Senin, 04 Oktober 2010

Kapal Phinisi Pertama Dikirim ke Papua


Beginilah suasana upacara ritual penurunan kapal laut atau perahu phinisi dari tempat pembuatannya ke laut yang biasanya dihadiri ratusan orang warga setempat. Mereka tidak hanya menjadi penonton, melainkan turut membantu. Suasana gembira selalu mewarnai setiap acara ritual penurunan kapal laut atau perahu ke laut. (foto: ANTARA/Yusran Uccang)

Zaidin Dilantik Sebelum 19 Oktober


Zainuddin Hasan



Zaidin Dilantik Sebelum 19 Oktober

Harian Fajar, Makassar
http://news.fajar.co.id/read/106524/92/zaidin-dilantik-sebelum-19-oktober
Senin, 4 Oktober 2010

MAKASSAR -- Tahapan pelantikan Zainuddin Hasan-Syamsuddin (Zaidin) sebagai bupati dan wakil bupati Bulukumba mulai berproses pasca-terbitnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Pelantikan Zaidin dijadwalkan sebelum hari jadi Sulsel ke-341 tahun, 19 Oktober.

Jadwal pelantikannya sendiri masih berproses di DPRD Bulukumba dan selanjutnya diajukan ke Pemprov Sulsel dan Kementerian Dalam Negeri. Setelah SK pelantikan mendapat persetujuan Menteri Dalam Negeri, Zaidin telah dapat dilantik menjadi bupati definitif Bulukumba menggantikan duet Sukri Sappewali-Padasi.

Jumat, 1 Oktober, Zainuddin menemui khusus Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Sulsel. Mereka melakukan pembicaraan yang berlangsung tertutup sekitar setengah jam.

Ditemui usai bertemu gubernur pukul 12.00 wita, Zainuddin mengaku belum ada jadwal pelantikan yang ditetapkan tapi sudah berproses.

"Kami mengikuti saja tahapannya. Tapi pelantikan direncanakan sebelum hari jadi Sulsel," bebernya.

Mantan Bupati Pohuwato, Gorontalo itu mengaku setelah pelantikan semua masalah politik pemilukada juga usai. Semua komponen masyarakat akan dirangkulnya, termasuk pesaingnya pada Pemilukada, Andi Sukri Sappewali dan simpatisannya.

Ruang komunikasi dengan seluruh masyarakat juga akan dibukanya, sehingga semua ikut terlibat memajukan Bulukumba. Apalagi, pengusaha yang membeli properti di Makassar jelang pemilukada itu menginginkan Bulukumba menjadi pusat berbagai aktivitas di daerah selatan Sulsel.

"Tak boleh lagi ada dendam setelah pelaksanaan pemilukada. Kami siap merangkul semua kubu dan itu sudah kita lakukan. Semua perbedaan kita selesaikan. Pemilihan sudah usai, kita bersatu kembali," tuturnya.

Menurutnya, banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan bersama-sama untuk membawa perubahan Bulukumba menjadi lebih sehingga dapat mensejahterakan masyarakat. Setelah dilantik, Zainuddin mengaku segera merancang program pembangunan Bulukumba jangka pendek, menengah, dan panjang.

Program pembangunan yang akan segera direalisasikannya di antaranya infrastruktur, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

"Potensi investasi Bulukumba sangat luar biasa," katanya.

Dia mengaku memiliki cukup banyak relasi dari luar Bulukumba yang dapat diajak berinvestasi dan membangun daerah yang akan dipimpinnya itu. Investasi yang memiliki potensi besar untuk dimajukan di Bumi Panrita Lopi di antaranya, agribisnis dan pariwisata.

Terkait kebiasaan pemerintahan Bulukumba yang selalu mulur pengesahan APBD setiap tahun, Zainuddin berjanji kondisi seperti itu tidak akan terjadi di masa pemerintahannya. Seluruh anggota DPRD Bulukumba diajaknya menciptakan suasana politik yang kondusif, sehingga pengesahan APBD tepat waktu.

"Desember sudah harus ketuk palu," tegasnya. (rif-arm)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Minggu, 03 Oktober 2010

Masa Depan Kelompok Ilmiah Remaja di Bulukumba

Masa Depan Kelompok Ilmiah Remaja di Bulukumba
-- Kekayaan di Antara Kemiskinan Kita


Oleh : Andi Nasrum

Sejak pembinaan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Bulukumba dibentuk tahun 2006, telah bermunculan sederetan bintang bersinar dari Butta Panrita Lopi.

Di tingkat SMA, ada Sulfahri. Salah satu hasil godokan PIR Regional Satu Bulukumba itu berhasil mengibarkan bendera di Jakarta dan India. Selain itu, ada Nur Fitrat Alamsyah Cs, pada Lomba RISTEK Kementerian Riset dan Teknologi dengan konsep Press n toolsnya.

Di Tingkat SMP, bidang pangan atas nama Syamsul Rahmat pada Young Innovator Award di Menado.

Anak-anak di tingkat SD pun tak mau kalah. Insang Ikan sebagai Keripik menjadikan Dian Amaliah Sari cs, sebagai wakil dari Sulawesi Selatan ke Manado, Sulawesi Utara, dalam ajang lomba Young Innovator Awards tanggal 12-14 Mei 2009.

Juga ada Mawaddah Sekar Rahmawati, satu-satunya pelajar SD yang bersaing di antara anak SMP dan SMA, mengantar dia ke Jakarta. Itu hanya contoh kecil yang penulis sempat ingat.

Schumaker dalam bukunya “Small is Beautiful” pernah mengatakan bahwa orang yang berjiwa besar adalah mereka yang mampu mengendalikan emosinya dalam keadaan tidak menentu.

Faktor emosi ternyata salah satu penentu dalam suatu ajang kompetisi. Emosi adalah virus indikator check and balance dalam ketidakpastian.

Nama-nama yang berhasil mengolah efek emosional adalah embrio Peneliti Muda yang lahir dari Bukit SKB dan sinarnya telah menjadi pelita bagi pewaris peneliti di Bumi Panrita Lopi.

Empat tahun pembinaan KIR berjalan, KIR Bulukumba telah menorehkan penghargaan tingkat nasional, mulai dari Lomba Bidang Inovasi, Lingkungan, Kimia, Pangan, sosial sampai lomba esai.

Namun semuanya boleh jadi hilang di Bumi Panrita Lopi jika situasi yang kurang kondusif sering terjadi. Pengalaman para pembina, baik ketika mendampingi siswa berprestasi pada lomba tingkat nasional, maupun pembina sendiri sebagai finalis, kurang mendapat respek dari penentu kebijakan di daerah ini. Terkadang Pembina harus merogoh uang saku sendiri untuk sampai ke tujuan. Suara hati agaknya kurang tersentuh dengan prestasi yang diraih oleh generasi Bukit SKB.

Terlepas dari rasa duka para insider KIR, ada baiknya pengalaman penulis dipaparkan ketika mengikuti Indonesian Science Project Olympiad mulai tanggal 2 sampai dengan 5 Maret di Balai Sarbini dan Balai Kartini Jakarta.

Olimpiade Proyek Sain ini telah membuka mata bahwa secara jujur Bulukumba salah satu TIM yang banyak meloloskan projeknya dari kawasan timur Indonesia. Untuk mengeksplor potensi yang terpendam dari para peneliti muda Butta Panrita Lopi, sedikitnya ada empat kunci untuk melejitkan daya saing Bulukumba, yaitu pertama ketersediaan budgeting dari pengambil kebijakan (decision maker); kedua bilingual education; ketiga kolaborasi dengan Perguruan Tinggi di Provinsi, serta keempat kompetisi yang sehat, objektif, dan transparan.



Keterangan gambar: Presentasi KIR SMPN 1 Bulukumba. (foto: andi nasrum)


Ketersediaan Budgeting

Secara de facto, penulis bisa menyatakan bahwa event apapun yang diikuti tanpa dukungan dana dari pemerintah, hasilnya tidak akan maksimal.

Sebagai perbandingan, sekolah-sekolah di kawasan Barat Indonesia dari segi budgeting cukup memadai. Pemerintah setempat memang konsen dan memahami apa yang dibutuhkan untuk memajukan daya saing suatu daerah.

Pemerintah provinsi sampai kabupaten berkolaborasi untuk meningkatkan indeks Pengembangan SDM. Salah satu bukti nyata adalah Pengadaan brosur sebagai alat promosi kepada semua pengunjung atau dewan juri. Hal ini merupakan nilai plus untuk menembus even nasional terlebih even internasional.

