Senin, 25 Oktober 2010

Bupati Bulukumba Dilantik 9 November 2010

Bupati Bulukumba Dilantik 9 November 2010

Laporan: Aqsa Riandy Pananrang

Harian Tribun Timur, Makassar
Senin, 25 Oktober 2010
HTTP://WWW.TRIBUN-TIMUR.COM/READ/ARTIKEL/134282/BUPATI_BULUKUMBA

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Jadwal pelantikan dan pengambilan sumpah pasangan Bupati Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan-Syamsuddin (Zaidin) dipercepat direncanakan digelar 9 November mendatang.

Kepastian jadwal pelantikan itu dikatakan Kepala Biro Pemerintahan Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel Halvin Gau di kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Senin (25/10/2010). Sebelumnya, pelantikan Zaidin dijadwalkan berlangsung 29 Oktober 2010.

"Sudah ada petunjuk dan persetujuan langsung dari Pak Gubernur mengenai pelantikan itu. Yang lalu kan baru wacana dan perencanaan kita masih perlu penyesuaian jadwal gubernur, DPRD, maupun pemerintah daerah setempat," katanya.(*)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Mahasiswa Bulukumba Tolak Investor Asing

Mahasiswa Bulukumba Tolak Investor Asing

Laporan: Adin Syekhudin



Keterangan gambar: Mahasiswa asal Bulukumba yang menggelar aksi di Kantor DPRD Sulsel. Mereka menolak kedatangan investor asing dipelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bulukumba. (adin syekhudin/tribun timur)


Harian Tribun Timur, Makassar
Senin, 25 Oktober 2010

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba (KKMB) melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Sulsel, Senin (25/10). Mereka menolak rencana kedatangan investor asing datang di pelantikan Bupati-Wakil Bupati Bulukumba.

Demonstran hanya ingin ditemui oleh legislator asal Bulukumba untuk menyampaikan aspirasinya tersebut. Pada saat mahasiswa melakukan aksinya, anggota DPRD Sulsel tengah melakukan rapat komisi. *)



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Minggu, 24 Oktober 2010

Kenangan Lama Bersama Ajis Muin di Samarinda


Senin siang, 25 Oktober 2010, saya membuka facebook dan ternyata seorang teman mengirimi saya sebuah foto saat saya berada di Samarinda, belasan tahun silam. Saya lupa tahunnya, tetapi mungkin sekitar tahun 1996 - 1997. Waktu itu, saya ''berstatus'' wartawan olahraga di harian Pedoman Rakyat, Makassar, dan meliput pertandingan sepakbola antara PSM versus Putra Samarinda.

Perkenalkan Wisata Lewat Festival Pinisi


BUKA FESTIVAL. Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo (kedua dari kanan) didampingi Ketua DPRD Sulsel, HM Roem, Plt Bupati Bulukumba Azikin Solthan, dan Wakil Ketua DPRD Bulukumba Edi Manaf, saat membuka Festival Phinisi, di Bulukumba, Jumat, 22 Oktober 2010. (foto: arman/fajar)

Bumi Panrita Lopi di Tana Beru

Bumi Panrita Lopi di Tana Beru

Oleh : Susan Stephanie
(SULBAR & SULSEL)

23 Oktober 2010
http://aci.detik.com/read/2010/10/23/230526/1473253/1001/bumi-panritalopi-di-tana-beru


Keterangan gambar: Barisan Gading atau Tulang perahu yang jumlahnya bisa mencapai ratusan. (foto: susan stephanie/detik.com)


Ketika kecil, adakah yang pernah bercita-cita menjadi seorang pelaut tangguh?
Kalau iya, mungkin harus belajar dari suku Bugis di Sulawesi. Suku Bugis mempunyai sejarah panjang tersendiri yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Pada jamannya, mereka berlayar ke seluruh pelosok nusantara untuk berdagang rempah-rempah, hasil bumi dan laut menggunakan Kapal Pinisi buatan mereka sendiri.

Perjalanan kali ini membawa kami ke Tana Beru di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Di sinilah tempat berkumpulnya para Panritalopi, bahasa Bugis yang artinya Ahli Kapal.

Beberapa jenis kapal atau perahu yang dibuat di sini antara lain kapal nelayan, kapal penumpang, bahkan sampai kapal pesiar. Termasuk juga Kapal Pinisi kebanggaan masyarakat Bugis.

Harganya? Sebagai perbandingan, umumnya 1 kapal melayan kecil mencapai harga 65 juta rupiah. Peminatnya pun bukan hanya masyarakat lokal, tetapi juga mancanegara.



Keterangan gambar: Pian, yang bercita-cita menjadi polisi. (foto: susan stephanie/detik.com)


Dan di Tana Beru inilah, kami berkenalan dengan Pian. Seorang anak keturunan suku Bugis, yang tengah membantu ayah dan pamannya membuat sebuah kapal nelayan. Pian pun menjelaskan cara dan urutan dalam pembuatan kapal secara tradisional.

Bagian pertama yang dibuat adalah Lunas kapal, sebatang kayu memanjang di bagian bawah kapal, yang berguna untuk menjaga keseimbangan kapal ketika berlayar.
Lunas inilah yang menjadi ukuran patokan besar kecilnya sebuah kapal, semakin besar ukuran kapal, semakin panjang Lunas.

Yang berikutnya adalah Balok, terletak di atas Lunas, dan di Balok inilah biasanya mesin kapal dipasang. Setelah itu dibuatlah secara berurutan badan kapalnya, mulai dari Soting, Pengepe, dan Gading.

Semua bagian dari kapal ini disambung menggunakan pasak kayu, bukan paku besi, karena kayu tidak akan berkarat, melainkan akan memuai dan pada akhirnya menyatu dengan kapal secara keseluruhan.

Setelah kapal selesai dibangun, akan diadakan upacara dorong kapal di Tana Beru ini, tetapi sayang sekali kami tidak berkesampatan untuk menyaksikannya sendiri. Proses pembuatan kapal ini memakan waktu yang berbeda-beda, tergantung pada ketersediaan bahan dan juga dana.

Jika tidak ada halangan dalam pembuatan dan dengan jumlah pekerja yang cukup, 1 kapal nelayan kecil dapat selesai dalam jangka waktu 3-4 minggu.

Pian yang sangat fasih menjelaskan seluk beluk pembuatan kapal ini, ternyata sudah membantu membuat kapal sejak masih kelas 5 SD. Sekarang Pian sudah kelas 2 SMU. Menjadi polisi adalah cita-cita pertama Pian, yang kedua ingin kuliah jurusan perikanan di UnHas (Universitas Hassanudin). Ketika ditanya kenapa ingin menjadi polisi, Pian hanya tertawa ringan.



Keterangan gambar: Perahu nelayan yang tengah dibuat oleh Pian bersama keluarganya. (foto: susan stephanie/detik.com)


Pastinya jadi pelaut ataupun polisi, suku Bugis adalah suku yang tangguh.
Dan tahukah bahwa ternyata istilah bahasa Inggris Boogeyman itu awalnya diberikan oleh bangsa Eropa kepada orang-orang Bugis karena ketangguhan mereka selama berlayar di laut lepas.

Jadi kalau teman-teman mau bertemu dengan The Real Boogeyman dan melihat langsung pembuatan Kapal Pinisi, datanglah ke Tana Beru di Bulukumba, Sulawesi Selatan.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Tari Teatrikal Teater Kampong di Festival Phinisi 2010

Tari Teatrikal Teater Kampong di Festival Phinisi 2010

Oleh: Ivan Kavalera


Sumber:
- http://www.kavalera.co.cc/2010/10/tari-teatrikal-teater-kampong-di.html
- direkam pada 24 Oktober 2010

Teater Kampong mementaskan "Tari Teatrikal Talenta Panrita Lopi" sebagai salah satu kerja kreatif seniman-seniman lokal dalam Festival Phinisi 2010 di Bira, Bulukumba. Festival Phinisi 2010 berlangsung sepanjang 22-25 Oktober. Perhelatan tersebut diwarnai mozaik kegiatan yang didominasi identifikasi perahu phinisi sebagai ikon acara tersebut. Semisal Pabbitte Passapu dan Lomba Miniatur Perahu Phinisi dan lain-lainnya.

Pementasan "Tari Teatrikal Talenta Panrita Lopi" disutradarai oleh Dharsyaf Pabottingi, instrumen musik oleh Mattawang Daeng Maddatuang dan kawan-kawan, serta Umbo sebagai koreografer.

Pementasan Teater Kampong kali ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kelompok Studi sastra dan Teater Kampus STKIP Muhammadiyah Bulukumba. Teater Kampong masih seperti magma sebagaimana event-event sebelumnya. Sejak berdiri di Bulukumba pada tahun 1979 di bawah tangan dingin seniman-budayawan-teaterawan, Dharsyaf Pabottingi, Teater Kampong telah meraih berbagai penghargaan di tingkat regional dan nasional.

Hingga kini Teater Kampong masih tetap rutin menyelenggarakan festival teater tahunan, serta pelatihan teater pelajar dan mahasiswa di Bulukumba. Ketika dunia teater mengalami titik-titik cukup menyakitkan dalam kegelisahan global, Teater Kampong justru masih seperti karang. Masih kokoh berjaga di bawah daun-daun kelapa, di atas pasir putih dan perahu Phinisi.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Sabtu, 23 Oktober 2010

Banggar Malas, Rapat Batal

Banggar Malas, Rapat Batal

Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar
Sabtu, 23-10-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=54929


BULUKUMBA, UPEKS—Rapat pembahasan pelaksanaan pertanggung-jawaban APBD Bulukumba, tahun anggaran 2009, yang rencananya dilakukan Jumat (22/10) di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bulukumba, batal dilakukan.

Penyebabnya, anggota DPRD yang tergabung dalam Badan Anggaran (Banggar), malas datang. Bahkan, Ketua Banggar DPRD Bulukumba, Pahidin (PDK), juga tidak datang.
Sejumlah kepala SKPD di Pemkab Bulukumba, hanya bisa duduk santai di ruang rapat paripurna DPRD. Mereka hanya berbicara satu sama lain menunggu rapat Banggar dengan TAPD dimulai.

Kepala SKPD yang sejak pagi sudah datang, adalah Andi Syafrul Patunru (Kadis Keua-ngan), Andi Irwan Ijo (Asisten II), Rosali Andi Liong (Kepala Badan Penelitian), Suginna (kepala Inspektorat), Muhammad Daud Kahal (Kabag Humas), serta sejumlah pejabat lainnya.

Dari anggota Banggar DPRD yang hadir, adalah Zulkiflie Saiye (PBB), Abd Kahar Muslim (PSI), Hamzah Pangki (Golkar), serta HA Edy Manaf (PAN) wakil ketua DPRD.

Banyaknya anggota Banggar DPRD Bulukumba yang tidak hadir kemarin, dipicu legalitas Banggar DPRD Bulukumba yang dipimpin Pahidin diper-tanyakan. Anggota DPRD Bulukumba meragukan legalitas Banggar DPRD Bulukumba saat ini, karena tidak sesuai dengan Tatatertib (tatib) DPRD Bulukumba.

Selain tidak sesuai dengan tatib yang dibuat sendiri, Banggar DPRD Bulukumba juga tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 16/2010 tentang pedoman penyusunan tatib DPRD.

“Itu yang saya mau katakan, Banggar DPRD memang tidak sesuai dengan tatib dan PP 16,” kata Zulkiflie Saiye.

Zulkiflie sendiri mengaku, dirinya datang ke gedung DPRD Bulukumba bukan untuk menghadiri rapat Banggar.

“Bila rapat Banggar dimulai, saya akan keluar dan mengatakan Banggar tidak sesuai dengan aturan,” terang Zulkiflie.

Wakil Ketua DPRD Bulukumba, HA Edy Manaf, mengatakan rapat ditunda sampai Selasa pekan depan.

“Dibuat jadwal pembahasan hari Selasa nanti,” kata Edy Manaf kepada Siswadi, Kepala Bagian Risalah DPRD Bulukumba.



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Jumat, 22 Oktober 2010

Bupati Bulukumba Dilantik 29 Oktober 2010

Bupati Bulukumba Dilantik 29 Oktober 2010

Harian Ujungpandang Ekspres
Jumat, 22-10-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=54856

MAKASSAR, Upeks—Pelantikan Bupati/Wakil Bupati Luwu Utara yang direncanakan akan berlangsung pekan depan tepatnya 25 Oktober, terpaksa molor dan diagendakan ulang pada 1 November 2010 mendatang. Sementara Kabupaten Bulukumba, diundur 29 Oktober 2010 mendatang.

