Dia menjelaskan, tidingan Baharuddin dan tiga warga lainnya itu tidak berdasar. Dia mengakui, memang ada program pemerintah pusat tentang bedah rumah, namun dananya belum cair. Bukan hanya di Bulukumba, bedah rumah ini juga dilakukan di daerah lainnya.

Soal tabungan Rp 750 ribu, kata dia, adalah salah satu prosedur untuk mendapatkan bantuan tersebut. Setiap warga yang diusulkan bedah rumah harus memiliki tabungan koperasi. Dinas Koperasi setempat memang menunjuk koperasi yang diketuai anggota dewan ini.

“Belum ada yang cair, saya juga dijanji bulan Oktober,” katanya, kemarin.

Sesuai buku panduan, lanjut dia, Rp 9 juta disubsidi oleh pemerintah, selebihnya Rp 9 juta dalam bentuk pinjaman. Jadi, totalnya Rp 18 juta. Ia mengaku heran dengan adanya warga yang melaporkan peristiwa ini.

Menurutnya, hal ini bukan penipuan karena layaknya anggota koperasi memang menyetor tabungan.

“Saya siap kembalikan uangnya kalau diminta. Kenapa dilapor penipuan,” sesalnya. (syr)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Humas, UU KIP, dan Bahasa



Di satu sisi, Humas diberi tugas dan tanggung-jawab yang cukup besar, mulai dari menyediakan informasi publik, memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang kegiatan instansi, hingga menciptakan citra positif instansi dan ”menangkis” berbagai ”serangan” informasi yang dapat merusak citra instansi. Di sisi lain, humas tidak diberi kewenangan yang proporsional dan seringkali tidak dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Asking about Bulukumba


Rabu, 30 September 2009, saya menerima surat elektronik (email) dari seseorang bernama Reiner Lesprenger, dari Berlin, Jerman. Dia mengaku menemukan blog yang saya kelola yakni http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.

--------------------


Asking about Bulukumba

Rabu, 30 September 2009, saya menerima surat elektronik (email) dari seseorang bernama Reiner Lesprenger, dari Berlin, Jerman. Dia mengaku menemukan blog yang saya kelola yakni http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.

Mr. Reiner mengaku akan membuat film dokumenter untuk stasiun televisi SDF di Jerman (www.sdf.de), antara lain tentang Desa Padang di Bulukumba, yang melaksanakan uji coba penerapan Perda Syariat Islam.

Berikut isi suratnya;

''Hello Mr. Aminudin,

I am Reiner Sprenger from Berlin, Germany and i found Your Blog about Bulukumba in sulawesi selatan.

Now i am ordered by the german TV-Station ZDF (www.zdf.de) to organize a shooting for a TV-documentary at Desa Padang Bulukumba for two days. I saw that you worked as a journalist and so i thought i could ask you.

I have been to Makassar in 2007, but i never have come to bulukumba.

I want to ask you a few things and would be happy if you could help.

1. Could you tell, how long a car-drive will take from makassar to Desa Padang near Bulukumba?

2. Is there probably any hotel or accomodation near Desa padang that the team can use? Or do You think it is better to stay in Bulukumba. How far is Bulukumba from Desa Padang?

So thankfull for Your answer, regards,

Reiner


Suratnya kemudian saya balas, dan selanjutnya ia sekali lagi membalas surat saya dengan mengatakan akan ada seseorang yang segera menghubungi saya untuk melaksanakan programnya.

Tak lama kemudian, saya menerima email dari seorang bernama Ilham D. Sannang. Ia seorang editor pada Penerbit Mizan, Bandung. Dia mengatakan, pihaknya sedang mencari alamat kontak Bapak Andi Rukman, kepala desa Padang - Bulukumba.

''Ketika sedang mencari-cari via internet, kami bertemu blog http://kabupatenbulukumba.blogspot.com, yang Bapak asuh, dan juga menemukan beberapa artikel tentang desa Padang. Bisakah Bapak membantu memberitahu alamat kantor beliau dan nomor kontaknya? Kami ada rencana melakukan peliputan ke sana. Terima kasih banyak atas bantuan Bapak. wassalam, Ilham D. Sannang.''

Karena waktu itu saya tidak tahu bahwa Pak Ilham ini adalah rekan kerja Mr. Reiner, saya pun menjelaskan bahwa sebelumnya sudah ada orang yang mengirim email dengan tujuan yang hampir sama. Namanya Mr. Reiner dari Jerman. Pak Ilham kemudian menjelaskan bahwa dirinya bekerja membantu Mr. Reiner.