Bilingual Education

Kompetensi lain yang perlu dikuasai oleh kandidat peneliti muda kita adalah kemampuan berbahasa Inggris di atas rata-rata. Dalam pandangan penulis, kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh peserta ISPO dari kawasan barat Indonesia di atas rata-rata. Konsekuensinya, mereka mempunyai peluang yang sama untuk lolos dan meraih medali emas, perak, dan perunggu.

Pengalaman penulis ketika mengunjungi SMA Kharisma di Tangerang yang merupakan binaan PASIAD, menunjukkan bahwa Bahasa Inggris digunakan dalam Mata Pelajaran Sains. Mulai dari proses pembelajaran, petunjuk soal sampai cara penyelesaian soal-soal semuanya menggunakan bahasa Inggris.

Hemat penulis dengan dibukanya satu kelas bilingual di SMAN 1 Bulukumba merupakan embrio untuk menjawab tantangan kemampuan berbahasa tersebut. Jika peluang ini mampu diberdayakan secara efisien dan efektif, maka even-even di tahun yang akan datang akan mampu dijawab dengan kompetensi dan performansi yang memadai.

Kolaborasi PT

Faktor lainnya yang tidak kalah penting dari aspek di atas adalah kolaborasi dengan perguruan tinggi. Kelemahan siswa kita dari kawasan timur Indonesia adalah belum adanya jaringan dan kerja sama yang baik antara Pihak Pemerintah daerah dengan pihak Akademisi.

Uji laboratorium yang berkaitan dengan hasil penelitian di Kawasan Barat Indonesia sudah menjadi menu harian. Sedangkan di KTI persoalan itu masih berkutat pada pembahasan anggaran di RAPBD, apakah item itu bisa dimasukkan sebagai salah satu program ataukah anggaran Perjalanan Dinas atau studi banding dinaikkan, padahal sejarah menyatakan bahwa kemajuan suatu bangsa atau daerah ditentukan dengan pengembangan sumber daya manusia, termasuk pengembangan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di daerah.

Dengan berkaca pada Das Sollen yang ada, maka pikiran yang konvensional masihkah dipertahankan di Bumi Panrita Lopi ataukah kita akan menjadi tamu di negeri sendiri pada Era APEC 2010 dan era lainnya di masa depan?



Keterangan gambar: Pembukaan PIR 2010. (foto: andi nasrum)


Kompetisi yang Sehat, Objektif, dan Transparan

Sejalan dengan era Otonomi Daerah, maka pengembangan SDM wajib hukumnya dalam rangka meningkatkan kualitas manusia, tingkat kesejahteraan dan pelayanan publik. Secara singkat penulis bisa menyatakan bahawa ketiga icon inilah inti dari UU No.32 tahun 2004.

Dengan mengacu pada UU tersebut, seorang penentu kebijakan bisa mengatur secara inovatif dan kreatif suatu program ke satuan perangkat di bawahnya untuk membuat kompetisi yang sehat, objektif dan transparan.



Keterangan gambar: Menyanyikan Indonesia Raya. (foto: andi nasrum)


Kompetisi yang Sehat

Pengalaman yang dialami Penulis menunjukkan bahwa terlalu banyak kompetisi yang tidak sehat, diantaranya sebelum perlombaan dimulai para panitia telah mengantongi calon-calon juara. Ini disebabkan mungkin karena faktor kedekatan, keluarga ataukan kepentingan.

Objektif

Dewan juri yang ditetapkan dalam suatu even harus yang kompeten dan memiliki integritas yang tinggi. Tidak membedakan siapa subyek yang dinilai dan sesuai dengan standar penilaian yang sebenarnya.



Keterangan gambar: Peserta membacakan doa. (foto: andi nasrum)


Transparan

Hasil even pada tingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi jangan terlalu lama ditunda. Momen seperti ini merupakan posisi bargaining bagi para pencari Juara. Hasil kegiatan kalau perlu langsung diumumkan, sehingga faktor kepuasan dapat diterima para peserta, walaupun kepuasan adalah hal yang sulit yang terjadi pada manusia.

Sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa untuk bersaing dengan kawasan barat Indonesia, maka Decision Maker di Era Otonomi Daerah wajib hukumnya memperhatikan para insider pendidikan guna melejitkan SDM yang berdaya saing.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Melihat Pembuatan Perahu Phinisi di Tana Beru, Bulukumba


Keterangan gambar: Ervita saat berada di atas perahu phinisi yang masih sedang dikerjakan, di Desa Tana Lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi Ervita)


Melihat Pembuatan Perahu Phinisi di Tana Beru, Bulukumba

Oleh: Ervita

Di tengah perjalanan dari Makassar menuju Pantai Bira, kami singgah sejenak di daerah Tana Beru, di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Daerah ini dikenal sebagai tempat pembuatan kapal / perahu tradisional phinisi dengan konstruksi kayu dan peralatan tradisional. Daerah ini juga dikenal dengan sebutan "Bumi Panrita Lopi", yang artinya tempat bermukimnya ahli pembuat perahu.

Tidak sulit menemukan tempat pembuatan kapal ini, karena langsung terlihat dari jalan raya yang bersisian dengan tepi pantai.



Keterangan gambar: Ervita saat turun dari perahu phinisi yang masih sedang dikerjakan, di Desa Tana Lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi Ervitas)


Setelah meminta ijin, akhirnya kami bisa naik ke atas perahu dan melihat kesibukan mereka. Wah, benar-benar kami dibuat kagum dengan keahlian dan keterampilan mereka dalam membuat kapal yang ukurannya termasuk lumayan besar. Supaya tidak panas, dipasang atap yang terbuat dari daun-daun.

Kami tidak lama singgah di sini, setelah puas berfoto ria, kami segera melanjutkan perjalanan ke pantai Tanjung Bira. Tidak terlalu jauh dari tempat pembuatan kapal yang baru saja disinggahi, ada tempat pembuatan kapal lain yang ternyata kapalnya baru selesai dan sedang diujicoba berlayar untuk pertama kali. Sayang, kami tidak sempat mampir lagi karena hari sudah sore.



Keterangan gambar: Ervita foto bersama seorang teman saat berada di atas perahu phinisi yang masih sedang dikerjakan, di Desa Tana Lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi Ervitas)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Pantai Bira (revisited), 2009


Keterangan gambar: Pasir putih Pantai Bira. (foto: dok. pribadi Ervita)



Pantai Bira (revisited), 2009

Oleh: Ervita





Mengunjungi kembali Pantai Bira yang cantik, tidak bosan-bosan rasanya kembali lagi ke pantai ini. Kali ini pantai sudah lebih bersih dari pada 4 tahun yang lalu. Jelas, pemerintah daerah Kabupaten Bulukumba sudah sadar akan potensi wisata daerahnya dan berhasil memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada untuk meningkatkan pendapatan daerah.



Keterangan gambar: Pintu menuju tangga untuk turun ke bibir pantai Tanjung Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: Ervita)


Walaupun masih dalam suasana libur lebaran, suasana pantai tidak terlalu ramai. Check in di Bira Beach Hotel, hotel terdekat dengan pantai dengan kamar berbentuk cottage, lengkap dengan AC dan air bersih. Tidak ada air panas, tetapi karena cuaca terik air menjadi hangat.

Pantai yang dangkal dan air yang jernih dan pasir yang putih halus membuat betah berenang berlama-lama. Untuk berkeliling pantai tersedia sewa perahu, baik perahu biasa atau boat tarifnya sama Rp. 30 ribu saja untuk 15 menit. Jadi, keduanya harus dicoba. Sewa ban tersedia dengan ongkos 10 ribu sepuasnya.



Keterangan gambar: Ervita saat berada di atas perahu bersama beberapa penumpang lain, di Tanjung Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi Ervita)


Untuk makan cukup di restoran hotel saja, dengan menu masakan standar tetapi rasa cukup enak. Apapun yang dimakan dengan kondisi lapar dan lelah setelah seharian bermain di pantai dengan ditemani deburan air laut dan hembusan angin pantai, pasti terasa lebih enak.

Kondisi pantai yang tenang, karena ombak tertahan oleh dua pulau di depan pantai, yaitu pulau Liukang dan pulau Kambing membuat jalan-jalan di pantai sampai malam tidak menakutkan.

Esok paginya acara main air di pantai dilanjutkan, karena kondisi air yang surut kami menyewa perahu boat dan snorkling agak ke tengah laut. Untuk ke pulau Liukang yang paling dekat tarifnya 250 ribu pulang pergi sampai puas, tetapi karena hanya ingin snorkling selama sekitar 30 menit harga ditawar menjadi 100 ribu, sekaligus dengan pelampung dan alat snorkling. Dan oh my God, hanya di kedalaman tidak sampai 1,5 meter bisa melihat pemandangan laut yang cantik. Maklum deh baru pertama kali ini berani snorkling...hehe..
So, Pantai Bira, I'll be back!!