Menurut Kepala Biro Pemerintahan Daerah Pemprov Sulsel, Halvin Gau, rencana pelantikan bupati/wakil bupati terpilih ditunda untuk menyesuaikan agenda Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, yang cukup padat pekan depan.

“Kita menyesuaikan jadwal pelantikan bupati dan wakil bupati Lutra tersebut dengan agenda Pak Gubernur yang cukup padat,” jelasnya di Kantor Gubernur, Kamis (21/10).

Menurut Halvin, penundaan pelantikan tersebut memang murni untuk menyesuaikan jadwal Gubernur yang cukup padat dua pekan ini, bukan karena belum ada keputusan final dari Rapat Pimpinan dan Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Lutra, serta kesiapan pemerintah daerah (pemda) selaku pelaksana pelantikan.

Berbeda dengan pelantikan bupati/wakil bupati Lutra, pelantikan Bupati/wakil Bupati Bulukumba tetap direncanakan sesuai jadwal. Rencananya, bupati/wakil bupati terpilih hasil pemilukada langsung itu akan dilantik 29 Oktober mendatang.

Untuk mengisi kekosongan jabatan kosong satu di Kabupaten Bulukumba dan Luwu Utara untuk sementara, sebelum bupati/wakil bupati terpilih dilantik, Pemprov Sulsel telah menempatkan caretaker di dua kabupaten tersebut.

Di Kabupaten Bulukumba, Pemprov Sulsel menunjuk Kepala Inspektorat Sulsel, Azikin Solthan sebagai caretaker, sementara di Luwu Utara, Pemprov menunjuk Asisten I Pemprov Sulsel, A Herry Iskandar. ()



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Asisten I Lepas 418 Calon Jamaah Haji Bulukumba

Asisten I Lepas 418 CJH Bulukumba
- CJH Didominasi Ibu Rumah Tangga


Harian Ujungpandang Ekspres
Jumat, 22-10-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=54808

BULUKUMBA, UPEKS—Sebanyak 418 Calon Jamaah Haji (CJH) Bulukumba, dilepas secara resmi di Masjid Agung, Kamis (21/10). Pelepasan 418 CJH Bulukumba dilakukan Asisten I, Andi Mahrus Andis, mewakili Bupati Bulukumba.

Wakil Ketua DPRD Bulukumba, HA Edy Manaf (PAN) serta anggota DPRD Bulukumba, H Rudi Wachyudi, hadir di acara tersebut. CJH Bulukumba tahun ini terbagi dalam 2 kloter.
Yakni, kloter 26 yang akan berangkat pada tanggal 29 Oktober, serta kloter 33 yang bergabung dengan kloter Takalar, berangkat pada 3 November.

Dari 418 CJH Bulukumba itu, sebagian besar didominasi perempuan. Tercatat 277 CJH perempauan. Dari jumlah tersebut, 178 di antaranya adalah ibu rumah tangga.

Asisten I, Andi Mahrus, dalam sambutannya menyampaikan agar jamaah senantiasa menjaga kebersamaan, kerukunan, menjaga nama baik daerah Bulukumba dan lebih luas lagi menjaga nama baik Bangsa Indonesia. Mahrus Andis mengajak CJH memegang teguh budaya Bugis, “Mali Siparappe, Tallang Sipahua” (saling tolong-menolong).

Pelepasan secara resmi ini ditandai dengan penyerahan bendera Merah Putih secara simbolis kepada Ketua Rombongan CJH Bulukumba, Drs Irman Syam MSi. Dandim 1411 Bulukumba, Letkol Agung Senoaji, Kepala Kementerian Agama Bulukumba, Drs Syafruddin, Ketua MUI Bulukumba, serta pimpinan bank, juga hadir di acara pelepasan tersebut. ()


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Pejabat Bulukumba Malas Rapat

Pejabat Bulukumba Malas Rapat

Harian Ujungpandang Ekspres
Jumat, 22-10-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=54825

BULUKUMBA, UPEKS—Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bulukumba, gerah dengan sikap sebagian pejabat Bulukumba yang malas datang menghadiri rapat di gedung DPRD Bulukumba.

Padahal, pejabat sangat diharapkan kehadirannya di DPRD, dalam rangka membahas pelaksanaan penggunaan APBD Bulukumba tahun 2009. Saat ini, DPRD dengan Pemkab Bulukumba, tengah membahas pelaksanaan APBD 2009.

Pembahasan pelaksanaan pertanggung-jawaban APBD 2009 itu, sudah dalam tahap pembahasan di tingkat komisi. Hanya saja, Komisi C DPRD Bulukumba membatalkannya Rabu (20/10).

Komisi C membatalkan rapat, karena sebagian besar kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang diundang DPRD tidak datang.

“Ada dua orang yang datang, itupun diwakili. Karenanya rapat komisi C ditunda,” terang Andi Baso Mauragawali, anggota DPRD Bulukumba, Kamis (21/10).

Legislator dari Partai Buruh itu sangat kesal dengan sikap para pejabat yang seperti itu, pejabat malas datang rapat di DPRD.

“Kenapa bisa seperti ini, kepala SKPD yang menjadi mitra kerja komisi C tidak datang,” kata Andi Baso Mauragawali.

Dalam pantauan Upeks, rapat Komisi C dengan mitra kerjanya baru bisa dilakukan Kamis kemarin.

Bupati Bulukumba, Azikin Solthan, serius menanggapi pejabat Bulukumba yang malas datang rapat ke DPRD Bulukumba. Sekda HA Untung AP, mengaku akan memberikan teguran keras kepada pejabat yang malas datang ke DPRD. Sekda menyiapkan surat teguran.

Sementara anggota DPRD Bulukumba, Amiruddin (PSI), menyindir rekannya yang malas datang menghadiri rapat paripurna DPRD Bulukumba. Dalam rapat paripurna DPRD Bulukumba yang dipimpin Wakil Ketua DPRD, Husbiannas Alsi, Selasa (19/10) lalu, Amiruddin melakukan interupsi terkait legislator malas.

Rapat paripurna sering terlambat dimulai, karena belum memenuhi kuorum untuk dimulai rapat paripurna. Rapat paripurna baru dimulai jelang Pukul 10.00 WITA, padahal, di undangan yang beredar rapat paripurna dimulai pukul 09.00 WITA.

“Ini perlu perhatian khusus,” terang anggota DPRD Bulukumba, Amiruddin.

Anggota DPRD lainnya, H Bahri, juga sangat kesal dengan tingkat kehadiran anggota DPRD. Ketika rapat paripurna tersebut dimulai, tercatat ada 15 anggota DPRD yang tidak hadir tanpa keterangan.

“Saya sangat cemas dengan tingkat kehadiran anggota DPRD di dua sidang paripurna berturut-turut. Ini sudah sangat krusial yang harus dipecahkan oleh pimpinan,” terang H Bahri, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Bulukumba.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Kamis, 21 Oktober 2010

Jamaah Calon Haji Bulukumba Didominasi Ibu Rumah Tangga

Jamaah Calon Haji Bulukumba Didominasi Ibu Rumah Tangga

http://www.bipnewsroom.info/index.php?_language=Indonesia&_mainNo=

Bulukumba 21/10/2010 (Kominfo-Newsroom) Sebanyak 418 jamaah calon haji Kabupaten Bulukumba dilepas secara resmi Kamis, 21 Oktober 2010, di Masjid Agung, Bulukumba. Tahun ini jamaah perempuan lebih mendominasi yakni 277 orang, dan sebanyak 178 di antaranya adalah ibu rumahtangga.

Jamaah Calon haji Bulukumba terbagi dalam 2 kloter yakni kloter 26 yang akan berangkat pada tanggal 29 Oktober 2010 dan kloter 33 yang bergabung dengan kloter Takalar, berangkat pada 3 Nopember 2010.

Dari jenis kelamin, jamaah perempuan lebih mendominasi yakni 277 orang dan sebanyak 178 adalah ibu rumahtangga. Sedangkan kecamatan yang terbesar jamaahnya adalah Ujungbulu yakni 113 orang.

Asisten I Pemda Bulukumba Andi Mahrus, dalam sambutannya saat melepas jamaah di Masjid Agung Bulukumba, Kamis (21/10), menyampaikan agar jamaah senantiasa menjaga kebersamaan, kerukunan, serta nama baik daerah Bulukumba dan lebih luas lagi menjaga nama baik bangsa Indonesia.

Peminat haji di Bulukumba termasuk yang terbesar di Sulawesi Selatan, sebanyak 4.110 orang masih dalam daftar tunggu, artinya memerlukan waktu 10 tahun untuk memberangkatkan semuanya. (MC Bulukumba/Risal/rm)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Rabu, 20 Oktober 2010

Kas Pemkab Bulukumba Kosong

Kas Pemkab Bulukumba Kosong

Harian Ujungpandangekspres, Makassar
Kamis, 21-10-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=54729&jenis=Fokus

BULUKUMBA, UPEKS—Fraksi Golkar di DPRD Bulukumba, mempertanyakan tidak adanya uang di kas Pemkab Bulukumba. Kosongnya uang dikas mulai mencuat, setelah sejumlah rekanan mengeluh karena tidak bisa mencairkan uang. Alasannya, uang lagi kosong di kas.

“Kami mempertanyakan ke-napa bisa seperti ini. Kas Pemkab Bulukumba lagi kosong. Kontraktor mau mencairkan uang tapi tidak bisa karena tidak ada uang,”kata Hamzah Pangki, anggota DPRD Bulukumb dari Fraksi Golkar.

Sekretaris DPD Partai Golkar Bulukumba mengungkapkan hal itu usai sidang paripurna DPRD Bulukumba dengan agenda penyampaian jawaban bupati atas pemandangan umum anggota DPRD terhadap laporan pelaksanaan APBD 2009.

Hamzah Pangki mengatakan, saat ini Pemkab Bulukumba tengah menunggu pencairan DAU (dana alokasi umum) dan dana perimbangan dari provinsi yang jumlahnya sekitar Rp4 miliar.

Terkait dengan kosongnya kas Pemkab Bulukumba, Hamzah mengaku akan sangat mempe-ngaruhi pembangunan di Bulukumba. Pekerjaan rekanan akan terganggu, hambat proyek fisik.

“Oleh karena itu, saya menyarankan agar uang itu dimenej dengan baik, agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” pinta Hamzah Pangki.

Asisten III Andi Bau Amal, yang dikonfirmasi membantah kosongnya uang di kas Pemkab Bulukumba. Menurut Andi Bau Amal, uang ada dikas, hanya saja, mungkin peruntukannya lain, bukan untuk membayar rekanan.

“Gaji PNS masih dibayar, itu artinya uang masih ada dikas. Kalau gaji PNS sudah tidak bisa dibayar, berarti, kas kita memang sudah kosong,” terang Andi Bau Amal, di kantor bupati kemarin. ()


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Catatan Atas Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel





Terlepas dari berbagai kekurangan atau kontroversi yang berkembang mengenai program pendidikan dan kesehatan gratis di Sulsel, kita harus memberi apresiasi positif kepada Pemprov Sulsel, serta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di daerah ini atas dilaksanakannya program pendidikan dan kesehatan gratis tersebut. (Foto: Asnawin)

Selasa, 19 Oktober 2010

Ruang Tamu Amma Toa


Keterangan gambar: Rumah Amma Toa di Kajang, Bulukumba (Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin)


Ruang Tamu Amma Toa

Oleh Muhammad Ridwan Alimuddin


Panyingkul.com
Kamis, 30-11-2006
http://www.panyingkul.com/view.php?id=271&jenis=kaba

Citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin melalui pengamatan sederhananya tentang penataan ruang tamu, menuliskan perbedaan kehidupan masyarakat Kajang yang masih tinggal di dalam kawasan adat dengan yang sudah berbaur dengan masyarakat luar. Dituliskannya, bahwa ruang tamu adalah alat komunikasi sang pemilik rumah untuk menunjukkan identitasnya kepada tetamu. (p!)