Berikut isi suratnya;

Terimakasih banyak Pak Asnawin atas jawaban dan bantuannya. wah, saya justru sedang membantu Mr Reiner itu, karena dia juga minta bantuan saya. Insya Allah saya ikut dalam rombongan Jerman itu berkunjung ke Makassar pada 7-10 November. Saya mewakili Mizan insya Allah pada 8 Nov akan melakukan bedah buku terbaru kami, Ensiklopedi Muhammad (10 jilid) karya Afzalurrahman http://www.facebook.com/pages/Ensiklopedi-Muhammad/112723217477.

Pembicara lainnya adalah Fuad Rumi (kolumnis, dosen UMI) dan ibu Amrah Kasim (dir pesntr Immim doktor lulusan al-Azhar kairo). Mungkin kenal?

Tim Jerman itu akan melakukan syuting dokumenter tentang ragam Profil Islam di Indonesia. mulai dari aspek politik (wawancara dengan Amien Rais), budaya kreatif (fashion show jilbab, musik, film, dan industri penerbitan-- yg diwakili Mizan).

jadi, acara bedah buku Mizan itu insya Allah akan diliput oleh mereka. nah, aspek syariat juga ingin ditampilkan, dalam hal ini desa Padang dipilih karena menjadi desa percontohan pelaksanaan syariat. mereka ingin wawancara dengan Kadesnya, setelah membaca berita tentang desa ini di media massa Jerman.

sy tertarik memenuhi undangan mereka karena misi mereka yang ingin menampilkan wajah Islam yang warna-warni di negeri kita. tidak monolit seperti yg selama ini ditampilkan media di Barat (yg cenderung hanya memfokuskan pada berita jelek: bom, perang, dsb). mudah2an membangun hubungan komunikasi yg lebih akrab antar dua bangsa ini, sekaligus memperkenalkan publik Jerman dengan alam dan pantai indah di Makassar dan Bulukumba. siapa tahu merangsang pariwisata tanah air dengan lebih banyak. tak kenal maka tak sayang kan?

Mas Hernowo rutin mengasuh rubrik Plong di situs www.mizan.com Pak. Beliau juga penanggung jawab situs itu. terima kasih banyak atas bantuan Bapak. no hp sy 0813 10983xxx, telp 021-75910xxx
wassalamu'alaikum
ilham


Saya kembali membalas suratnya dan menyarankan agar mereka juga melakukan wawancara dengan Andi Patabai Pabokori, mantan Bupati Bulukumba yang merupakan penggagas Perda Syariat Islam di Bulukumba. Saya katakan, beliau tahu dan bisa menjelaskan banyak hal tentang Desa Padang dan penerapan Perda Syariat Islam di Bulukumba. Beliau sekarang Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Saya sudah sampaikan dan beliau siap membantu. Nomor kontak beliau 0815252xxxx.

Pak Ilham lalu membalas dengan mengatakan, terimakasih banyak atas bantuan saya dan rekomendasi saya untuk Bpk Andi Pabatai Pabokori.

''Informasi yg penting ini akan saya sampaikan kpd tim Jerman itu,'' katanya.

Setelah kurang lebih sebulan tidak ada komunikasi, Pak Ilham kemudian mengirim email dengan mengatakan, dirinya minta maaf karena baru teringat memberi kabar.

Dia mengatakan syuting berjalan lancar sebulan yang lalu.

''Kami berhasil menemui Pak Andi Rukman di desa Padang. beritanya dimuat di HU Republika (dan saya lihat, juga dimuat di blog Bapak).

Pak Andi Pabokori sempat menjawab sms sy satu kali, tapi setelah itu sayang tidak ada berita lagi dari beliau. Jadi beliau tidak ikut diwawancara. Mohon maaf tidak sempat mampir menemui Bapak di kantor kopertis, berhubung jadwal yg padat waktu itu.

Terimakasih banyak atas bantuan dan perhatian Bapak,

Ilham

(NB: Republika salah lapor bahwa ada pemberlakuan hukum cambuk bagi anak kecil di desa Padang. yg benar, seorang bapak dihukum cambuk karena memukul anak kecil. sy sudah kirim koreksi surat pembaca dan sudah dimuat Republika).



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]