Keterangan gambar: Penjual es krim di pantai Tanjung Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: Ervita)


Info Umum tentang Pantai Bira : http://liburan.info/content/view/977/43/lang,indonesian/
Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari ibukota Bulukumba, atau 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar ke Kota Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum berupa mobil Kijang, Panther, atau Innova dengan tarif sebesar Rp. 35.000,-. Selanjutnya, dari Kota Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pete'-pete' (mikrolet) dengan tarif berkisar antara Rp. 8.000,- sampai – Rp. 10.000,-. Total waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3,5 – 4 jam.



Keterangan gambar: Ervita saat berada di pantai Tanjung Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi Ervita)


Keterangan:
- Feature ini dibuat oleh Ervita dalam blog http://ervita.multiply.com/photos/album/189#, pada 7 Oktober 2009.
- Saya tertarik memuat ulang di blog ini karena tulisannya cukup bagus dan didukung dengan sejumlah foto.
- Saya sudah meminta izin kepada Ervita melalui komentar di blognya.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Pimpinan DPRD Bulukumba Lamban Desak Pembahasan APBD

Pimpinan DPRD Lamban Desak Pembahasan APBD

Harian Fajar, Makassar
Minggu, 3 Oktober 2010
http://lokalnews.fajar.co.id/read/106403/123/pimpinan-dprd-lamban--desak-pembahasan-apbd-

BULUKUMBA -- Keterlambatan pembahasan perubahan APBD 2010 membuat beberapa anggota DPRD Bulukumba gerah. Pimpinan dewan pun dituding lamban mendorong percepatan pembahasan perubahan APBD yang seharusnya rampung Oktober.

Fraksi Partai Golkar yang merupakan partai terbesar dengan 24 anggota di dewan secara tegas mendesak pimpinan DPRD segera mengambil sikap. Ketua Fraksi Partai Golkar, Hamzah Pangki, menegaskan fraksinya sepakat mendesak pimpinan DPRD.

Bila pembahasan perubahan APBD mulur, kata dia, akan berdampak pada pembahasan APBD 2011. Kondisi seperti ini hampir selalu terjadi pada pembahasan APBD pokok setiap tahun. APBD selalu disahkan pada pertengahan tahun anggaran.

Akibatnya, program pembangunan selalu terlambat direalisasikan. Masyarakat tentu saja juga terlambat menikmati hasil pembangunan.

"Keterlambatan tidak mesti terjadi jika ada sikap tegas mendorong percepatan kinerja," tegas Hamzah.

Selain membahas APBD, tegasnya, banyak agenda lain yang harus diselesaikan, termasuk membahas perhitungan sisa lebih penggunaan anggaran tahun 2009. Dewan juga masih mendapat tugas membahas sepuluh rancangan peraturan daerah.

Wakil ketua I DPRD yang menjabat pelaksana tugas ketua DPRD Bulukumba, Edi Manaf, menegaskan, bukannya tidak mau mempercepat pembahasan APBD.

"Bagaimana caranya mau dijadwalkan kalau draf yang akan dibahas belum ada pada dewan. Kalau sudah ada tentu pimpinan segera menindaklanjutinya," katanya.

Edi mengaku sudah meminta eksekutif menyerahkan draf perubahan APBD. Diakuinya, perlu ada upaya mendorong percepatan pembahasan perubahan APBD dan pimpinan dewan juga segera melakukan desakan.

Kepala Bagian Humas Pemkab Bulukumba, Daud Kahal, mengatakan draf perubahan APBD diserahkan ke sekretariar dewan pekan depan. Setelah itu, Pemkab Bulukumba menunggu penjadwalan DPRD untuk pelaksanaan paripurna penyerahan. (arm)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Sabtu, 02 Oktober 2010

Berkunjung ke Desa Adat, Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan



Dalam perjalanan pulang setelah dari Pantai Bira, kami menyempatkan singgah ke kawasan adat Ammatoa yang terletak di Kecamatan Kajang, sekitar 56 Km dari ibukota Kabupaten Bulukumba. Inilah saya Ervitas berfoto sebelum masuk desa adat Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok pribadi Ervita)

--------------------------

Berkunjung ke Desa Adat, Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Oleh: Ervita


Dalam perjalanan pulang setelah dari Pantai Bira, kami menyempatkan singgah ke kawasan adat Ammatoa yang terletak di Kecamatan Kajang, sekitar 56 Km dari ibukota Kabupaten Bulukumba.

Ciri masyarakat kajang yang ada di Desa Tana Toa adalah pakaian dengan warna serba hitam, sedangkan ciri bangunan rumahnya ialah seragam menghadap ke Utara.



Keterangan gambar: Bangunan tempat Ammatoa menerima tamu di desa adat Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: Ervita)


Masyarakatnya dipimpin oleh seorang yang bergelar Ammatoa dengan masa kepemimpinan seumur hidup. Mungkin sedikit banyak mirip dengan masyarakat Baduy, Jawa Barat.

Kami sedikit beruntung karena ternyata mantan mahasiswa dari kakak ipar dosen, masih mempunyai hubungan saudara dengan pemimpin adat Ammatoa, sehingga ada kesempatan untuk bertemu langsung dengan beliau. Konon, tidak sembarang orang bisa bertemu, apabila bisa pun ternyata hanya diterima di bangunan penerima tamu dan tidak dapat bertemu dengan sang Ammatoa.



Keterangan gambar: Foto bersama sebelum masuk desa adat Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok pribadi Ervita)


Dari daerah Bulukumba, perjalanan ke desa suku Kajang ini masih harus ditempuh selama kurang lebih dua jam, menelusuri jalan yang berkelok-kelok. Setelah beberapa kali bertanya, sampailah kami ke rumah mantan mahasiswa kakak yang bapaknya adalah saudara sepupu dari Ammatoa.



Keterangan gambar: Salah satu rumah warga desa adat Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: Ervita)


Di sini kami memakai pakaian sarung hitam yang dipinjami oleh keluarga mereka sebagai syarat untuk berkunjung ke desa adat, dan kebetulan saya juga mempunyai kaos hitam jadi paslah hitam-hitam. Dengan memakai mobil kami menuju kawasan desa adat yang ternyata masih 15 menit perjalanan.

Setelah sampai di pintu masuk desa, perjalanan masih harus disambung dengan jalan kaki melewati jalanan berbatu, tetapi dengan kawasan hutan yang masih rimbun perjalanan sekitar satu kilometer tidak terasa jauh.



Keterangan gambar: Jalan menuju desa adat Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.. (foto: Ervita)


Selama perjalanan kami bertemu dengan penduduk setempat yang semuanya mayoritas memakai baju hitam dan sebagai tamu kami bersalam-salaman dengan mereka. Kelestarian kawasan hutan merupakan ciri dari kawasan adat ini, serta budaya hidup masyarakatnya yang jauh dari pola hidup modern, sehingga listrikpun tidak ada.

Akhirnya sampailah kami di rumah kepala adat sang Amatoa dan ternyata beliau juga sedang menerima beberapa tamu desa yang semuanya berpakaian hitam-hitam. Setelah bersalam-salaman dengan memakai bahasa daerah setempat sang mahasiswa pengantar (lupa namanya nih) menjadi penterjemah kami, dan memperkenalkan asal kami dan maksud kedatangan. Bahasa yang digunakan oleh penduduk suku Kajang adalah bahasa Makassar dialek Konjo.



Keterangan gambar: Beberapa rumah warga desa adat Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: Ervita)


Sang Amatoa sendiri masih tampak gagah dan kuat di usianya yang sudah 70 tahun tapi terlihat seperti 50 tahun dan orang tua disebelahnya yang awalnya kami sangka sang amatoa ternyata hanya tamu, terlihat seperti berumur 70 tahun tetapi ternyata berumur 100 tahun. Luar biasa, dengan pola hidup yang sederhana dan mendekatkan diri dengan alam bisa membuat orang menjadi awet muda. Tetapi ketika ditanya, mengenai resep awet muda, beliau tidak mau memberitahukannya, rahasia katanya. wah!

Pertanyaan lain adalah mengenai bagaimana pandangan kepala adat Amatoa tentang hidup selaras dengan alam. Alam itu diibaratkan seperti tubuh manusia, apabila tidak dijaga dan dirawat maka akan sakit. Alam yang rusak pasti akan mendatangkan kesengsaraan seperti timbulnya bencana alam.

Rumah adat Amatoa sendiri berupa rumah panggung dengan dapur serta tempat cuci berada di depan, satu ruangan dengan tempat menerima tamu dan ruang tidur di bagian belakang. Berbeda dengan suku Baduy Dalam yang melarang pemakaian sabun, suku Kajang dalam masih bisa memakai sabun untuk mencuci.