Saya pertama kali datang ke kawasan adat Kajang, Bulukumba pada tanggal 16 September 2004. Untuk keperluan riset, dokumentasi dan pengambilan gambar kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan adat ini, kita harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Amma Toa, sang pemimpin adat.

Setelah berjalan kaki beberapa ratus meter dari gerbang kawasan adat, melalui jalanan berbatu yang ditata rapi dan rimbun pohon bambu, saya tiba di perkampungan Suku Kajang yang masih teguh memegang adat dan tradisi moyang mereka. “Orang Kajang dalam”, demikian penyebutannya untuk membedakan dengan orang Kajang yang bermukim di luar kawasan adat.

Rumah-rumah panggung yang semuanya menghadap ke barat tertata rapi, khususnya yang berada di Dusun Benteng tempat rumah Amma Toa berada. Di tempat ini, terdapat tujuh rumah yang berjejer dari utara ke selatan. Di depan barisan rumah terdapat pagar batu kali setinggi satu meter. Sederhana, tapi terlihat elegan layaknya sebuah benteng. Rumah Amma Toa berada di rumah keempat dari utara.

Pertama kali datang ke kawasan Amma Toa, otak saya yang dipenuhi “cerita menyeramkan” tentang Kajang, misalnya, “akan kena kutukan bila tak berbaju hitam, bila melanggar aturan, dan bila mengambil foto Amma Toa, film akan rusak”. Setelah menunggu beberapa saat, karena sedang berlangsung rapat adat di atas rumah Amma Toa, saya naik ke rumah Amma Toa. Rumah Amma Toa, baik dari luar maupun dari dalam sangat sederhana.



Keterangan gambar: Pintu masuk. (Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin)



Dindingnya hanya terbuat dari batang bambu bulat yang ditempa membentuk lembaran, lantai terbuat dari bilah-bilah bambu, tiang dari pohon bitti yang tak lurus, dan atap dari daun rumbia. Demikian juga dengan dinding di dalam rumah, terbuat dari bahan alami. Adapun bagian langit-langit rumah beralaskan papan, yangg dimanfaatkan sebagai ruang tempat menyimpan hasil panen (padi dan jagung). Alasan menggunakan papan agar bulir padi dan jagung dapat tersimpan rapi, tidak berjatuhan mengotori bagian tengah rumah.

Salah satu kekhasan rumah orang Kajang kawasan dalam, adalah dapurnya yang berada di ruang tamu. Dapurnya berada di sisi kiri pintu, berupa ruang kecil tempat menyimpan guci air minum, tempat mencuci piring, peralatan masak dan bahan masakan berada. Ada banyak makna mengapa dapur persis ada di ruang tamu, salah satunya adalah simbol betapa orang Kajang menghormati tamunya. Di lantai ruang tamu Amma Toa yang ditutupi tikar banyak terdapat bantal sebagai sandaran punggung tamu yang datang. Ya, rumah Amma Toa (dan rumah-rumah lain di dalam kawasan adat) tidak memiliki kursi. Di dinding rumah pun tidak tampak foto, gambar, dan hiasan lainnya, kecuali sarung hitam yang tergantung dan tanduk kerbau di salah satu tiang rumah. Kawasan adat ini pun belum dialiri listrik, jadi jangan berharap menemukan perangkat elektronik.



Keterangan gambar: Seorang perempuan Kajang membersihkan beras di dapur yang ada di ruang tamu. (Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin)


Lebih Moderen

Kurang lebih satu bulan kemudian, di tengah bulan puasa dua tahun lalu, saya kembali datang ke kawasan adat Amma Toa. Kali ini saya sempatkan bermalam di salah satu rumah perangkat adat. Di dalam struktur formal pemerintahan, tuan rumah ini menjabat Kepala Dusun Benteng. Rumahnya merupakan rumah ketiga ke arah utara dari rumah Amma Toa.

Rumahnya sedikit “mewah” dibanding rumah Amma Toa. Dinding, salah satu petak lantai, dan sekat antar-ruang terbuat dari papan, bukan dari bambu. Juga agak “moderen”, karena salah satu dinding rumah dihiasi banyak foto yang berada di dalam bingkai berkaca yang sederhana, baik bingkai dari bahan plastik maupun dari bingkai yang terbuat dari batangan kayu es krim (orang menyebutnya “stik es miami”), jam dinding (yang masih terbungkus plastik!), dan kalender.

Salah satu tikarnya pun bukan dari buatan setempat melainkan tikar Kalimantan, yang terbuat dari rotan kecil dan warnanya kuning gading. Di rumah itu tergantung sarung hitam, ikat kepala, dan baju kaos dan jaket yang diangin-anginkan. Rumah kepala dusun sudah dihiasi tiga tanduk kerbau yang menandakan paling tidak sudah tiga kali upacara pernikahan di rumahnya. Di ujung tanduk kerbau tergantung parang dan songkok hitam.



Keterangan gambar: Ruang tamu Kepala Dusun. (Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin)



Sama seperti rumah Amma Toa, dapur juga berada di sisi kiri rumah, tepat di samping pintu. Perbedaan dengan rumah Amma Toa, dapur sudah ditutupi sekat dari papan. Jadi kalau tidak menengokkan kepala ke dalam, suasana dapur tak terlihat. Di samping pintu masuk ke ruang bagian belakang terdapat tangga kecil yang menuju loteng. Tangganya unik, terbuat dari kayu lalu dibentuk sedemikian rupa menyerupai tanduk kerbau.

Ruang tamu orang Kajang di kawasan adat mempunyai beberapa fungsi, selain untuk menerima tamu juga untuk beristirahat (khususnya suami dan anak laki-laki), tempat makan, dan tempat kaum perempuan membersihkan beras.

Kajang Luar Sangat Moderen

Bagaikan bumi dan langit, rumah orang Kajang yang berada di luar kawasan jauh lebih “moderen dan kompleks”. Sebagai contoh adalah rumah salah satu anggota DPRD Bulukumba yang juga salah satu anggota dewan adat Kajang. Rumahnya terletak 3 kilometer dari rumah Amma Toa. Rumah dilengkapi beberapa kamar (ada khusus untuk tamu), sudah ada kamar mandi, tikar permadani, televisi 20 inci, dan beberapa peralatan rumah tangga modern. Ruang tamunya cukup megah, kursi empuk yang bagian atas sandarannya berukir kepala garuda, dan di dinding terpasang beberapa foto keluarga berukuran besar, yang lebih besar dari poster.

Rumah orang Kajang yang lain pun (di luar kawasan) tak berbeda jauh. Sudah menggunakan listrik, peralatan elektronik, dinding rumah dari papan yang tercat rapi, dan foto-foto yang memperlihatkan “dinamika anggota keluarga.”

Orang Kajang di dalam kawasan adat terkenal akan keteguhannya memegang tradisi. Tapi, perlahan tapi pasti, simbol-simbol modernisasi mulai menyusup. Hal ini dapat disaksikan dari ruang terpenting di rumah mereka, ruang tamu. Ya, rumah Amma Toa masih sangat sederhana, tanpa embel-embel di dinding rumahnya. Namun itu tak berarti rumah-rumah orang Kajang yang juga di dalam kawasan adat demikian juga adanya. Rumah dua anggota dewan adat Kajang (meski salah satunya berada tinggal di luar kawasan adat) mencerminkan hal itu.

Meski tanpa apa-apa di ruang tamunya, itu tak berarti tak menyimbolkan apa-apa. Dengan kata lain, pada saat yang sama, Amma Toa sedikit-banyak berperilaku sebagaimana pemilik rumah yang lain. Ia (juga) menyampaikan kepada orang yang hadir di rumahnya, bahwa “Inilah saya, hidup sederhana”.

Orang lain, lewat penataan ruang tamunya, menyampaikan “Saya intelektual, ada banyak buku di ruang tamuku” atau “Saya seorang haji, lihatlah fotoku waktu di Goa Hira dan di atas punuk unta”. Ada juga yang ingin menjelaskan, “Saya mendidik anak dengan baik, lihatlah foto-foto wisuda anakku” atau “Saya bukan orang sembarangan, ada fotoku bersama pejabat”. Di kampung saya di Mandar ada yang berpesan begini: “Saya sering menang lomba perahu, lihatlah pialaku berjejer di atas lemari” atau “Saya orang beragama, ada kaligrafi Allah dan Muhammad di dindingku”. Tapi tak sedikit juga yang mengkomunikasikan hal ini: “Saya mengidolakan artis AFI, makanya posternya ada di dinding ruang tamu”.

Nah, bagaimana dengan ruang tamu anda?(p!)

*Citizen reporter Muhammad Ridwan Alimuddin dapat dihubungi melalui email sandeqlopi@yahoo.com



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Orari Bulukumba Bantu Publikasi Festival Phinisi

Orari Bulukumba Bantu Publikasi Festival Phinisi

Kominfo Newsroom
http://www.bipnewsroom.info/index.php?_language=Indonesia&_main


Bulukumba, 19/10/2010 (Kominfo-Newsroom) Segenap jajaran amatir radio lokal di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ikut aktif melakukan publikasi kegiatan Festival Phinisi yang digelar di Bulukumba dari 22-25 Oktober 2010.

Publikasi tersebut ditujukan untuk memperkenalkan potensi wisata dan budaya lokal yang ada di Kabupaten Bulukumba kepada seluruh amatir lokal lain maupun masyarakat sekitar melalui "orari cek in net" selama tiga malam pada frekwensi 2 meter band 145.790 Mhz.

Drs Aprisal dengan licensi YD8DAK (sekretaris orlok bulukumba) mengatakan, salah satu komitmen amatir radio yang ada di lokal Bulukumba dalam rangka memajukan Kabupaten Bulukumba ke depan adalah berpartisipasi dalam setiap kegiatan pemerintah daerah dalam menyukseskan kegiatan apapun khususnya dalam publikasi.

Sesuai kode etiknya Amatir Radio Adalah Seorang Patriot. Ia selalu siap sedia dengan pengetahuan dan stasiun radionya untuk mengabdi kepada negara dan masyarakat.

Orari lokal Bulukumba juga akan mengadakan kegiatan pada rangkaian Festival Phinisi pada 24 Oktober 2010 berupa "Phinisi Autodubling Mobile 2010" di lokasi festival. "orari cek in net" selama tiga malam (19-21 Oktober 2010) pada frekwensi 2 meter band 145.790 Mhz..

Acara tersebut adalah kegiatan yang mempublikasikan kegiatan Festival Phinisi ke amatir lokal lain sehingga para amatir dari lokal lain berkunjung ke Bulukumba dengan beberapa manfaat.

Selain bersilaturahmi antara sesama amatir, mereka juga diharapkan berwisata ke tempat festival dan juga bisa mengetahui budaya lokal di daerah tersebut. (MC bulukumba/rizal/toeb)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Senin, 18 Oktober 2010

Guru Honorer Kecewa Tak Dapat Penjelasan


Illustrasi foto guru honorer sedang melakukan aksi unjukrasa. Puluhan guru honorer di Kabupaten Bulukumba mendatangi gedung DPRD setempat, Senin, 18 Oktober 2010. Mereka mengaku kecewa karena tidak mendapat penjelasan dari pihak yang berkompeten, mengapa nama mereka tidak diusulkan ke Menpan untuk pengangkatan CPNS. (Foto: TEMPO/Subekti)

-------------------------------------

Guru Honorer Kecewa Tak Dapat Penjelasan
- Minta Bertemu Tim Verifikasi Berkas


Harian Tribun Timur, Makassar
Selasa, 19 Oktober 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/133320/Guru-Honorer-Kecewa

Bulukumba, Tribun - Puluhan guru honorer di Kabupaten Bulukumba yang mendatangi gedung DPRD setempat, Senin, 18 Oktober 2010, mengaku kecewa lagi. Pasalnya, mereka tidak mendapat penjelasan dari pihak yang berkompeten, mengapa nama mereka tidak diusulkan ke Menpan untuk pengangkatan CPNS.

Padahal, mereka mengklaim mengantongi SK bupati, yang ditandatangani Bupati Bulukumba ketika itu, A Patabai Pabokori, tahun 2004.

Mereka berharap mendapat penjelasan dari tim yang menyeleksi berkas, yakni pihak sekretaris daerah, inspektorat, dan badan kepegawaian daerah (BKD).

Para guru honorer ini datang ke gedung parlemen, berdasarkan hasil pertemuan mereka dengan Komisi A DPRD Bulukumba dan inspektorat, pekan lalu.

