Senin, 29 November 2010

Pelajar SMA 1 Bulukumba Wakili Sulsel dan KTI


Enam pelajar SMA Negeri 1 Bulukumba secara tidak langsung mewakili Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia (KTI), pada seleksi tahap akhir yang diikuti 15 nominasi dalam rangkaian Festival dan Apresiasi Pemuda Berprestasi di Bidang Iptek 2010, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, di Jakarta, 28-30 November 2010.


--------------------------------------
Pelajar SMA 1 Bulukumba Wakili Sulsel dan KTI
- Dalam Festival dan Apresiasi Pemuda Berprestasi di Bidang Iptek 2010

Oleh Asnawin

Enam pelajar SMA Negeri 1 Bulukumba secara tidak langsung mewakili Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia (KTI), pada seleksi tahap akhir rangkaian Festival dan Apresiasi Pemuda Berprestasi di Bidang Iptek 2010, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, di Jakarta, 28-30 November 2010.

Mereka mewakili Sulsel dan KTI karena dari tak satu pun dari 15 finalis atau nominasi dari pulau Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.

Ke-6 pelajar SMA Negeri 1 Bulukumba itu terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas Syafrina, Erna Ervianti, dan Nur Rizky Dianti. Ketiganya akan mempresentasekan karya berjudul ISJOil (Infus Stove Jebuska Oil). Kelompok kedua terdiri atas M Asfar Syafar, A Uswah Hanafi, dan Nurfadilah yang akan mempresentasekan karya berjudul “Double Function Coconut Tools” Alat Pengupas Sabut dan Pembelah Tempurung Kelapa yang Aman dan Efisien.

Yossi Ahmad Falah, salah seorang panitia dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, yang saya konfirmasi melalui sms, Senin tengah malam, 29 November 2010, membenarkan bahwa keenam pelajar SMA Negeri 1 Bulukumba tersebut sudah tiba di Jakarta untuk mengikuti acara final.

‘’Mereka datang full team, termasuk satu guru pembimbingnya. Mereka datang dengan penuh semangat. Semoga sukses di acara ini,’’ kata Yossi Ahmad Falah.

Nama-nama 15 finalis atau nominasi serta asal sekolah, perguruan tinggi, dan judul karya mereka tertuang dalam surat nomor: 0132 /Asdep 4.1/DI/11/2010, tentang Finalis Festival dan Apresiasi Pemuda Berprestasi di Bidang Iptek Tahun 2010, tertanggal 22 November 2010 (http://www.kemenpora.go.id/pdf/PENGUMUMAN_FINALIS_2010.pdf) yang ditandatangani oleh Asisten Deputi Pengembangan Iptek dan Imtaq atas nama Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Drs Imam Gunawan.

Selanjutnya nama finalis, asal sekolah atau perguruav tinggi, dan judul karya mereka dilampirkan dalam surat panggilan dengan Nomor : 1252/MENPORA D.I/11/2010, tertanggal Jakarta, 22 November 2010, yang juga ditandatangani oleh Imam Gunawan (http://www.kemenpora.go.id/pdf/PEMANGGILANNOMINATOR_2010.pdf).
Yang menarik dalam acara ini yaitu hanya tiga finalis dari kalangan pelajar. Dua finalis dari SMA Negeri 1 Bulukumba dan satu finalis dari SMA Negeri 28 Jakarta, sedangkan peserta lain semuanya mahasiswa yang sebagian besar berasal dari berbagai perguruan tinggi favorit di Pulau Jawa, bahkan seorang peserta lainnya adalah dosen.

Pelajar SMA Negeri 28 Jakarta yang lolos ke final tercatat atas nama Aldino Jazmi, dengan judul karya ‘’Robot Pendeteksi Garis’’, sedangkan satu-satunya dosen yang lolos ke babak final yaitu Boimin dari Universitas Brawijaya Malang, dengan karya berjudul ‘’SENTRUM (Effervescent Rumput Laut) Produk Perikanan dan Kelautan Indonesia yang Menyejahterakan, Menyehatkan, dan Berkelanjutan.’’

Finalis Lainnya

Finalis lainnya yaitu Yoga Prananta Atmaja, mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, dengan judul karya Triple Sistem Absorbsi ” Alat Absorbsi Uap Air, Karbondiosida, dan Sulfur pada Biogas dalam Optimalisasi menjadi Bahan Bakar untuk Generator yang Ramah Lingkungan.”

Fariz Hidayat, mahasiswa Teknik Kimia FTI, Institut Teknologi Surabaya, dengan judul karya Briket Moli dan Kompor Briket Moli: Solusi Masalah Lingkungan dan Krisis Energi.