Keterangan gambar: Kak Eha, Vany, dan Vita foto bersama di depan pintu gerbang desa adat Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok pribadi Ervita)


Larangan lain adalah mengambil gambar sang Amatoa beserta istrinya. Karena apabila dilanggar akan ditanggung oleh yang mengambil gambar beliau, mungkin sakit atau hal gaib lainnya. Tetapi untuk anak-anaknya masih dapat diambil gambarnya, jadilah kami hanya berfoto dengan anak-anaknya, yang ternyata juga tidak berbeda dengan remaja lainnya, sedang kuliah di Makassar.



Keterangan gambar: Foto bersama dengan anak ketua adat Ammatoa di desa adat Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok pribadi Ervita)


Kabar terakhir dari suku Kajang, mereka semakin sulit mempertahankan kelestarian hutan-hutan di kawasan adat, karena desakan dari pemerintah yang akan memakai hutan mereka untuk kepentingan swasta. Sungguh sayang apabila hutan yang telah dipelihara secara turun temurun semakin berkurang akibat keserakahan masyarakat yang tidak bertanggung jawab.



Keterangan gambar: Foto bersama dengan warga desa adat Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok pribadi Ervita)


Keterangan:
- Tulisan yang dimuat pada 6 Oktober 2009 dalam blog http://ervita.multiply.com/photos/album/187/Berkunjung_ke_desa_adat_Suku_Kajang_Bulukumba_Sulawesi_Selatan, saya anggap bagus, apalagi dengan memakai bahasa gaul.
- Saya sudah meminta izin kepada Ervita melalui komentar di blognya untuk memuat ulang tulisan dan foto2nya dalam blog ini.
- Saya melakukan beberapa pengeditan kecil, tetapi tidak mengubah substansi.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Jumat, 01 Oktober 2010

Haji Andi Sultan Daeng Raja



Haji Andi Sultan Daeng Raja
- Karaeng Gantarang yang Tak Pernah Gentar


Oleh: Muh. Rusle
http://muhruslee.multiply.com/journal/item/11/Karaeng_Gantarang_-_Tak_Pernah_Gentar
1 Oktober 2010

Musa dari Gantarang

Ada cerita mirip kisah nabi Musa dalam kitab suci, kali ini kejadiannya di suatu siang di bulan Agustus 1916 di Afdeling Sinjai. Seorang Hulppest Commis pribumi tergerak bangkit dari meja kerjanya. Dia mendengar sayup2 jeritan tertahan dalam bahasa bugis diiringi suara kibasan tongkat yang miris. Keningnya sedikit terlipat, kacamata hitam tebal yang membingkai kedua matanya kemudian diletakkan di atas buku dinasnya.

Bergegas ia keluar dari kantor contorleur itu. Di halaman depan, disaksikannya satu kejadian yang meledakkan amarahnya. Seorang ambtenar Belanda memukuli seorang bumiputera dengan tongkat. Berkali-kali, hingga darah mengucur dari badan kurus itu. Darahnya seketika mendidih, Hulppest Commis pribumi itu bergerak. Tubuh ringkihnya sebenarnya tidaklah sekekar si ambtenar Belanda, namun dia tak gentar. Tak ada rasa takut dalam dadanya. Si ambtenar Belanda dihujaninya dengan pukulan sampai babak belur dan lari.





Namun tidak seperti kisah nabi Musa di kitab suci, sang Hulppest Commis pribumi tidak lantas kabur dari tanah airnya. Dia memilih tetap tinggal dan siap menerima konsekuensi dari tindakannya yang melanggar etika saat itu. Melawan, apalagi memukuli warga Belanda yang dianggap warga kelas satu adalah kesalahan besar di zaman kolonial itu, apapun alasannya.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak, sang Hulppest Commis pribumi kemudian didera hukuman administratif; pangkat diturunkan menjadi Agent Welsetboedel Kamer (pegawai rendahan), gaji dipotong hingga tinggal 30%. Dia menerima dengan tenang, dan terbersit rasa puas dalam hatinya. Harga dirinya membela kaumnya sudah ditegakkan, dan itu jauh lebih penting daripada pangkat dan gaji. Nama si Hulppest Commis pribumi berusia 22 tahun itu, Andi Sultan Daeng Raja, putra dari Passari Petta Tanra - Karaeng Gantarang Bulukumba saat itu.



Keterangan gambar: Andi Sultan Daeng Raja.


Gantarang, tempat lahir Andi Sultan Daeng Raja, sejak zaman dulu terkenal sebgai penghasil beras utama di sulawesi selatan. Kerajaan Gowa Tallo ketika masa jayanya sangat menggantungkan supply pangannya pada daerah ini. Setelah kemenangan VOC yang didukung oleh Bone dalam perang makassar di pertengahan abad 17, daerah ini sempat diperebutkan antara VOC dan Bone sebagai basis logistik.

Tanahnya sangat subur, terhampar seluas 215 km2 dari kaki pegunungan Bangkeng bukit yang dikitari oleh sungai Tangka di utara hingga ke selatan yang bermuara di laut flores. Sungai Tangka yang tak pernah kering itu kemudian dijadikan sumber utama pengairan yang menghidupi persawahan di daerah itu.

Secara geopolitik, distrik gantarang adalah wilayah Gowa-Tallo sejak lampau berdasarkan perjanjian Caleppa tahun 1625, penguasanya pun bergelar karaeng, sebuah gelar yang diadaptasi dari kerajaan Gowa-Tallo. Namun sebahagian besar penduduk Gantarang justru menggunakan bahasa bugis sebagai bahasa pengantarnya. Bagi lidah bugis, Gantarang biasanya dituturkan sebagai Gattareng.

Ketika tumbuh sebagai remaja di daerah itu, Andi Sultan yang lahir di Saoraja Gantarang pada 20 mei 1894, mendapati kenyataan yang kontras dengan cerite leluhurnya, daerah Gantarang justru teramat terbelakang, pertanian tidak terurus dan masyarakat petani disana miskin dan tak mampu mengelola sawah dengan baik. Penguasa yang memerintah kala itu pun terkesan abai mengurusi warganya.

Pendidikan dan Jalur Karir

Kondisi rakyatnya yang menyedihkan membuat Andi Sultan tergerak untuk memikirkan bagaimana melakukan perbaikan. Apalagi sejak awal beliau sudah digadang-gadang sebagai pewaris adat Geemeenschaap Gantarang, yang saat itu dijabat secara caretaker oleh paman beliau, Karaeng Cammoa Andi Mappamadeng. Dia kemudian memantapkan tekadnya dengan menekuni pendidikan sebagai bekalnya kelak.

Sebagai seorang bangsawan, tidak terlalu sulit baginya untuk memasuki sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial saat itu. Andi Sultan Daeng Raja bahkan mampu duduk di sekolah lanjutan khusus untuk orang eropa kala itu, Eropesche Largerer school (ELS) di Bulukumba. Kemudian dilanjutkan ke sekolah calon ambtenar OSVIA di Makassar tahun 1908. Pada masa sekolah di Makassar inilah, semangat patriotisme dan kemampuan organisasinya mulai terasah dengan mengikuti perkumpulan2 diskusi, terutama karena terpengaruh oleh kebangkitan pergerakan nasional yang dimotori oleh Budi utomo dan Sarekat Islam.

Selepas lulus dari OSVIA di tahun 1914, Andi Sultan Daeng Raja tidak langsung mudik ke Gantarang, tapi memilih meniti karir sebagai ambtenar pada pemerintahan kolonial. Karir nya sebetulnya cukup cemerlang, dengan beberapa kali mendapat promosi hanya dalam waktu singkat. Daerah pengabdiannya cukup luas dan mencakup derah-derah penting di Sulawesi Selatan; bermula dari Pompanua, Sinjai, Takalar, dan berakhir di Campalagian, Mandar. Disela-sela rutinitasnya sebagai pegawai kolonial saat itu, beliau masih menyempatkan diri mengikuti pergerakan nasional yang sedang marak.

Mungkin karena aktivitasnya yang dianggap berbahaya waktu itu, dan sikapnya yang kdang-kadang melawan pemerintah, beberapa kali Andi Sultan Daeng Raja mengalami demosi dan mutasi yang kurang menguntungkan. Namun semuanya dijalani dengan sabar, sesuai dengan taktik gerakannya waktu itu yang kooperatif.

Setelah delapan tahun berkarir sebagai ambtenaar, Andi Sultang Daeng Raja kemudian mengundurkan diri dan memilih untuk mengabdi sepenuhnya untuk rakyat Gantarang.