Ketika itu, para guru ini juga kecewa, karena tidak mendapat penjelasan mengepa berkas sekitar 40 guru honorer tidak lolos untuk CPNS. Karenanya, mereka datang lagi ke DPRD untuk mengadu.

"Kami datang ke sini menuntut hak sebagai guru honorer yang di-SK-kan oleh Pak Patabai sejak tahun 2004 lalu. Kenapa berkas kami tidak lolos," kata Rudi Tahas, perwakilan guru honorer, ketika menyampaikan aspirasi.

Para pendemo kemudian silih berganti menyampaikan uneg-unegnya. Termasuk menyampaikan kekecewaannya kepada tim verifikasi berkas.

Karena tidak ada kejelasan dan solusi, mereka memilih pulang. Rencananya, mereka akan datang lagi, Selasa (19/10) hari ini.

Mereka mendesak DPRD untuk mempertemukan dengan sekda, BKD, dan inspektorat sebagai tim verifikasi.

Pada pertemuan sebelumnya, sempat terjadi adu mulut antara guru honorer dengan Kepala Inspektorat Bulukumba, Kr Suginna.

Jangan Dipojokkan

PADA hari yang sama, berlangsung rapat dengar pendapat antara Komisi A DPRD Bulukumba dengan sekda, inspektorat, dan BKD Bulukumba.

Dengar pendapat ini terkait tidak diakomodirnya sekitar 40 tenaga honorer untuk diusulkan menjadi CPNS.

Pada kesempatan itu, Kepala Inspektorat Kr Suginna meminta semua pihak untuk tidak memojokkan inspektorat.

"Karena yang terlibat dalam verifikasi berkas tenaga honorer bukan hanya inspektorat, tapi tim. Tim ini terdiri atas sekda, BKD, dan inspektorat," tegasnya.

Sedangkan Sekda A Untung Pangky ketika diminta oleh DPRD memberi penjelasan kepada perwakilan guru honorer yang menunggu di ruang rapat paripurna, mengatakan, akan melakukan verifikasi ulang sebelum menyampaikan kepada guru honorer itu.

"Kami akan lakukan verifikasi dulu. Nanti setelah itu, baru kami sampaikan ke mereka," kata A Untung.

Sampaikan Secara Transparan

SEMENTARA anggota DPRD yang menerima aspirasi para guru honorer, Rudi Wahyudi, meminta tim verifikasi segera menyampaikan siapa yang berhak lolos dan yang tidak.

"Tim verifikasi harus menyampaikan secara transparan tentang siapa yang berhak lulus dan yang tidak. Jangan mengambil hak orang lain. Tolonglah sampaikan dengan jujur," kata Rudi. (smb)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Darah Ambon di Antara Bugis dan Pinisi



NOVEL BUGIS. Perempuan itu bernama Jacqueline Tuwanakotta. Dia asli Ambon, Maluku. Sudah sebulan lebih dia di Makassar untuk merampungkan novel yang ditulisnya sejak setahun lalu. Meski bukan asli Sulsel, namun memilih menulis novel mengenai budaya Bugis. Novel itu diberi judul "Bugisku Tak Sekadar Pinisi". (Foto: harian Fajar)

------------------

Jac, Pramugari Garuda Penulis Novel
- Darah Ambon di Antara Bugis dan Pinisi


Harian Fajar, Makassar
Jumat, 8 Oktober 2010
http://news.fajar.co.id/read/106823/127/darah-ambon-di-antara-bugis-dan-pinisi

BAGAIMANA "wajah" Bugis dalam sebuah novel? Nantikan.

SESOSOK perempuan bertubuh tinggi dan berwajah manis dengan rambut ikalnya diikat, berkunjung di Redaksi FAJAR di lantai empat Fajar Graha Pena, Rabu, 6 Oktober. Dia bukan perempuan biasa.

Perempuan itu bernama Jacqueline Tuwanakotta. Dia asli Ambon, Maluku. Sudah sebulan lebih dia di Makassar untuk merampungkan novel yang ditulisnya sejak setahun lalu. Meski bukan asli Sulsel, namun memilih menulis novel mengenai budaya Bugis.

Novel itu diberi judul "Bugisku Tak Sekadar Pinisi", yang rencananya akan diluncurkan 12 November mendatang di Kampus Unhas. Namun siapa sangka, Jacqueline yang akrab disapa Jac ternyata bukan berlatar belakang seorang penulis.

Profesinya adalah pramugari pesawat Garuda. Sudah 15 tahun Jac menekuni profesi yang telah membawanya keliling Indonesia dan dunia ini. Rupanya, syndrome jenuh juga menghinggapinya sehingga memilih beralih profesi sebagai penulis novel.

"Saya memang asli Ambon tetapi lebih tertarik menulis novel tentang kebudayaan Bugis. Sebab, di Indonesia hanya ada dua daerah yang kebudayaannya diakui dunia sangat unik dan tua yakni Bugis dan Batak," papar Jac.

Dalam novel setebal 200 halaman itu, Jac lebih banyak mengupas tentang pesan yang terkandung dalam epos I La Galigo. Tak hanya itu, Jac juga banyak menceritakan tentang kehebatan perahu pinisi yang menjelajahi dunia. Padahal, perahu tradisional tersebut tidak menggunakan paku, melainkan pacak sebagai alat untuk merekatkan kayu sebagai bahan utama perahu.

"Daya tarik lainnya bagi saya sehingga banyak bercerita soal pinisi, karena ternyata pinisi ini dibuat oleh orang Lemo, Bulukumba. Sementara yang menggunakan perahu tersebut adalah Sawerigading yang berasal dari Luwu," sebut Jac.

Agar novel yang ditulisnya lebih mengena di hati para pembaca novel di daerah ini, Jac mengaku sempat menetap di Tanjung Bira, Bulukumba, selama sepekan. Dia lebih banyak bergaul dengan nelayan guna melengkapi referensi novelnya.

"Tak hanya di Bira, saya juga sempat masuk ke kawasan Ammatoa Kajang. Untuk merampungkan novel tersebut, saya butuh waktu satu setengah tahun. Sebab, menulis novel tentang Bugis ini cukup sulit," ungkap dia.

Ke depan, Jac mengaku akan lebih serius menggeluti bidang menulis ini dan berencana membuat novel lagi tentang kebudayaan daerah lainnya di Indonesia. Konsekuensinya dia lebih memilih melepaskan pekerjannya sebagai pramugari Garuda yang sudah digelutinya selama 15 tahun.

"Saya ingin generasi muda tahu budaya kita, lewat novel yang saya buat. Menulis ternyata sebuah profesi yang sangat menarik bagi saya," tegas Jac. (ramah@fajar.co.id)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Budaya Bugis itu Beda


BUKU BUGIS. Sejatinya, Jacqueline, berprofesi sebagai pramugari di maskapai penerbangan nasional. Keseringan bertemu dengan orang-orang Bugis, membuatnya tertarik. Dia menghunting semua buku yang terkait dengan Bugis, lalu akhirnya dia pun menulis buku tentang Bugis. (Foto: Harian Fajar)

-----------


Budaya Bugis itu Beda
-Jacqueline Tuwanakotta (Penulis Novel "Bugisku Tak Sekadar Phinisi)

Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar
Kamis, 07-10-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=53837

Sejatinya, Jacqueline, berprofesi sebagai pramugari di maskapai penerbangan nasional. Keseringan bertemu dengan orang-orang Bugis, membuatnya tertarik. Dia menghunting semua buku yang terkait dengan Bugis, lalu akhirnya dia pun menulis buku tentang Bugis.

Untuk menulis novel dengan judul "Bugisku Tak Sekadar Phinisi", Jacqueline pun rela tinggal di Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba, selama seminggu.

"Saya mengetahui kedua kisah tersebut (sejarah Phinisi dan I La Galigo) dari kedua orang tua saya. Sejak kecil, saya tahu dari orang tua saya, katanya, hanya ada dua pelaut asli di dunia ini, yaitu Orang Bugis dan Ambon," ungkapnya, saat berkunjung ke redaksi Harian Ujungpandang Ekspres, Rabu (5/10), kemarin.

Di bukunya yang sebentar lagi akan dilaunching, Jacqueline memadukan unsur dengan apik Budaya Bugis, olahraga seperti A'raga dan agama. Olahraga A'raga biasa dimainkan empat sampai lima orang dengan menggunakan bola yang terbuat dari rotan.

"Saya bahkan mengikuti anak-anak yang akan pergi mengaji. Ini saya lakukan untuk mengetahui sejauh mana budaya Bulukumba, kehidupan masyarakatnya, dan hal-hal yang menarik lainnya," katanya.

Menurut pramugari ini, Perahu Phinisi sangat unik karena tidak memakai paku. Bahkan, hanya menggunakan paca.

"Inilah keunikannya. Makanya, Phinisi terkenal di luar negeri," ungkapnya.

Bahkan, dari hasil penelusuran dari membaca buku dan pesiar ke sejumlah negara, dia semakin yakin, Kapal Phinisi, merupakan dasar semua negara dalam membuat kapal.

"Di Jeddah, misalnya, saya melihat menara tertinggi di sana, dan modelnya menyerupai Kapal Phinisi. Ini membuktikan Bugis dan Kapal Phinisinya sangat mendunia," ujarnya.

Sayangnya, lanjutnya, banyak anak muda sekarang yang justru bangga membicarakan budaya barat, ketimbang budaya sendiri yang tak kalah kayanya. ()


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Gadis Maluku Tulis Novel Tentang Orang Bugis



NOVEL BULUKUMBA. Sebuah novel yang mengisahkan tentang orang Bugis asal Kabupaten Bulukumba yang memilih menjadi pesepakbola profesional dari pada menjadi nelayan di kampungnya segera diluncurkan. Judulnya masih dirahasiakan. Penulisnya Jacqueline Fiore Tuwanakotta.

----------------------------

Gadis Maluku Tulis Novel Tentang Orang Bugis Bulukumba

Harian Tribun Timur, Makassar
Kamis, 7 Oktober 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/131359/Gadis-Maluku-Tulis-Novel

SEBUAH novel yang mengisahkan tentang orang Bugis asal Kabupaten Bulukumba yang memilih menjadi pesepakbola profesional dari pada menjadi nelayan di kampungnya segera diluncurkan. Judulnya masih dirahasiakan.

Peluncuran novel perdananya itu akan digelar di Universitas Hasanuddin, kampus Tamalanrea, Makassar, 12 November mendatang.

Yang menarik, penulis novel dengan tebal sekitar 200 halaman itu adalah seorang wanita berdarah Ambon. Namanya, Jacqueline Fiore Tuwanakotta. Sehari-hari ia bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airlines (GIA) sejak 1996 lalu hingga sekarang.

Lajang kelahiran Bangka, 12 November 1975 ini rupanya tertarik menulis novel tentang pemuda Bugis tersebut rupanya didorong oleh ketertarikannya dengan kisah-kisah keunikan tentang pelaut Bugis dan perahu Pinisi.

"Cerita bahwa orang Bugis adalah pelaut ulung itu saya dengar sejak kecil dari orangtua saya sendiri. Tapi novel ini saya tulis sejak satu setengah tahun lalu. Saya menulisnya di sela-sela rutinitas kerja," ujar Jacqueline saat bertandang di kantor Tribun, Jl Cenderawasih, Makassar, Rabu (6/10) malam.

Untuk melengkapi data dan penggambaran pada novelnya itu, wanita pengagum Pramoedya Ananta Toer dan Tan Malaka ini menyempatkan bermukim di Bulukumba selama 10 hari, Agustus lalu.

"Di sana saya sempat berkunjung di kawasan pembuatan perahu pinisi, Desa Lemo, dan Desa Ammatoa di Kecamatan Kajang. Di sana saya banyak mendapat pelajaran dan pengetahuan tentang budaya mereka," tambah wanita yang telah berkunjung ke berbagai kota besar di dunia ini. (jumadi mappanganro)



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Babi Hutan Merajalela di Bulukumba

Babi Hutan Merajalela di Bulukumba

Babi hutan makin merajalela di Bulukumba. Binatang liar tersebut memakan buah-buahan dan tanam-tanaman, merusak padi dan tanaman lainnya, serta memakan binatang piaraan seperti ayam dan itik. Ratusan petani di beberapa kecamatan tak bisa berbuat banyak menghadapi babi hutan tersebut.

Jufri, salah seorang petani di Desa Swatani, Kecamatan Rilau Ale, mengatakan, para petani dibantu masyarakat setempat dan dipimpin kepala desa, sudah pernah melakukan perburuan babi hutan, tetapi hasilnya hampir nihil, karena babi hutan sulit ditemukan tempat persembunyiannya.

''Babi hutan itu sepertinya sudah tahu keberadaan kita, sehingga mereka sudah menghindar dan bersembunyi sebelum para petani menemukan mereka,'' katanya kepada pengelola blog kabupatenbulukumba.blogspot.com, di Makassar, Sabtu, 17 Oktober 2010.

Dia berharap instansi terkait segera turun-tangan membantu petani. Ia mengaku sudah menyarankan kepada sesamanya petani agar meracuni babi huta secara bersama-sama di kebun masing-masing, dengan cara memberi umpan makanan yang disukai babi hutan yang telah diberi racun babi.

''Saya kira cara itu lebih efektif daripada melakukan perburuan, karena babi-babi itu selain sulit ditemukan, juga belum tentu bisa dibunuh saat ditemukan, karena babi hutan melawan, jadi bisa membahayakan jiwa petani,'' tutur Jufri.

Kalau diburu pun, berarti babi hutan itu masih tetap ada dan kemungkinan hanya berpindah tempat, sehingga tetap mengganggu dan meresahkan petani.

Tahun 2009 lalu juga diberitakan bahwa para petani di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, resah karena kebun mereka dirusak oleh sekawanan babi hutan.

Babi hutan itu membuat petani mengurungkan niatnya untuk menanam ubi dan jagung yang biasa ditanam saat musim kemarau. Warga enggan menanam singkong dan jagung karena lebih banyak dirusak babi hutan. Jika dipaksakan, petani akan mengalami kerugian.

Areal pertanian yang menjadi tempat tinggal babi hutan di Kecamatan Bontobahari, antara lain Kelurahan Sapolohe, Benjala, Tanahlemo, dan Kelurahan Tanahberu. (asnawin)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Minggu, 17 Oktober 2010

DPRD Bulukumba Sepakat Lepas Aset PDAM

DPRD Bulukumba Sepakat Lepas Aset PDAM

Harian Fajar, Makassar
Sabtu, 16 Oktober 2010
http://lokalnews.fajar.co.id/read/107485/123/dewan-sepakat-lepas-aset-pdam

BULUKUMBA -- DPRD Bulukumba sepakat melepas aset daerah di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bulukumba. Syaratnya, bangunan serta lahan seluas 1,6 hektare yang akan dijual ke Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bulukumba, menguntungkan pemerintah kabupaten (pemkab).

Karena itu, pemkab diminta menaksir harga pasaran tertinggi, sesuai Permen PU tentang Standar Harga Bangunan Negara dan Aset.

Ketua pansus pelepasan aset daerah DPRD Bulukumba, Zulkifli menegaskan, pansus sudah mengkalkulasi untung jika aset dilepas. Pansus berkesimpulan, aset ini dijual ke BPD, dan menjadi penyertaan modal daerah untuk memberi nilai tambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bulukumba. Saham pemkab di BPD hanya Rp1,19 miliar. Terbilang kecil untuk dibanding daerah lain.

"Yak, kami setuju. Pendapat kami, akan lebih menguntungkan dibandingkan lahan itu tidak dimanfaatkan," kata Zulkifli, Jumat, 15 Oktober.

Soal perbedaan taksiran harga BPD dan pemkab, menurut Zulkifli, sudah dirembukkan dan dikembalikan kepada pemkab. Perlu ada taksasi ulang. Saat itu, pemkab menaksir harga bangunan dan lahan hanya Rp1,19 miliar. Lebih rendah dari BPD yang menaksir Rp1,2 miliar. Perbedaan ini sempat memunculkan spekulasi ada yang ingin mengambil keuntungan. Dewan sempat mempertanyakan perbedaan taksasi ini.

"Sekarang, kami berikan sepenuhnya kepada pemkab untuk mengkaji ulang harga. Kami dari pansus hanya akan memantau apakah penetapan harga sesuai yang direkomendasikan yakni sesuai harga pasar. Jadi kalau harga pastinya sekarang belum ada, pemkab mungkin masih menaksir harga tersebut. Yang jelas akan menguntungkan daerah," tambahnya.

Kepala Bagian Humas Pemkab Bulukumba, Daud Kahal menyatakan, taksiran nilai aset kini di kisaran Rp 1,25 miliar. Harga ini sudah pernah dikomunikasikan dengan BPD dan nyaris sepakat. Hanya saja, harga tersebut masih ada kemungkinan berubah tergantung hasil kajian ulang pemkab dalam waktu dekat ini.

"Kami memang diingatkan soal harga. Ini wajar karena nantinya akan berefek pada kepemilikan saham pemkab di BPD. Kami sudah bicarakan itu, dan kami siap mengikuti petunjuk DPRD. Ini syarat yang disertakan dalam kesepakatan tersebut. Makanya, harga dasar yang kami patok belum final, masih akan ditinjau lagi," ujar Daud. (arm)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Zaidin akan Hadirkan Tiga Menteri

Zaidin akan Hadirkan Tiga Menteri

- Pada Pelantikan Bupati Bulukumba


Harian Tribun Timur, Makassar
Senin, 18 Oktober 2010
http://www.tribun-timur.com/read/artikel/133171/Zaidin-akan-Hadirkan-Tiga-Menteri

Bulukumba, Tribun - Pasangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih Bulukumba, Zainuddin-Syamsuddin (Zaidin), berencana menghadirkan tiga menteri pada hari pelantikan mereka, akhir Oktober ini.

Ketiga menteri itu adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Mohammad, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini.

Selain itu, Zaidin akan menghadirkan investor asing dan dalam negeri pada acara pelantikan mereka. Investor asing itu dari China dan Singapura.

Rencana itu diungkapkan melalui juru bicara Zaidin, Sainal Basrun, kemarin. Menurutnya, rencana itu sudah dikomunikasikan dengan panitia pelantikan di Pemkab Bulukumba dan DPRD setempat.

"Rencana itu sudah disampaikan kepada tim Zaidin. Juga sudah disampaikan kepada pihak pemkab dan DPRD," kata Sainal.

Para menteri dan investor itu diundang agar mereka lebih mengenal potensi Bulukumba, baik dari segi Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA).
Ia menambahkan, tim Zaidin siap membantu pemkab sebagai panitia pelantikan untuk suksesnya acara itu.

Zaidin akan dilantik setelah meraih suara terbanyak pada putaran kedua Pilkada Bulukumba, 23 Agustus lalu. Mereka mengungguli pasangan Aspirasi.

Aspirasi sempat menggugat hasil pilkada karena menilai banyak kejanggalan, namun tidak dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK).

Jadwal Pasti Pelantikan

MENGENAI kapan pastinya pasangan Zaidin dilantik, belum ada kepastian dari Pemkab Bulukumba.

Sebelumnya, beredar informasi, dijadwalkan antara tanggal 20, 25, atau 27 Oktober.
Kepala Bagian Humas Pemkab Bulukumba, Daud Kahal, kemarin, mengatakan, sebelumnya direncanakan 20 Oktober, lalu diundur menjadi 25 atau 27 Oktober. "Belum ada jadwal pasti, masih berubah-ubah," katanya.

Sebelumnya, Wakil Ketua II DPRD Bulukumba, Husbiannas Alzi, menyebutkan, jadwal disesuaikan dengan jadwal gubernur yang akan melantik Zaidin.


Lanjutkan Pembangunan Masjid

SEMENTARA itu, kemarin pagi, tim Zaidin dipimpin oleh Kamaluddin Jaya melakukan pembersihan Masjid Agung di Jl Sulthan Hasanuddin, Bintarore.

Pembangunan masjid ini sempat terhenti beberapa tahun. Rencananya, Zaidin akan melanjutkan pembangunannya.

"Ini adalah awal untuk meneruskan kembali pembangunan masjid ini yang masuk dalam program jangka panjang Zaidin. Hal ini sesuai janjinya pada kampanye di pilkada lalu," juru bicara Zaidin, Sainal Basrun. (smb)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Sabtu, 16 Oktober 2010

KPU Bulukumba Pecat Dua Anggota PPK

KPU Bulukumba Pecat Dua Anggota PPK

Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar
Sabtu, 16-10-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=54432

BULUKUMBA, UPEKS—Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bulukumba, memecat dua orang anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Kedua anggota PPK itu adalah; Mufni anggota PPK Gantarang dan A Jusrang anggota PPK Kindang.

Mufni dan Jusrang diberhentikan dengan tidak hormat, karena melanggar kode etik sebagai penyelenggara Pemilu. Kedua anggota PPK itu dinilai tidak jujur, tidak adil serta berpihak kepada salah satu pasangan calon bupati.

“Mufni anggota PPK Gantarang dan Jusrang anggota PPK Kindang bersaksi untuk pasangan calon bupati AM Sukri Sappewali-Abd Rasyid Sarehong (Aspirasi) di Mahkamah Konstitusi. Keduanya melanggar kode etik sebagai penyelenggara Pemilukada Bulukumba,” terang Arum Spink, Ketua KPU Bulukumba, Jumat kemarin.

Di sidang sengketa Pemilukada Bulukumba 2010 di MK, Mufni dan Jusrang bersaksi untuk pasangan cabup Aspirasi. Pasangan Aspirasi menggugat KPU Bulukumba yang memenangkan pasangan Zainuddin Hasan-Syamsuddin (Zaidin).

“Mufni dan Jusran bersaksi tanpa izin dari KPU Bulukumba,” terang Arun Spink.

Panitia Pengawas Pemilukada Bulukumba 2010, juga mengakui anggota PPK Gantarang dan PPK Kindang itu bersaksi di sidang sengketa Pemilukada Bulukumba di MK.

“Mufni dan Jusrang bersaksi untuk No 6 (pasangan cabup Aspirasi),” kata Rahmawati, anggota Panwas Pemilukada Bulukumba.

Kamis, 14 Oktober 2010

Pak Beye Lebaran di Kampungku


Sebuah desa yang Pak Beye pasti tidaklah pernah dengar. Batukaropa namanya. Unik bukan? Saya jelaskan asal mula kata “batukaropa” terlebih dahulu. Nama itu berasal dari dua kata (bahasa bugis-konjo) yaitu “batu” yang berarti batu dan “karopa” yang artinya bersusun-susun dalam jumlah yang banyak. Kalau digabung, kira-kira artinya, batu yang bersusun-susun alias kampung dengan struktur daerah penuh batu.

Pantai-pantai Terbaik Versi Ropaz




Pantai Tanjung Bira sangat indah dan memukau dengan pasir putihnya yang lembut seperti tepung terigu. Di lokasi, para pengunjung dapat berenang, berjemur, diving, dan snorkling. Para pengunjung juga dapat menyaksikan matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama, serta dapat menikmati keindahan dua pulau yang ada di depan pantai ini, yaitu Pulau Liukang dan Pulau Kambing.

Badik Titipan Ayah


Salah satu adegan dalam Film Televisi ''Badik Titipan Ayah''. ‘Badik titipan ayah’ yang berkisah tentang perjuangan seorang pemuda bernama Aso dalam menyelesaikan konflik dalam keluarganya yang tentunya sangat kental akan nuansa bugis (inilah yang saya sebut jarang2 ada dalam film2 Indonesia sekarang).

Dato Ri Tiro; antara Kisah dan Mitos

Dato Ri Tiro; antara Kisah dan Mitos

Oleh Nh Rifai Daeng Massuro

Kompasiana (www.kompasiana.com)
29 Juli 2010
http://sejarah.kompasiana.com/2010/07/29/dato-ri-tiro-antara-kisah-dan-mitos/

Tiro adalah salah satu dari tiga orang Datuk penyebar agama Islam awal di Sulawesi Selatan. Bersama dua rekannya yang lain, Dato ri Bandang dan Dato Patimang, mereka merintis jalan menuju penyebaran Islam di salah satu jantung kebudayaan nusantara ini. Nama asli beliau adalah Al Maulana Khatib Bungsu Syaikh Nurdin Ariyani.