Pada tahun 1922, juga atas desakan nurani demi melihat rendahnya kesejahteraan rakyat Gantarang saat itu, dia kembali ke kampung halaman. Setelah melalui pemilihan formal Ade’Duappulo, Andi Sultan Daeng Raja, yang juga digelari Karaeng Kacamata, dikukuhkan sebagai Karaeng Gantarang pada usia 28 tahun, yang menurut kabar adalah Karaeng termuda di seluruh Bantaeng saat itu.

Hal pertama yang dilakukannya sebagai karaeng dalah memperbaiki infrastruktur pertanian yang merupakan sumber penghasilan dari 90% rakyatnya. Selain itu, beliau juga meletakkan landasan yang kuat akan pendalaman keagamaan masyarakat Gantarang. Beliau juga lah yang mendirikan Masjid Raya Ponre yang halamannya menjadi petilasan akhir beliau.

Aktif pada Pusaran Sejarah Bangsa

Sementara menjabat sebagai Karaeng Gantarang, Andi Sultan Daeng Raja masih menyisihkan waktunya untuk tetap berada pada pusaran pergerakan bangsa dan mengiringi kelahiran Republik Indonesia di masa-masa awal kemerdekaan. Pendidikan dan fasilitas yang diterimanya sebagai bangsawan tidak lantas membuaikannya dalam kesenangan dan ketidakpedulian, tetapi dimanfaatkan sepenuhnya sebagai modal dasar demi untuk kemerdekaan bangsanya.

Andi Sultan Daeng Raja mengkhususkan hadir secara fisik dalam setiap momen penting perjuangan bangsa. Ketika berlangsung Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928, Andi Sultan Daeng menyempatkan hadir mewakili Jong Celebes untuk mendeklarasikan Sumpah Pemuda bersama 750 pemuda se-Nusantara di Batavia.

Pada saat tokoh-tokoh nasional berkumpul mempersiapkan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus 1945, Andi Sultan Daeng Raja, bersama GSSJ Ratulangi dan Andi Pangerang Pettarani, ikut merumuskan naskah proklamasi yang kemudian dibacakan oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Setelah merdeka, Andi Sultan Daeng Raja menggalang koordinasi dengan seluruh raja dan datu di Sulawesi Selatan untuk menghalau tentara NICA di awal Desember 1945 sampai kemudian tertangkap di bulan yang sama dan diasingkan selama lima tahun ke Menado.

Rupanya, pengkhianatan selalu menyertai sejarah orang-orang besar, tak terkecuali pada jalan perjuangan Andi Sultan Daeng Raja. Karaeng yang teramat dicintai rakyatnya ini rupanya tak mampu mengelak dari pengkhianatan kerabatnya, seorang yang di kemudian hari diolok-olok sebagai Belanda hitam; Andi Abdul Gani atau Karaeng Gani yang oleh NICA diangkat sebagai penjabat Karaeng Gantarang.

Berkonspirasi dengan pasukan NICA yang dipimpin Kapten Raymond Westerling, Karaeng Gani memihak NICA dalam pembunuhan massal di Bantaeng dan seluruh wilayah sulawesi yang terkenal sebagai peristiwa pembantaian korban 40,000 jiwa di tahun 1948. Hampir seluruh kerabat laki-laki dari Andi Sultan Daeng Raja terbunuh pada peristiwa itu. Dikemudian hari, saat tercapai kesepakatan penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia, Karaeng Gani ikut meninggalkan Gantarang dan kemudian memilih menetap di Belanda.

Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda tahun 1949, Andi Sultan Daeng Raja kembali dari pengasingannya dan meneruskan kembali tugas sebagai Karaeng Gantarang selama setahun hingga meletakkan jabatan di tahun 1950. Oleh pemerintah jasanya ternyata masih diperlukan, tahun 1951, Andi Sultan Daeng Raja ditetapkan sebagai Bupati Bulukumba hingga tahun 1952, kemudian menjadi bupati Bantaeng hingga tahun 1956.

Tahun 1957, Andi Sultan Daeng Raja terpilih menjadi anggota Konsituante hingga pembubarannya di tahun 1959. Pada hari jumat, 17 Mei 1963, bangsawan Gantarang yang tak mengenal gentar ini wafat di RS Pelamonia, Makassar dan dimakamkan di belakang Mesjid Raya Ponre, Bulukumba berdampingan dengan makam ayahandanya, Passari Petta Tanra.

Sebelum mangkat, Andi Sultan daeng Raja sempat meninggalkan tiga wasiat kepada putranya, Andi Sappewali; pelihara kejujuran, lindungi orang tertindas, dan jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, cukup di belakang Mesjid Raya Ponre.

Nilai

Lazimnya saat membaca sebuah biografi, selain menikmati alur kronik yang runut, kedirian kita berusaha mengais sesuatu yang memiliki nilai. Nilai yang cukup penting untuk menjadi pegangan hidup sosok yang di-biografikan. Nilai yang dicoba didownload untuk dipatrikan menjadi nilai pribadi pembacanya.

Sejalan dengan adagium yg menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, maka membaca biografi adalah salah satu pencarian guru yang paling efektif juga, dengan mensubtitusi pengalaman sosok dalam biografi itu menjadi pengalaman pribadi berkerangka pengetahuan literatur (literal?).

Mengutip dari David Siegel, biografi diceritakan untuk mendistribusikan nilai dari karakter seseorang yang menjadikannya menarik dan dapat dijadikan pegangan hidup buat manusia lainnya. Nilai yang kita bisa reguk dari sejarah hidup Andi Sultan Daeng Raja bisa kita ambil papa tiga petuahnya sebelum mangkat; kejujuran, keberpihakan pada korban kezaliman, dan kesahajaan. Hal yang teramat mudah kita hapal di luar kepala, namun teramat sulit untuk konsisten menerapkannya, terutama di saat berbenturan dengan banyak kepentingan hidup.

Sejak kanak-kanak, kita yang akrab dengan buku pelajaran selalu mendefinisikan pahlawan sebagai orang yang menjadi martir karena sesuatu yang diperjuangkannya, yakni nilai dan cita-cita yang mewakili orang banyak.

Walaupun kadang nilai yang diperjuangkan adalah nilai pribadi yang secara kebetulan beririsan dengan kepentingan orang banyak, dan oleh penulis sejarah, kepentingan majemuk inilah yang dikedepankan sebagai dasar konsensus untuk mentahbiskan status pahlawan. Karena tentu saja, nilai kemanusiaan yang dihasilkan dari sebuah perjuangan bisa menjadi milik publik yang bebas untuk dipakai kemudian, dan dianggap sebagai bagian penting dari akumulasi perjuangan menuju satu bangsa yang merdeka, sehingga karenanya layak diperhitungkan oleh dunia internasional.

Oleh pemerintah, pahlawan secara administratif adalah orang-orang yang karena jasa-jasanya kepada negara pernah disematkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra sehingga berhak menyandang gelar Pahlawan dan sekiranya meninggal, jasadnya boleh dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Untuk penegasan kepahlawanan dan mungkin untuk mensosialisasikan ke masyarakat, nama pahlawan itu kemudian dijadikan nama jalan. Tapi di tengah kerumuman masyarakat yang makin banyak urusannya, nama pahlawan yang disematkan pada jalan di sekitar mereka kemudian hanya menjadi sekedar nama, sekedar landmark yang tidak berarti apa-apa selain sebagai penanda alamat saja.

Sekadar Nama Jalan?

Selain keluarganya, mungkin tak banyak yang mengenal sosok pahlawan Gantarang, walaupun namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan protokol di pusat kota Bulukumba dan di daerah Mallimongang Makassar, berdekatan dengan Monumen Korban 40,000jiwa. Keterbatasan literatur tentang Karaeng ini mungkin menjadi alasan mengapa sedikit demi sedikit kisah perjuangan beliau semakin tergerus.

Dalam buku-buku sejarah, tidak banyak diceritakan tentang beliau walaupun Pemerintah Indonesia telah mengukuhkan beliau sebagai Pahlawan Nasional tahun 2002. Hanya ada satu buku biografi yang secara khusus mengulas kisah perjuangan beliau yang diterbitkan tahun 1981 oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Itupun hanya buku tipis 87 halaman, yang tentu saja hanya memuat kronik sejarah yang tak detail.

Sayang sekali bahwa kesempatan untuk menggali lebih dalam pikiran dan etos perjuangan beliau tidak sempat digali secara mendalam oleh penulis saat itu, saat dimana beberapa saksi hidup perjuangan beliau masih hidup. Hingga saat ini setelah 26 tahun sejak buku itu terbit, belum ada upaya penerbitan kembali kisah hidup beliau. Mungkin beberapa saat lagi nama beliau kemudian hanya akan terkenang sebagai nama jalan saja, itupun kalau tidak ada rencana pemerintah untuk merombak tata penamaan jalan dan sebagainya, sejalan dengan makin maraknya pengembangan kota yang lebih bangga menggunakan nama asing untuk menarik konsumennya.