Mereka bertiga kemudian membagi wilayah Sulawesi Selatan menjadi tiga bagian; Dato Patimang menyebarkan Islam di daerah utara (Suppa, Soppeng, Luwu), Dato ri Bandang menyebarkan Islam di daerah tengah (Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng), kemudian Dato ri Tiro menyebarkan Islam di daerah selatan (Bulukumba dan sekitarnya).

Setiap orang ini kemudian menyebarkan Islam dengan metode masing-masing yang disesuaikan dengan budaya setempat. Dato ri Tiro, sesuai dengan budaya di bagian selatan ini, kemudian menyebarkan Islam yang lebih bercorak tasawuf.

Dalam penerapannya, beliau tidak terlalu mementingkan keteraturan syariat. Salah satu ajaran beliau yang terkenal adalah “dalam menyusun lima telur, yang pertama diletakkan tidak selalu yang menempati urutan pertama”. Artinya, penerapan lima rukun Islam tidak lah harus berurutan mulai dari syahadat sampai haji. Setiap kita boleh memilih apa yang kita rasa lebih memudahkan. Puasa, jika pun dirasakan lebih mudah daripada shalat, dapat dilakukan terlebih dahulu, demikian pula dengan syariat-syariat yang lain.

Perlu disampaikan pula bahwa masyarakat daerah ini sangat kuat memegang kepercayaan dinamisme, dan banyak memiliki kesaktian dan jampi-jampi yang mujarab. Menurut kisah yang diteruskan secara turun temurun, Dato ri Tiro memilih daerah Bontotiro pesisir sebagai pusat penyebaran agama Islam. Daerah ini adalah daerah tandus dan berbatu.

Beliau kemudian mencari sumber air (karena ternyata daerah ini dialiri oleh sungai bawah tanah dengan kapasitas yang besar), dengan menancapkan tongkat beliau pada batu dan memancarlah air. Sumber air ini kemudian menganak-sungai, yang kemudian disebut dengan Sungai Salsabila, mengambil nama salah satu sungai yang terdapat di Surga.

Setelah mendapatkan kepercayaan dari seluruh masyarakat di Bontotiro melalui “keajaiban” yang ditampilkannya, beliau kemudian menghadap pada Karaeng Tiro, raja yang berkuasa di daerah ini dengan maksud mengislamkan sang raja. Tapi karena Karaeng Tiro dalam keadaan sakaratul maut, maka Dato ri Tiro langsung menuntun sang raja untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam tiga kali percobaan pengucapan, Karaeng Tiro selalu salah mengucap; “Asyhadu allaa hila hila hilaa”, dan baru pada pengucapan keempat beliau dapat melafazkannya dengan benar. Karena peristiwa ini, dusun tempat tinggal Karaeng Tiro kemudian dinamakan Dusun Hila-Hila. Sampai akhir hayatnya, Dato ri Tiro menghabiskan hidup beliau di dusun ini.

Dato ri Tiro kemudian melanjutkan dakwahnya menuju daerah Kajang. Daerah ini adalah daerah adat yang diperintah oleh Ammatoa. Daerah ini adalah daerah yang paling kuat memegang adat, bahkan hingga hari ini. Mirip-mirip suku Badui di Banten, para penduduk daerah ini menggunakan pakaian hitam-hitam dan tidak mengijinkan perkembangan teknologi memasuki daerah mereka.

Pada proses dakwahnya, Dato ri Tiro kemudian berhasil mengislamkan daerah ini. Tapi karena proses yang belum selesai, ada beberapa kesalahpahaman yang timbul. Salah satunya adalah kepercayaan penduduk Kajang bahwa Al-Qur’an diturunkan pertama kali di daerah ini, karena Dato ri Tiro membawa Kitab Suci Al-Qur’an ke daerah ini pada saat proses dakwah berlangsung.

Hal lainnya adalah falsafah sufi yang mereka pegang kuat; “Sambayang tamma tappu, je’ne tamma luka”, yang artinya “Shalat yang tak pernah putus, wudhu yang tak pernah batal”. Hal ini mengisyaratkan penguasaan hakikat shalat dan wudhu yang mensyaratkan kondisi suci lahir-batin serta menyebarkan kebaikan kepada seluruh alam semesta.

Puasa Ramadhan yang mereka jalani pun cuma tiga hari; awal, pertengahan dan akhir ramadhan saja. Hal ini dapat dimaklumi karena mungkin Dato ri Tiro tidak ingin memberatkan mereka pada awal mereka masuk Islam.

Demikianlah, dari dusun Hila-hila di Kecamatan Bontotiro ini, Dato ri Tiro menyebarkan cahaya Islam yang sangat inklusif sehingga ajaran-ajaran beliau tentang Islam yang mensyaratkan kebaikan kepada alam semesta dapat terus diamalkan.

Adapun peninggalan-peninggalan beliau adalah Sungai Salsabila yang terus diziarahi pengunjung sampai sekarang, Sumur Limbua di pantai Tiro, serta Makam Dato ri Tiro yang juga tetap diziarahi sampai hari ini.

Peninggalan beliau yang dalam bentuk social capital adalah ikatan persaudaraan yang beliau bentuk antara orang Tiro dan orang Kajang; “Kaluku attimbo ri Kajang, bua na a’dappo ri Tiro”, yang artinya “Pohon kelapa yang tumbuh di Kajang, buahnya dinikmati di Tiro”. Karena itu, upacara akil baligh orang-orang kajang disyaratkan untuk mandi di Sungai Salsabila di Hila-hila.




[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

3 Datuk Minang religious broadcasting to Bugis

3 Datuk Minang religious broadcasting to Bugis

Saturday, February 28, 2009
http://bagarah.blogspot.com/2009/02/3-datuk-minang-religious-

While many already know, that there are three people who came from the progenitor Minangkabau that - most do not come from the land of Sumatra, which Islamize areas kingdom in South Sulawesi in the 16 th century, namely:

1. Khatib Tunggal Datuk Makmur, or popular among the people of South Sulawesi by the name of Datuk Ribandang.
2. Khatib Sulung Datuk Sulaiman known Datuk Datuk Sulaiman Patimang.
3. Syekh Nurdin Ariyani known by the name of Datuk Ri Tiro. However, the author believes there are many young people who have not Minang get information about the services of three progenitor Minangkabau, who spread the Islamic religion in South Sulawesi.

From various sources, I crave the subject three people called the progenitor of a Minangkabau-and tongue-tied in the previous author hearts - do this three progenitor - entry in the history of the Minangkabau? What and how they struggle and progress in the spread of Islamic religion in the South Sulawesi this? Next I tried to conclude this as follows:

1. Tallo and Goa region:

Around the beginning of the century 17 ka, this third person progenitor Islamize King Tallo, on Friday 14 Jumadil Start or 22 September 1605, and subsequent XIV King of Gowa, who finally called Sultan Alauddin. "Kingdom of the kingdom of Gowa and Tallo is a twin kingdom which can not be separated one with the other. Even Mangkubumi (Prime Minister) is also the kingdom of Gowa King Tallo. Raja Tallo XV, Malingkaan Daeng Manynyonri is the first in South Sulawesi who embrace Islam through a theologian from West Sumatra coast, Datuk Makmur Tunggal preacher, or popular among the people of South Sulawesi by the name of Datuk Ribandang. Therefore also often called the kingdom Tallo-called or termed as the first door of Islam in this region or in the "Tallo Timunganga Ri."

King of Gowa and officially announced that the official religion throughout the kingdom of Gowa and subordinates is the religion of Islam. Before the entry of Islam in South Sulawesi, people still profess belief in animism. Dikisahkan in history that originally Datuk Ribandang friends with their own views of the people by doing the kingdom Tallo prayer Asyar the beach Tallo. Because the first time that people see the prayer, they spontaneously roll towards the palace Tallo kingdom to convey to the King about what they saw. Tallo then accompanied the king and the people of the kingdom to the Datuk Ribandang and his friends to do the prayer.

So are view Datuk Ribandang prayer, King of Tallo and the people at the same time rant mention "Makkasaraki prophet sallalahu" means tangible real prophet sallallahu. This is one version of the naming, that speech came from 'Makkasaraki', which means that the rough / concrete.

There are several versions about the origin than the version he named it. Datuk Ribandang own and live in the spread of Islam in Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, and died in Tallo. Meanwhile, two friends, each Datuk Patimang original name of the first-born preacher Datuk Sulaiman, spread of Islam in the region Suppa, Soppeng, Wajo and Luwu, and died and buried in Luwu. Are Datuk RiTiro or original sheik Nurdin Ariyani work in some places covers Bantaeng, Tanete, Bulukumba. He died, and in the makamkan in Tiro or Bontotiro now.

With the coming of the Dutch colonial, the entire defense fortresses in the kingdom of Gowa destroyed fortress Somba Opu except that is for the kingdom of Gowa and Ujungpandang fort (Fort Rotterdam) to the Dutch colonial government, the kingdom of bunker Tallo also destroyed. Crushing defense fortresses kingdom of Gowa-Tallo the appropriate agreement Bungaya, 18 November 1667, the year is also the triumph setbacks Gowa-Tallo kingdom at that time.

2. Makassar - Bulukumba - Luwu;

A touch of religious teachings brought by the Islamic scholars that most of Sumatra, is also found in the southern part of South Sulawesi is another, namely Bulukumba District, which is based on the strength of local religious and bernafaskan ". each brought by 3 people Datuk; title Dato 'Tiro (Bulukumba), Dato Ribandang (Makassar), and Dato Patimang (Luwu),

3. Meanwhile, in the history of Islam and Luwu Palopo, explaining that approximately at the end of the century XV M and approximately in the year 1013 H, Islam entered the Luwu di daerah under a pious Ulama who arief ketatanegaraannya namely Datuk Sulaeman Minangkabau origin.

At that time Luwu be governed by a King named Etenrieawe. When Datuk Sulaeman the religious teachings of Islam in this region, almost all religious communities Luwu receive it. When the kingdom was under the auspices of Government of the King Patiarase title with Sultan Abdullah (brother kandungnya called Patiaraja Somba Opu with a degree) as the successor of King Etenriawe, and Datuk in developing Islamic Mission, assisted by two expert scholars fiqih namely Datuk Ribandang who died in Gowa, and Datuk Tiro who died in Kajang Bulukumba. Sulaeman and Datuk died in Pattimang District Malangke, _ + 60 km north of city departments through Palopo sea.

Datuk Sulaeman that comes from the Minangkabau is then known by the name of Datuk Patimang, because he died and dimakamkan in Pattiman.

4. No less a tale of mengkisahkan that Al Maulana Khatib Bungsu (Dato Tiro) along with a second friend (and Patimang Datuk Datuk Ribandang) landed at the port of Para-para. Arriving in the land, it was directly towards the nearest village to notify his arrival to the head of the country. However, in the journey toward the home country, Dato Tiro feel thirsty, and he also wanted to find water along the coast, but there is not a sweet-water wells. Dato Tiro menghujamkan tongkatnya in one of the stones on the seaside Limbua while mengucap the confession "Asyhadu Ala Ilahaillallah wa Ashadu Anna Muhammadarrasulullah", after the strange tongkatnya revoked, out of water gush from the mouth hole in the stone. Shower water is very large and does not flow continuously, so eventually form a pool air.Penduduk the sea and then take advantage of this water for daily living. Until this spring was never dry and many people visited.

5. The author has not found information about the Ranah Minang whomever identity progenitor these three people suspected of originating from the Minangkabau. Whether it comes from upbringing and santri from Ranah Minang?.

In fact from Source; http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/Giri.htm, obtained information that the santri boarding Sunan Giri - in addition - known as a persistent carrier of Islam in Java and to various islands, such as Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, and Nusa Tenggara, the fact this santri Sunan Giri - also spread the religion of Islam to South Sulawesi. They are Datuk Ribandang and two friend. They Sunan Giri is a disciple of that came from Minangkabau.

6. Indeed, before the coming three to progenitor Bugis this land, there has been some Islamic missionary than three progenitor of the Minangkabau, the Sayyid Jamaluddin al-husayni al akbari is a grandfather of Walisongo. This means that Islam has come to Bugis land, at the time of arrival of the progenitor '(riBandang Datuk, Datuk Datuk riTiro and riPatimang). However, acceptance of Islam in the kingdom of Bugis-Makassar kingdoms in the year 1598 (Gowa and Luwu), followed Ajatappareng (Sidenreng, Rappang, Sawitto) in the year 1605, Soppeng (1607), Wajo (1609), and Bone (1611) is owing to the business Datuk riBandang third of this. He Islamize Karaeng Matoaya Mangkubumi which is the kingdom of Makassar. Datuk Patimang (Datuk Sulaiman) Islamize Daeng Parabbung Datu Datuk riTiro Luwu and choose based on Bulukumba which is the border of Bone and Gowa Syiar to Islam.