Catatan;
- Hulppest Commis = pembantu komisioner
- Agent Welsetboedel Kamer = pegawai rendahan
- Ambtenaar = pegawai pemerintah
- Ade’ Duappulo = kumpulan pemuka adat berjumlah 20
- Saoraja = istana kerajaan

Keterangan:
- Tulisan ini dibuat oleh Muh. Rusle, pada blog http://muhruslee.multiply.com/journal/item/11/Karaeng_Gantarang_-_Tak_Pernah_Gentar, pada 1 Oktober 2007, atau tepat tiga tahun lalu.
- Tulisan ini tetap bagus dibaca sampai sekarang dan banyak unsur pelajaran di dalamnya.
- Saya sudah meminta izin

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Kajang : Potret Suku Terasing di Kabupaten Bulukumba


"Suara alam adalah suara Tuhan" merupakan pedoman warga Suku Kajang yang tinggal di pedalaman Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam memilih pemimpin adat mereka. Kepercayaan ini membuat seorang pemimpin adat yang kerap disebut Ammatowa sebagai orang suci.


-------------------------------------

Kajang : Potret Suku Terasing di Kabupaten Bulukumba

Liputan : Medi Trianto dan Surnata
http://www.indosiar.com/ragam/39110/kajang--potret-suku-terasing
4 Desember 2002

indosiar.com, Sulawesi Selatan - "Suara alam adalah suara Tuhan" merupakan pedoman warga Suku Kajang yang tinggal di pedalaman Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam memilih pemimpin adat mereka. Kepercayaan ini membuat seorang pemimpin adat yang kerap disebut Ammatowa sebagai orang suci.

Dalam memegang tampuk kepemimpinan ini Ammatowa memilih lima orang pemuka adat untuk menjalankan roda pemerintahan. Kelima pemimpin tersebut diangkat oleh Ammatowa dengan suatu perjanjian, di saat alam tidak bersahabat seperti matinya tanaman dan hewan atau bencana alam, kelima pemuka adat harus rela melepas jabatannya.



Keterangan gambar: Mantan Kepala Desa Tana Toa yang kini anggota DPRD Bulukumba, Abdul Kahar Muslim.


Untuk memasuki kawasan adat Ammatowa, tempat Suku Kajang tinggal, seluruh warga harus melewati pos penjagaan. Di pos ini ketentuan adat mulai berlaku. Semua orang termasuk tamu, harus mengenakan pakaian adat atau pakaian serba hitam. Pos ini juga merupakan simbol mulai berlakunya hukum adat Masyarakat Kajang. Hukum adat ini berpedoman pada kitab wasiat Masyarakat Kajang yang masih dipegang teguh. Sehingga segala macam bentuk peradaban diluar kawasan tidak akan pernah mereka terima.

Masih berlakunya hukum peninggalan leluhur ini membuat Kawasan Adat Ammatowa tidak pernah berubah sejak pertama kali didirikan. Jalan tanah sepanjang 5 kilometer menuju desa masih tetap bertahan tanpa perubahan yang berarti. Bahkan rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu masih berdiri tegak dengan arah membelakangi hutan adapt. Ruang tambahan yang terletak di belakang rumah juga masih ada sebagai simbol memiliki anak gadis.





Asrinya suasana di kawasan adat ini tercipta karena pemimpin adat atau Ammatowa yang dibantu lima pemuka adat, secara keras menjalankan peraturan adat. Bahkan kerasnya Ammatowa dalam menjalankan peraturan ini dapat dilihat dari rumah milik orang yang dianggap suci tersebut. Rumah pemimpin adat merupakan rumah terjelek. Dindingnya hanya terbuat dari bambu. Sedangkan lima pemuka adat lainnya memiliki rumah lebih baik dari Ammatowa. Namun dalam melaksanakan kepemimpinannya, lima pemimpin adat ini dikenakan kontrak sosial. Mereka dapat dihentikan dari jabatannya jika berbuat kesalahan yang dapat dilihat dari gejala alam.

Di bawah kepemimpinan Ammatowa dan kelima pemuka adat, kebiasaan-kebiasaan leluhur tetap dijalankan. Justru dengan kebiasaan ini swasembada segala faktor kehidupan dapat terus berjalan. Menurut kepala desa, salah satu kebiasaan yang harus dijalankan adalah kewajiban seorang wanita membuat pakaian untuk anggota keluarganya.





Membuat pakaian merupakan syarat bagi seorang wanita untuk dapat melangsungkan pernikahan. Sehingga dalam kehidupannya wanita tanpa keahlian membuat pakaian, tidak dapat menikah. Pembuatan pakaian ini dilakukan secara tradisional, mulai dari pembuatan benang, proses pewarnaan hingga menenunnya menjadi selembar kain.

Dalam kehidupan Masyarakat Kajang, kaum wanita diwajibkan bisa membuat kain dan memasak. Sedangkan kaum pria diwajibkan untuk bekerja di ladang dan membuat perlengkapan rumah dari kayu. Keahlian membuat perlengkapan dari kayu ini juga merupakan kewajiban bagi kaum pria untuk berumah tangga.

Luasnya sawah milik warga Suku Kajang yang terletak jauh dari tempat tinggal merupakan suatu anugrah tersendiri. Dengan luasnya sawah yang menghasilkan berton-ton padi setiap tahun, warga Suku Kajang selalu terhindar dari bahaya kelaparan. Anugrah ini sangat disyukuri oleh segenap warga. Sehingga setiap usai panen mereka selalu menggelar upacara adat yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Upacara adat yang disebut Rumatang ini dipimpin langsung oleh Ammatowa.

Di sawah milik Ammatowa ini persiapan upacara Rumatang mulai dilakukan sejak pagi hari. Saat itu kaum wanita telah datang dan mulai memasak makanan di bawah gubuk milik Ammatowa. Berbagai jenis makanan khas Suku Kajang mulai dipersiapkan untuk keperluan upacara adat dan makan siang bersama.

Persiapan di tepi sawah ini dipimpin oleh seorang wanita tua yang telah mengetahui jenis makanan yang harus dipersiapkan untuk sesaji. Dibawah petunjuknya, kaum wanita mulai memasak berbagai jenis makanan, termasuk nasi dengan empat warna.





Di saat kaum wanita sibuk mempersiapkan sesaji, kaum pria juga mulai mengikat padi hasil panen mereka menjadi ikatan-ikatan besar. Usai diikat, padi hasil panen ini dijemur di bawah terik matahari.

Tengah hari, merupakan pertanda upacara harus dilangsungkan. Sebelum memulai upacara puncak, warga Suku Kajang berkumpul dibawah bilik untuk makan siang bersama. Uniknya makan siang di tepi sawah ini mempunyai syarat tertentu. Nasi yang dipersiapkan harus dari beras hitam. Karena jenis beras inilah yang pertama kali dapat ditanam oleh leluhur mereka. Upacara makan siang dilanjutkan dengan meminum sejenis minuman keras khas Sulawesi Selatan yang disebut "ballo". Semua kaum pria wajib meminum ballo dari gelas yang sama sebagai simbol persaudaraan.





Usai makan siang, kaum pria ditugaskan untuk membawa padi yang telah diikat menuju ke desa mereka. Padi mereka bawa dengan menggunakan sebilah kayu. Mereka berjalan menyusuri pematang sawah dengan menempuh jarak sekitar 10 kilometer. Namun beban berat dan berjalan jauh tidak mereka rasakan karena rasa senang akan hasil panen yang berlimpah.

Setelah kaum pria kembali ke sawah, upacara "rumatang" yang mempunyai arti ucapan syukur kepada Maha Pencipta dimulai. Mereka berkumpul di bawah bilik untuk mengucapkan doa dan memberkati sesaji yang akan di persembahkan kepada Tuhan.

Delapan buah sesaji yang telah dipersiapkan mulai disusun di bilik di tepi sawah. Sesaji berupa nasi empat warna, lauk pauk, buah-buahan ini diberkati oleh Ammatowa dalam upacara Rumatang. Usai diberkati, sesajen ini dibawa oleh warga ke delapan tempat terpisah sesuai arah mata angin. ada yang diletakkan di sawah dan ada juga yang ditempatkan di sumber air. Peletakan sesaji ini bermakna hasil panen tidak hanya dinikmati oleh manusia saja. Melainkan tanah, angin dan semua unsur di bumi yang membantu panen berhasil, juga ikut merasakan hasilnya.