Islamnya Gowa is simbolitas Luwu and military power is a central myth Bugis Makassar. With pengislaman two kingdoms of this then there is no reason to reject Islam for the people.

Islamization is to make the structure as a basis Syariat countries. ADE has been there before ', RAPANG, WARI, BICARA. Acceptance of Islam as the official religion of the kingdom made the Syariat the fifth runway SARA 'is consequently made his kingdom a new structural QADHI namely, Bilal, KATTE', as the device DOJA Syiar kerakyat Islam.

7. Question we are now. What causes this three progenitor visit kingdoms in South Sulawesi is to spread the Islamic religion?

a. Allegations as the first community in the region that still embrace animism as the grains have been described in 1 above, so that the king Tallo and Goa is the first king of confessional islam.

b. There is competition between Christianity and Islam more virulent in South Sulawesi at the beginning of the century to the 16. Competition between Islam and Christianity in the Makassar Strait is caused by the king himself who can not choose between these two religions. They ask Abdul Makmur (Dato 'large ri) to come pay a visit with the two friends namely Solomon (Dato' ri Pa'timang) and Abdul-Jawad (Dato 'ri Tiro). Islam then spread throughout the South Sulawesi on the service of a third three-pendakwah this. In the world Bugis to Century 16 has been in ramaikan by various commodity trading. Export South Sulawesi when it is rice, which is exported to Malacca, which is already occupied Portugal.

In the year 1607, the Sultan of Johor feud with Portuguese exports to try prevent this. Agricultural products are coconut, fruits and vegetables. Type of farming is buffaloes, goats, chickens and ducks. While the results are taken from the South and the area around it that is exported, among others, sandalwood (from Kaili and Palu), sapan wood (from Sumba), aguila wood, resin, etc. No lag textiles made in South Sulawesi quite popular in the 16 th century. In the year 1544 - white - known as "cotton cloth," sold at the price 200 rial. This proves that South Sulawesi is also entering the international trading system and use the foreign currency (Portuguese). Rial become one of the major currencies, the previous system where the currency exchange has not been done this way.

Did You Know?, At that time before the system of exchange, is a buffalo exchange and may serve as the main guide. That is sad and again, there is also a new export commodity which is a slave. Most of the slaves that is the prisoner of war that everyone knows that, including children and women who come from Bugis thralled. Price may be a slave in 1000 reached rial ..! that when a bid is a quite interesting for the Portuguese. Slave trade in the first place got the 15 th century, caused by demand from outside. In line with the world dihapuskannya slave trade, foreign nations who enter kewilayah South divert attention on the Gold. Gold mining in the Toraja and Luwu pergunungan '. In addition Mineral-mineral that is exported iron (from Luwu 'and Banggai), kuprum and plumbum. What happens on the condition of the South occupied by foreign influences - Portuguese, Spanish, if not three people progenitor came from the land of Minangkabau in Sumatra to visit South Sulawesi at the end of the century was 16.

Portuguese and Spanish nation is a nation that is very concerned for meraup produce on the island of Celebes and the Moluccas. Step further is what intitusi in Minang Ranah that conducts research on gait Datuk Three People for the spread of this religion of Islam. In the four centuries before now, they have fought for the Islamic religion which is the foundation for the basic characteristics Minangkabau people. Attitude in how we memposisi three progenitor in Minangkabau history?

Source:

1. http://bulukumba.bappenas.go.id
2. http://www.bulukumbakab.go.id/?id=67
3. http://palopo.pta-makassarkota.go.id/
4. http://www.selayaronline.com
5. http://:www.gatra.com 6. http://melayuonline.com
nb: I try too translate the original artikel to English.. from www.bundokandung.wordpress.com

Thanks alot for u bundokanduang


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Kabupaten Bulukumba Gelar ''Festival Phinisi 2010''





Kabupaten Bulukumba akan menggelar kegiatan tahunan "Festival Phinisi 2010" yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari dari 22-25 Oktober 2010, dalam rangkaian menyukseskan Visit Indonesia Year 2010 dan Visit South Sulawesi 2012.

294 Gedung SD Tanpa Alas Hak


Klaim warga atas lahan sejumlah sekolah dasar (SD) belakangan, marak. Kondisi ini tidak terlepas dari banyaknya gedung SD yang berdiri di atas lahan yang tidak jelas kepemilikannya. Terbukti, dari 367 SD Negeri yang tersebar di sepuluh kecamatan se-Bulukumba, hanya 20 persen atau sekira 73 yang bersertifikat. 294 SDN hingga kini belum bersertifikat. Dari 294 itu, diprediksi 200 SD rawan masalah. (Foto: Asnawin)


--------------------------------------

294 Gedung SD Tanpa Alas Hak

Harian Fajar, Makassar
Kamis, 14 Oktober 2010
http://lokalnews.fajar.co.id/read/107320/123/294-gedung-sd-tanpa-alas-hak-

BULUKUMBA -- Klaim warga atas lahan sejumlah sekolah dasar (SD) belakangan, marak. Kondisi ini tidak terlepas dari banyaknya gedung SD yang berdiri di atas lahan yang tidak jelas kepemilikannya. Terbukti, dari 367 SD Negeri yang tersebar di sepuluh kecamatan se-Bulukumba, hanya 20 persen atau sekira 73 yang bersertifikat. 294 SDN hingga kini belum bersertifikat. Dari 294 itu, diprediksi 200 SD rawan masalah.

Kabag Pertanahan Pemkab Bulukumba, Taufik membenarkan ini. Taufik mencontohkan, SD 231 Bontonyeleng Kecamatan Gantaran, yang diklaim warga akibat sertifikat yang memang belum ada. Taufik menganggap pembebasan lahan sekolah mendesak segera dilaksanakan sebelum masalah baru muncul. Tapi, Taufik mengaku, kuncinya ada pada ketersediaan anggaran.

SD yang belum bersertifikat membutuhkan sekira Rp 1,5 miliar untuk pembebasan lahan atau ganti rugi. Sementara pengurusan sertifikat tanah, dibutuhkan Rp 5 juta per unit atau sekira Rp 1,4 miliar untuk 294 SD.

"Persoalan klaim lahan tidak akan berakhir kalau tidak ada usaha memberikan perhatian serius. Tetapi, anggaran harus tersedia. Dibutuhkan aksi, jangan sampai nanti ada masalah baru kemudian bertindak. Tahun ini, dua SD dibebaskan. SD 311 Papinceng Kecamatan Kajang dan SD 160 Tarampang Bontobahari," kata dia, Rabu, 13 Oktober.

Taufik menyoroti Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) yang tidak antusias memperhatikan banyaknya lahan tanpa status jelas. Selama ini, Disdikpora dinilai tidak pernah memasukkan proyeksi lahan SD yang membutuhkan anggaran pembebasan lahan.

"Meski kita tahu dana terbatas, paling tidak Disdikpora memberi data agar bisa diusulkan untuk dipenuhi tahap demi tahap," tambahnya.

Kadis Dikpora Bulukumba, Akbar Amier membenarkan data yang diungkap Taufik. Makanya, sering kali sekolah ada yang disegel lalu proses belajar terbengkalai. Akbar berjanji memperhatikan hal ini.

Akbar mengaku tidak mengusulkan anggaran untuk biaya administrasi kepemilikan lahan lantaran dirinya selalu mendapat informasi dana daerah minim. Akbar memastikan siap mengajukan usulan anggaran jika diminta, untuk menyelesaikan masalah ini secara bertahap.

"Saya siap koordinasikan dengan kacab dinas di kecamatan. Sudah lama kami berharap ini teratasi. Sulit menata pendidikan jika tidak terselesaikan. Akan selalu ada masalah dan saling klaim lahan sekolah. Ujung-ujungnya anak sekolah yang dirugikan," tambahnya. (arm)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Sebagian Besar Lokasi SD di Bulukumba Bermasalah


Kepala Bagian Pertanahan Pemerintah Daerah Bulukumba, Taufik mengatakan sekitar 80 persen tanah di atas bangunan Sekolah Dasar yang tak bersertifikat. Ada sekitar 260 dari total 332 Sekolah Dasar yang berpotensi diperkarakan. Jika tidak diantisipasi, para pemilik tanah akan menutup lokasi miliknya. (Foto: Asnawin)


--------------------------------

Sebagian Besar Lokasi SD di Bulukumba Bermasalah

Tempo Interaktif, Makassar
Rabu, 13 Oktober 2010
http://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/10/13/brk,20101013-284466,id.html

TEMPO Interaktif, Makassar - Kepala Bagian Pertanahan Pemerintah Daerah Bulukumba, Taufik mengatakan sekitar 80 persen tanah di atas bangunan Sekolah Dasar yang tak bersertifikat. Ada sekitar 260 dari total 332 Sekolah Dasar yang berpotensi diperkarakan.

"Jika tidak diantisipasi, para pemilik tanah akan menutup lokasi miliknya. Ini akan merugikan para murid," katanya.

Dia mengatakan, sudah ada dua Sekolah Dasar yang ditutup oleh pihak yang mengklaim sebagai pemilihan di atas bangunan sekolah. Akibatnya, murid belajar di bawah kolong rumah warga.

"Sekolah yang ditutup itu berada di Kecamatan Kajang dan Kindang," ucapnya.

Taufik menjelaskan, penyebab sehingga lahan tersebut sulit dibuatkan sertifikat karena membutuhkan dana sekitar Rp 5 juta per sekolah untuk melakukan pengukuran. secara keseluruhan, ucap dia, dibutuhkan dana sekitar Rp 1,6 miliar. Sementara tahun ini dialokasikan Rp 150 juta.

"Dana tersebut hanya untuk pengukuran dan sertifikat, belum termasuk ganti rugi yang diminta oleh pemilik lahan," katanya.

Menurutnya, dana ganti rugi yang harus dipersiapkan pemerintah sebesar Rp 2 miliar.

"Kalau lokasi Sekolah Menengah Pertama tidak ada yang bermasalah sebab sekolah tersebut di bawah naungan Kementerian Pendidikan, sehingga jika ingin membangun gedung sekolah maka semua bukti kepemilikan tanah harus lengkap," jelasnya.

Sampai saat ini, lanjutnya, pemerintah sudah memberikan ganti rugi untuk 20 sekolah. Setiap tahunnya hanya dua sekolah.

"Tahun ini hanya satu lahan Sekolah Dasar yang diganti rugi," papar Taufik.

JASMAN



[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Rasakan Nuansa Bulukumba di Festival Phinisi 2010



Pemkab Bulukumba, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, bersama even organizer (EO) Makassar Promosindo diwakili Direktur Ahmadi, Kamis, 14 Oktober 2010, telah melakukan rapat pemantapan untuk pelaksanaan Festival Phinisi, pada 22 - 25 Oktober 2010.

Selasa, 12 Oktober 2010

Kelas Tanpa Batas di Bulukumba


"KELAS TANPA BATAS".
Fotografer: Ni Nyoman Anna Martanti
Lokasi: Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan
Kegiatan belajar mengajar di Dusun Pangi, Kajang, Bulukumba, yang merupakan program sekolah non-formal SOKOLA Foundation.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Husbiannas Terancam Sanksi dari BK

Husbiannas Terancam Sanksi dari BK
- Buntut Surat Asimilasi untuk Muttamar


Harian Fajar, Makassar
Selasa, 12 Oktober 2010
http://lokalnews.fajar.co.id/read/107122/123/husbiannas-terancam-sanksi-dari-bk

BULUKUMBA -- Surat permohonan asimilasi yang tidak melalui mekanisme, dibuat oleh Ketua II DPRD Bulukumba, Husbiannas Alsi, berbuntut panjang. Badan Kehormatan (BK) DPRD Bulukumba akan merekomendasikan pemberian sanksi bagi Husbiannas jika kajian menyebutkan dia melanggar.