Rasa persaudaraan yang kuat diantara warga Suku Kajang membuat kerasnya peraturan yang diterapkan seolah sirna. Secara bersama-sama mereka berupaya melestarikan peraturan leluhurnya dengan hidup seolah mengasingkan diri dari dunia luar. Namun dalam keterasingannya itu, setiap warga hidup berbahagia tanpa pernah kekurangan kebutuhan sandang, pangan, maupun papan. Bahkan persediaan makanan mereka selalu berlimpah ruah sepanjang tahun. (ins)

Keterangan:
- Tulisan bergaya feature ini sebenarnya sudah lama dimuat di www.indosiar.com, yaitu pada 4 Desember 2002, tetapi saya kira tetap tidak ketinggalan untuk dibaca kapan saja, sehingga saya memutuskan memuat ulang di blog ini.



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Kamis, 30 September 2010

Ammatoa - Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba



Ammatoa - Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba

Oleh: Daeng Syamsoe

Sabtu, Maret 28, 2009
http://www.syamsoe.com/2009/03/ammatoa-suku-kajang-di-kab-bulukumba.html

Dapat libur sehari tanggal merah Nyepi 2009 kemaren, saya putuskan untuk mengisinya dengan pergi mengunjungi daerah wisata Desa Adat Ammatoa di Kabupaten Bulukumba. Semuanya serba dadakan dan tanpa perencanaan.

Jaraknya lumayan jauh jugalah dari Kabupaten Sinjai. Karena ingin menikmati perjalanan dan pemandangan sepanjang jalan, saya putuskan untuk naik angkot Saja. Dari Kabupaten Sinjai ke Pasar Tanete, Kabupaten Bulukumba dengan menempuh jarak kurang lebih sekitar 30 an Km.

Melalui jalan berbelok dan sedikit terjal. Ternyata berbaur bersama masyarakat dan beberapa ibu ibu yang baru pulang dari pasar diatas angkot seru juga. Mengingat ini kali pertama, beberapa informasi dari mereka sangat bermanfaat untuk membantu saya menuju kesana. Tiba di Pasar Tanete, saya kemudian naik trayek Balangriri - Kajang. Jaraknya kurang lebih sekitar 25 kiloanlah.


Keterangan gambar: Daeng Syamsoe foto di depan tugu selamat datang di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi)


Kampung Balangriri. Sudah lama saya tidak kesini. Belum banyak perubahan di sana sini. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah ratusan hektar hamparan perkebunan karet serta beberapa pemukiman masyarakat setempat. Suasana begitu sejuk dan rindang. Berhubung ragu ragu, saya minta di antar oleh pak supir untuk bisa berhenti saja dulu di ex factory pengolahan karet mentah di area komplek pemukiman karyawan perkebunan London sumatera.



Keterangan gambar: Daeng Syamsoe foto di depan pintu gerbang kawasan adat Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi)


Untunglah kakak sepupu saya baru pulang dari kerja. Sehari hari pekerjaannya sebagai petugas harian mengontrol tenaga penyadap karet di area perkebunan karet PT. London Sumatera-Indonesia. Saya ajak kakak sepupu saya untuk ikut berpelesir sejenak ke Ammatoa. Ternyata penduduk asli tidak menjamin juga sering kesana. Kakak sepupu saya juga sedikit ragu-ragu. Karena takut mengecewakan saya, akhirnya kakak sepupu mengajak juga kedua temannya. Kata kakak, Utta Solahuddin ini mempunyai hubungan kekeluargaan dengan salah satu pemangku adat desa. Wah, Pucuk di cinta ulam tiba. Berbekal 2 sepeda motor butut lapangan keluaran tahun 70-an yang masih layak pakai, akhirnya kami berempat pun goes to Desa Adat.



Keterangan gambar: Jalan dusun di kawasan adat Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: daeng syamsoe)


Terus terang saya memang penasaran dan belum pernah menginjakkan kaki di tanah Toa- Kecamatan Kajang. Meski Bapak saya Asli Putra Daerah Bulukumba, seingat saya sewaktu kecil terkadang bapak hanya membawa saya berjalan jalan mengitari kebun karet dan tidak sampai ke sana. Hutan Karet dalam gambaran masa kecil saya sangatlah indah.

Dahulu, kami sering melihat beberapa ekor monyet kecil berlarian di antara rimbunnya pohon karet. Sekali waktu juga jika liburan SD tiba, saya sering diajak oleh paman (adik bapak) yang memang tinggal di dusun Mattoanging sebelah perkebunan berkeliling berjalan kaki sekedar untuk pergi berburu burung hutan di dekat sungai di tengah hutan karet. Sekarang beliau sudah lama pensiun sebagai mandor buruh penyadap karet.

Menurut beberapa referensi yang saya baca, Masyarakat adat Ammatoa tinggal berkelompok dalam suatu area hutan yang luasnya sekitar 50 km. Mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang mereka yakini.

Dari daerah Balangriri jalan kebun karet. Banyak mobil yang lalu lalang. Tetapi jika ingin ke desa adat sebaiknya menggunakan kendaraan karena belum ada sarana langsung yang bisa mengantar kesana. Kita mungkin bisa meminta bantuan dari peduduk setempat atau menyewa masyarakat yang bisa di jadikan sebagai tukang ojek dadakan. Atau kemungkinan terakhir adalah dengan berjalan kaki untuk sampai di pintu gerbang desa Adat.



Keterangan gambar: Daeng Syamsoe foto di depan baliho kawasan hutan Tana Toa Kajang. (foto: dok. pribadi)


Akhirnya tibalah saya di Pintu Gerbang Desa Adat. Tidak lupa saya memakai baju polisi hutan hasil pinjaman pak solahuddin yang kebetulan berwana hitam. Ini adalah syarat bagi setiap tamu yang ingin memasuki area kampung adat. Tidak mesti hitam polos. Minimal baju yang kita kenakan mayoritas warna hitamnya. Warna hitam untuk pakaian baju dan sarung yang kita kenakan menurut kakak sepupu adalah sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. Tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber kehidupan.



Keterangan gambar: Rumah penduduk dalam kawasan adat Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: daeng syamsoe)


Saya langsung berniat mengabadikan gerbang dengan kamera tetapi menurut teman sepupu saya, pak salahuddin, sebaiknya kita minta izin dulu dengan kepala dusun untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Dengan modal teman dari kakak sepepu saya, kami pun cukup pede untuk berharap bisa langsung masuk ke dalam desa. Suasana tampak sepi. Setelah berjalan kaki beberapa ratus meter dari gerbang kawasan adat, melalui jalanan berbatu yang ditata rapi dan rimbun pohon bambu, saya pun tiba di pertigaan jalan perkampungan Suku.



Keterangan gambar: Daeng Syamsoe foto di tangga Rumah Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok. pribadi)


Suku Kajang dalam lebih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka dibanding penduduk kajang luar yang tinggal di luar perkampungan. Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Tampak beberapa rumah yang berjejer dari utara ke selatan. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter. Rumah Amma Toa berada beberapa rumah dari utara. Tampak tulisan Ammatoa begitu kita naik ke atas rumah panggungnya.

Ini kali pertama saya berkunjung kesini. Bulu kuduk terasa merinding. Halusinasi akan mistis dan hal berbau magic berusaha saya hilangkan. Kesunyian mulai terasa. Apa saja bisa terjadi disini dengan hukum alam yang berlaku. Banyak rahasia rahasia alam yang tidak di ketahui. Akhirnya saya jadi salah bersikap. Karena masih awam dengan aturan dan tata tertib yg berlaku, saya memilih bungkam dan mengikuti gerak gerik kakak sepupu saja.

Ammatoa ternyata sedikit berbeda dari penggambaran saya. Yang ada di hadapan saya sekarang adalah sosok Ammatoa yang ramah, tenang, berperawakan sedang, berkulit putih dan sorot mata yang tajam tapi bersahabat. Sayang beliau tidak bisa di abadikan dalam beberapa kesempatan.

Menurut Pak Solahuddin, Pemangku adat Ammatoa sekarang adalah anak dari Ammatoa yang terdahulu. Ia dipilih berdasarkan proses alam dengan melalui tes ritual adat jauh di tengah rimbunya hutan yang hanyan di hadiri oleh beberapa tokoh adat Kajang. P Solahuddin menambahkan, Kadang kala orang yang sempat bersilaturrahim dengan ammatoa terkadang melihatnya dalam perawakan yang berbeda beda. Ammatoa suku kajang ini tidak pernah keluar dari kampung suku adat sampai akhir hayatnya. Paling banter ia hanya sampai di gerbang kampung dalam beberapa acara yang luar biasa termasuk menjemput pejabat Negara atau setingkat gubernur, Nah pada saat itulah kita bisa mengabadikan gambar beliau.

Merupakan pengalaman yang istimewa, saya bisa bersantap siang bersama anak dan istri Ammatoa saat itu. Ammatoa hanya duduk bersila di sudut ruangan dan memperhatikan kami. Tidak sia sia pak salahuddin ikut serta. Ternyata ia cukup ampuh dan mumpuni juga melloby kepala dusun sehingga Ammatoa bersedia meluangkan waktunya untuk beberapa saat.

Dalam bahasa bugis Konjo yang kental, mereka terlibat perbincangan yang akrab. Asap rook mengepul dari beberapa “menteri” Ammatoa.



Keterangan gambar: Kuburan penduduk di kawasan adat Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: daeng syamsoe)


Kembali ke rencana awal. Berhubung penasaran ingin melihat lihat sekitar, kami pun akhirnya mendapat restu untuk sekedar mengambil beberapa gambar sekitar dan juga melihat seorang ibu penghuni kampung sedang merendam sarung dengan pewarna hitam dari tumbuh tumbuhan sekitar. Semakin masuk kita berjalan, Pepohonan semakin lebat. Menuju ke rimba adat suku yang tidak terjamah.

Mengingat waktu yang cukup singkat dan waktu juga sudah sore. Kami rasa perjalanan hari ini cukup sudah. Kepala dusun menawarkan kami untuk bermalam saja di rumahnya. Beliau mengabarkan juga bahwa hari rabu pagi depan tepatnya tgl 1 April 2009, ada upacara adat dimana pembangunan salah satu rumah panggung warga akan di dilaksanakan prosesi adapt memberi atap dengan ritual suku kajang. Rumah baru tersebut kebetulan tidak jauh dari rumah utama Ammatoa. Sebuah tawaran yang cukup menarik. Kesempatan ini juga saya manfaatkan untuk sekedar berfoto bersama dengan kepala dusun lengkap dengan memakai passappu (tutup kepala) dan sarung hitam.



Keterangan gambar: Daeng Syamsoe foto bersama Kepala Dusun lengkap dengan memakai passappu (tutup kepala) dan sarung hitam. (foto: dok. pribadi)


Sayang kesempatan itu belum dapat kami penuhi mengingat aktivitas masing masing yang saling berbenturan. Sebelum pulang saya sempatkan lagi untuk mengabadikan baruga adat musyawarah suku kajang dan kuburan penduduk, itupun dengan seijin kepala dusun.



Keterangan gambar: Inilah baruga adat pertemuan yang menjadi tempat pertemuan adat di kawasan adat Ammatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. (foto: daeng syamsoe)


Sebenarnya banyak yang ingin saya abadikan sebagai oleh2 kenang kenangan tetapi terpaksa keinginan itu hanya tersimpan di dalam hati dikarenakan batasan dan kekhawatiran takut terkena bala jika melanggar aturan. Tapi kami berjanji suatu saat akan kembali lagi kesana untuk lebih berlibur, bersilaturahmi dan tentunya sekalian untuk lebih belajar lagi secara langsung mengenal adat istiadat dari warisan salah satu suku tertua di dunia. Suku Ammatoa- Desa Adat Kajang, Kabupaten Bulukumba.

Keterangan:
- Tulisan yang dimuat pada Sabtu, 28 Maret 2009, pada blog http://www.syamsoe.com/2009/03/ammatoa-suku-kajang-di-kab-bulukumba.html, saya copy paste pada hari Jumat, 1 Oktober 2010.
- Saya melakukan pengeditan kecil, tetapi tidak mengubah substansi tulisan.
- Tulisan ini saya anggap menarik dan memiliki nilai positif, sehingga saya meminta izin kepada penulisnya untuk memuat ulang tulisan dan foto-fotonya di blog ini.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

SUKU KAJANG, AMMATOA...Bulukumba, Sulsel




SUKU KAJANG, AMMATOA...Bulukumba, Sulsel



Oleh: Nizma Fadila
http://nizmafadila.multiply.com/journal/item/7/SUKU_KAJJANG_AMMATOA...Bulukumba_Sulsel
3 Agustus 2009

Perjalanan menikmati keindahan kabupaten Bulukumba, tidak hanya pantainya yang jernih, pasir putih yang lembut, tapi ada lagi keunikan budaya yang dimilikinya, SUKU AMMATOA...

Suku ini biasa disebut dengan suku Kajang...banyak sekali kemiripan budayanya dengan suku Baduy, Banten.



Keunggulan dari Bulukumba adalah, tempat pembuatan kapal Phinisi, kapal-kapal yang dibuat dari Kayu Besi kokoh dengan bentuk menyerupai kapal Christopher Columbus dari Inggris.



Ini tampak rumah penduduk ammatoa, sangat sederhana dan seragam karena mereka menjunjung tinggi nilai kesederhanaan. Jadi tidak ada di antaranya yang memiliki bentuk dan susunan rumah yang berbeda. Setiap rumah hanya memiliki satu kamar tidur, dan ceritanya hanya penganten barulah yang tidur di kamar tersebut, masing-masing rumah biasanya tidak lebih dari 2 kepala keluarga. Jadi, jika sang adik dari penganten baru menikah, si kakak harus segera meninggalkan rumah, karena selain tidak kebagian kamar mereka juga dituntut untuk mandiri. Sang orangtua mengalah tidur di luar, besarnya kasih sayang orang tua yah ???... hmmm...



Di rumah ini tidak ada perabotan rumah tangga, seperti kursi, tempat tidur, dsb, yang ada hanya lemari... isi rumah juga kosong, karena biasanya mereka tidur dan berkumpul di sana.

Sekalipun listrik sudah masuk di wilayah perbatasan kampung ammatoa, tapi mereka tidak menggunakan listrik.

Dilihat dari gambar di samping, pintu kamar hanya dari kain, meski demikian sederhana, mereka juga menggemari keindahan, terbukti dari terpasangnya berbagai poster artis di temboknya. Sekalipun mereka tidak mengenal siapa mereka karena tidak ada TV maupun radio di sekitarnya



Bentuk jendela di setiap rumah penduduk ammatoa sama, terbuat dari kayu dan bernako. Unik dan benar-benar sederhana...biar dibilang masih primitif, tapi mereka bersolek juga lho...lihat ada beberapa alat kosmetik dan kecantikan di atas jendela mereka.



Ini adalah tampak depan rumah Ammatoa dari dalam rumah, pintu masuk sejajar lurus menghadap tangga dan pintu rumah. mereka tidak punya teras rumah untuk duduk, melainkan untuk dapur dan merajut/ menganyam kain hitam mereka.

Philosopi kenapa dapur ada di muka rumah adalah karena mereka harus berbagi dengan sesamanya, keramahan mereka dinilai dari kesenangannya dalam berbagi apa yang mereka miliki di dapur dan disantap bersama-sama.



Teras di sayap kiri digunakan untuk menenun kain hitam, kain kehormatan mereka sendiri. Di sinilah kemiripannya dengan suku Baduy, Banten. Mereka juga tidak menggunakan sendal / sepatu kemana pun mereka pergi, tetapi mereka masih diperbolehkan untuk menggunkan kendaraan transportasi yang mereka bisa, tapi kebanyakan dari mereka memilih untuk berjalan kaki.

Mereka distrukturkan termasuk dalam dusun, sehingga kepala desa tetap dari masyarakat luar Ammatoa, dengan itu segala keputusan diambil secara musyawarah, antara kepala suku Ammatoa dengan kepala dusun serta kepala desa.

Satu hal yang terkenal dari Ammatoa adalah kepercayaan mistisnya yang sangat kental, sehingga harus hati-hati jika ingin masuk ke wilayah mereka.

Yang pasti, harus izin ke kepala Desa sekalian minjem baju hitam yang disewakan di kepala desa.

Unik, seru, dan mengesankan...

Sistem sosial politik serta budaya nya masih banyak lagi yang bisa dieksplore, sayang saat itu saya tiba jam 4 sore jadi tidak bisa banyak mengeksplore, tetapi ketika berdiskusi dengan kepala sekolah disana, banyak yang bisa kita dapatkan.

Ayo...kita lestarikan budaya Indonesia dengan VISIT INDONESIA...gak usah ke luar negeri dulu sebelum kamu tahu dan rasakan keindahan budaya dan alam Indonesia....kalo bukan dari kita, siapa lagi ????....

Keterangan:
- Tulisan yang dimuat pada 3 Agustus 2009 pada blog http://nizmafadila.multiply.com/journal/item/7/SUKU_KAJJANG_AMMATOA...Bulukumba_Sulsel, saya copy paste pada hari Jumat, 1 Oktober 2010.
- Saya melakukan beberapa perbaikan kata, tetapi tidak mengubah substansi, misalnya kata KAJJANG, saya ubah menjadi KAJANG.
- Tulisan ini saya anggap menarik dan memiliki nilai positif, sehingga saya meminta izin kepada penulisnya untuk memuat ulang tulisan dan foto-fotonya di blog ini.



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]