Husbiannas menjadi biang terbitnya surat permohonan asimilasi (memihakketigakan) dari DPRD untuk Lapas Taccorong Bulukumba. Isinya, meminta terpidana korupsi Andi Muttamar dipihakketigakan di Kantor DPRD. Surat ini, tanpa melalui mekanisme. Sekwan DPRD Bulukumba, Andi Cawa Miri sudah memastikan surat itu tidak melalui mejanya, diperkuat tidak adanya paraf sekwan dalam surat itu.

Hasilnya, lahirlah kesepakatan antara pihak Lapas dengan DPRD Bulukumba untuk memihakketigakan Andi Muttamar. Ketika itu, Muttamar dengan enteng melenggang dan berupaya kembali ke DPRD.

Padahal, sesuai aturan, jangankan untuk mempertahankan posisi Ketua DPRD, menjadi anggota saja Andi Muttamar sudah tidak memenuhi syarat karena sudah menjalani hukuman penjara dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.

Ketua BK, H Bahri mengaku belum memegang salinan surat bernomor 318/DPRD-BK/VII/2010 tertanggal 16 Juli 2010 itu. Dia hanya mendengar kabar saja tentang surat yang dikeluarkan Husbiannas tanpa melalui mekanisme. Bahri berjanji memperhatikan masalah ini.

"Dalam waktu dekat, kami akan mengkajinya. Yang jelas kami siap menjatuhkan sanksi kalau bersalah. Tapi tunggu dulu, kita lihat lebih dulu duduk persoalannya. Harus jelas dulu," kata Bahri, Senin, 11 Oktober.

Sanksi yang akan dijatuhkan sesuai dengan bentuk pelanggaran Husbiannas. Bisa teguran lisan atau teguran tertulis. Soal kemungkinan direkomendasikan untuk diproses di partainya jika terbukti melanggar, enggan dikomentari oleh Bahri.

"Hasil temuan kami nanti disodorkan ke pimpinan. Selanjutnya terserah partainya. Kami hanya bisa memberikan teguran lisan atau teguran tertulis. Itu diatur dalam tatib DPRD. Yang jelas kami kaji dan lanjutkan kepada pimpinan," tambahnya.

Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPRD Bulukumba, Edi Manaf sudah memastikan surat yang diteken Husbiannas melalui prosedur menyimpang. Terbukti, tidak melalui meja pimpinan DPRD. Edi juga sudah mengecek di sekretariat dewan tetapi nomor surat tidak ada.

"Saya pastikan tidak sesuai mekanisme dewan. Mengatasnamakan DPRD tetapi tidak melalui mekanisme yang sudah diatur. Ini bagi saya tidak benar karena membawa nama institusi DPRD. Saya tidak pernah mengetahui surat itu," kata Edi manaf saat itu.

Sekwan, Andi Cawa Miri yang juga sempat dikonfirmasi menolak mengomentari surat siluman itu. Dia meminta wartawan menelaah tentang surat yang didalamnya tidak tercantum paraf dirinya. "Saya pikir kalau teman-teman wartawan memiliki bukti, disana tidak ada paraf saya, dari surat saja sudah ketahuan," katanya singkat. (arm)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

A Trip to: Pantai Bira, Bulukumba (part III-)


Keterangan gambar: Vierta Dewi Aulia fofo di tangga perahu phinisi yang sedang dalam proses pekerjaan, di Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: dok pribadi)


A Trip to: Pantai Bira, Bulukumba (part III):
Perahu Phinisi dan Perahunya si Ikal


Oleh Vierta Dewi Aulia
Posted on Desember 27, 2009
http://viertaz.wordpress.com/2009/12/27/a-trip-to-pantai-bira-bulukumba-part-iii-perahu-phinisi-dan-perahunya-si-ikal/

Next stop, ngliat pembuatan perahu phinisi. Sudah sejak dulu Bulukumba terkenal dengan sebutan Butta Panrita Lopi (daerah ahli perahu). Tanaberu merupakan salah satu desa di Kecamatan Bira yang bisa membuat phinisi tradisional.

Sekitar setengah jam dari Bara Beach kami sampai di desa ini. Letaknya di bibir pantai. Sangat mudah menemukan bantilang atau galangan perahu phinisi. Berjejer-jejer di sepanjang tepi pantai. Warna kayunya yang coklat bersinar mengkilat terkena sinar matahari.

Berada di antara galangan perahu phinisi, saya tersedot ke dalamnya. Saya seperti berada di jaman kuda, belum ada teknologi modern. Seolah-olah jaman yang saya pijak sekarang belum ada pesawat terbang, sehingga untuk pulang kampung ke Pulau Jawa saya harus berlayar. OH MY GOD… :shock:

I’m very excited. Melihat tukang-tukang yang lagi kerja. Kayu-kayu sedang dibentuk. Perahu setengah jadi terlihat lunas dan gadingnya. Kebayang deh susahnya membuat perahu, ckckck…



Keterangan gambar: Perahu Phinisi yang masih sementara dalam proses pembuatan di Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: Vierta Dewi Aulia)


Saya jadi teringat si Ikal di Maryamah Karpov. Ikal berhasil membuat perahu, padahal dia bukan turunan ahli pembuat perahu. Ikal memakai desain perahu dan perhitungan sains untuk merakit perahunya. Puiihh, gila ya, semangat saya belum selevel sama Ikal dech untuk membuat perahu…he he…

Tapi masyarakat Bugis lain, membuat perahu tanpa digambar, tanpa desain di atas kertas. Kog bisa ya? Wuaahh…kagumnya saya dengan masyarakat Bugis. Mereka secara turun menurun mempercayai dan mempertahankan pembuatan perahu phinisi secara tradisional.

Para pembuat phinisi ini mempercayai ritual ruling. Ruling berisi tata cara teknik pembuatan phinisi. Seperti pencarian dan penebangan pohon, pengeringan kayu dan pemotongan kayu, perakitan, pemasangan tiang perahu, dan peluncuran phinisi.

Pembuat phinisi dipimpin oleh seorang Punggawa (kepala tukang) yang dibantu oleh Sawi (tukang) dan Calon Sawi. Calon Sawi dilibatkan dalam pemasangan bagian-bagian kecil dalam perahu. Sedangkan upacara pembuatan perahu phinisi dipimpin oleh Pandita Lopi, tokoh adat yang juga ahli membuat perahu.

Kayu sebagai bahan pembuat phinisi adalah kayu Bitti, Katonde, dan Welengreng. Ketiga jenis kayu ini terkenal kuat dan tahan air.

Pencarian dan penebangan pohon dilakukan pada hari yang telah ditentukan. Tanggal 5 dan tanggal 7 setiap bulan dimana perahu mulai dibuat. Orang Tanaberu meyakini bahwa angka 5 (Naparilimai Dalle’na) berarti “rejeki sudah di tangan”, sedangkan angka 7 (Natujuanggi Dalle’na) berarti “selalu mendapat rejeki”.

Setelah pemotongan kayu, ada semacam ritual. Hal ini terlihat dalam peletakan balok lunas. Balok lunas diarahkan menghadap Timur Laut. Balok lunas yang diarahkan ke Timur Laut diartikan sebagai simbol laki laki.



Keterangan gambar: Salah satu perahu phinisi yang sedang dalam proses pekerjaan di Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. (foto: Vierta Dewi Aulia)


Balok lunas yang lain dipasang ke arah yang berlawanan, hal ini diartikan sebagai simbol perempuan. Dalam pemotongan kayu, pantang berhenti sebelum putus. Hal ini dilakukan agar kekuatan kayu tetap terjamin.

Kalebiseang adalah ritual yang dilakukan pada saat pemasangan papan pengapit lunas. Papan-papan disusun berdasarkan ukuran dari yang terbesar hingga yang terkecil. Papan yang terkecil diletakkan di bagian bawah, sementara yang terbesar diletakkan di bagian atas. Keseluruhan papan berjumlah 126 lembar.

Setelah itu dilanjutkan dengan Anjerreki, yaitu memperkuat lunas. Dilanjutkan dengan bagian buritan dipasang dan bagian kemudi bawah mulai disusun.

Setelah papan merekat kuat, pekerjaan selanjutnya adalah “allepa” atau mendempul. Bahannya adalah campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran tersebut diaduk oleh sedikitnya enam orang selama sekitar 12 jam.

Banyaknya dempul yang diperlukan tergantung dari besar-kecilnya perahu yang dibuat. Untuk perahu yang bobotnya mencapai 100 ton, maka dempul yang diperlukan sekitar 20 kilogram. Selanjutnya, badan perahu yang telah dilapisi dengan dempul itu dihaluskan dengan kulit buah pepaya.

Penggunaan bahan-bahan seperti kulit pohon barruk dan kulit buah pepaya, ada kaitannya dengan mitos penciptaan phinisi yang menggunakan kekuatan magis. Mengacu kepada mitos itu, orang-orang di Tanaberu merasa bahwa komunitas mereka sebagai mikrokosmos, yaitu bagian dari jagad raya (makrokosmos).

Hubungan antara kedua kosmos ini diatur oleh tata tertib abadi, sakral, dan telah dilembagakan oleh nenek moyang mereka sebagai adat istiadat. Kedua kosmos ini dijaga harmoninya, sehingga ada kecenderungan mempertahankan yang lama dan menolak atau mencurigai yang baru. Inilah yang kemudian menjadi penyebab mengapa mereka tidak begitu terpengaruh dengan teknologi modern.

Pemasangan tiang dan layar dilakukan ketika badan dan kerangka perahu selesai dikerjakan. Dua layar besar phinisi disebut Sombala. Layar besar depan berukuran 200 meter persegi, sedangkan layar besar belakang berukuran 125 meter persegi. Setiap layar besar mempunyai layar kecil berbentuk segitiga yang disebut Tanpasere. Letaknya diatas tiang layar besar.

Layar segitiga juga terdapat di haluan perahu. Berjumlah tiga buah, layar ini bernama Cocoro Pantara, Cocoro Tangaa, dan Talengke. Fungsi ketiga layar segitiga ini adalah untuk menambah kecepatan perahu.

Layar-layar pada perahu phinisi merupakan suatu kelebihan yang membedakan dengan jenis perahu lainnya. Bila anginnya bertambah, layar phinisi dapat dikurangi bagian demi bagian, sehingga memberikan kemudahan dalam pemakaiannya.



Keterangan gambar: Miniatur Perahu Phinisi. (foto: Vierta Dewi Aulia)


Ini dimulai dengan menutup layar topser dan layar anjungan. Jika anginnya bertambah lagi, maka agak gampang mengurangi layar besarnya dengan menariknya ke arah tiang, sehingga perahu dengan menggunakan layar yang ditutup setengah itu dan satu atau lebih layar anjungan masih bergerak secukupnya supaya daya kemudi tak hilang.

Selain itu, perahu phinisi memiliki perbedaan dalam kemampuan berlayar. Sebabnya, layar phinisi dapat berlayar lebih dekat ke arah angin. Dan yang paling penting adalah bahwa perahu dapat berbalik haluan dengan lebih gampang bila beropal-opal.

Perahu phinisi yang saya tongkrongi ini belum dipasangi layar. Dicat pun belum, baru selesai didempul dan baru sebagian dihaluskan. Sehingga lebih gampang membayangkan layarnya jika mengamati miniaturnya. (Lihat pula sekarang juga: Miniatur Phinisi – BUY NOW !!)

Menurut pengusahanya, perahu phinisi yang sedang ia selesaikan ini akan dijadikan perahu pesiar. Pemesannya berasal dari Pulau Lombok. Phinisi dengan panjang 11 meter ini dijual dengan harga 325 juta rupiah.

Sesampai di Lombok, pemesan bisa menjual lagi jika ada yang menginginkan perahu phinisi ini. Pembeli perahu phinisi Tanaberu memang berasal dari berbagai belahan dunia seperti, Amerika, Kanada, Afrika, Malaysia, Singapura dan Belanda.

Wooww…imajinasi saya tiba-tiba sampai pada mengelilingi belahan dunia dengan perahu phinisi. Alamakk, muluk-muluk sekali…

Ehemm, siapa tahu Tuhan mendengarnya. Bahkan si Ikal pun bermimpi dan Tuhan pun memeluk mimpi-mimpinya…

Well, setidaknya saya bermimpi ke belahan dunia lain, ke sebuah tempat bernama Mekkah. Tapiii… ke sananya naik pesawat sajja yaaaaa…


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]