Zainal Asikin, mahasiswa Institut Teknologi Surabaya, dengan karya berjudul; Rancang Bangun Automatic LPG Protector sebagai Pengaman Kebocoran Terjadinya Ledakan dan Kebakaran.

Pratiwi Puspa Hervina, Tenta Hertian Hendyatama, Zulfikar Syam Bani Ulhaq, mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, dengan karya berjudul; Certilage Degradation Stick (Stik Pendeteksi Kerusakan Kartilago pada Penderita Rematoid Atritis) Upaya Pengembangan Alat Deteksi Alternatif Penggantian X-Ray).

I Gede Yuhana Dharma Sasmita (mahasiswa Kedokteran Universitas Udayana Denpasar, dengan karya berjudul; Cholorophyl Fotoexciation Device (CFD) sebagai Inovasi Modalitas Teknologi Terapi Potensial untuk Penanganan Kanker Serviks).

Luben Hajar Velayati dan Astra Wijaya, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Pontianak, dengan karya berjudul; Pemanfaatan Ekstrak Antosianin Dari Bunga Kembang Sepatu untuk Sel Surya Pewarna Tersensitisasi (SSPT) TiO2 Nanckristal dalam Upaya Pengembangan Energi Alternatif di Kota Pontianak.

Elvi Robiatul Adawiyah, mahasiswi FMIPA Universitas Muhammadiyah Hamka (UHAMKA) Jakarta, dengan karya berjudul; Mosquito Pullutant Destroyer (Mosper) Generasi 3.

Heru Susanto, mahasiswa Universitas Brawijaya, dengan judul karya; Rancang Bangun Prototipe Reaktor Biogas Limbah Sapi dengan Pengaturan Temperatur Menggunakan Metode PL Berbasis Mikrokontroler.

Amanah Ramadiah, Enrico Budianto, dan Peradnya Dinata, mahasiswa Universitas Indonesia, dengan karya berjudul;  Trafic Simulator Mengatasi Kemacetan dengan Teknologi Informasi.

Banu Desi Antoro, Febri Catur Prayoga, dan Rosyida Ramadhani, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, dengan karya berjudul; Earthquake and Tsunami Warning System di Pesisir Pantai Indonesia dengan Memanfaatkan Gabungan Teknologi Sederhana dan Modern.

Nova Suparmanto, mahasiswa FT Universitas Negeri Yogyakarta, dengan karya berjudul; Mobile Learning Installer (MLI) sebagai Fasilitas dalam Dunia Pendidikan untuk Membuat Media Pembelajaran Berbasis Mobile Aplication.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Minggu, 28 November 2010

Sokola Alam Kajang


Anak-anak yang belajar di SOKOLA Pesisir Mariso boleh jadi sangat menikmati belajar di rumah panggung dan di alam terbuka. Jauh berbeda dengan anak-anak binaan di Pedalaman Kajang, Kabupaten Bulukumba, yang memanfaatkan pepohonan hingga rumah-rumah sawah sebagai tempat belajar baca, tulis, dan berhitung.


----------------------------------------------- 
Sokola Alam Kajang

Artikel ini dimuat oleh Hikmah Tahir pada blog http://hikmahtahir.multiply.com/journal/item/17/Sokola_Alam_Kajang. Hikmah Tahir yang akrab disapa Cima' adalah seorang wartawan di Makassar.




Anak-anak yang belajar di SOKOLA Pesisir Mariso boleh jadi sangat menikmati belajar di rumah panggung dan di alam terbuka. Jauh berbeda dengan anak-anak binaan di Pedalaman Kajang, Kabupaten Bulukumba, yang memanfaatkan pepohonan hingga rumah-rumah sawah sebagai tempat belajar baca, tulis, dan berhitung. 

Namanya SOKOLA Alam dan berada di Dusun Pangi, yang masuk wilayah Pedalaman Kajang atau Kajang Dalam. Melirik budaya dan adat istiadatnya, komunitas ini dikenal konservatif. Mereka adalah komunitas marjinal yang menjunjung tinggi norma adat istiadat. 

Masuknya tenaga sukarelawan yang mendidik kalangan anak-anak usia sekolah dasar dan remaja ini kenyataannya tidak mudah dan butuh proses yang cukup panjang. Letak SOKOLA berada di Dusun Pangi, Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang. Di Kajang Dalam, ada lagi beberapa dusun yang dikenal sangat mempertahankan adat hingga listrik  pun belum masuk.
 
Imran, salah satu pengajar sukarela menuturkan, sebelum akhirnya resmi berdiri pada 2007 silam, tim SOKOLA memantau lokasi. Selanjutnya kembali lagi mendata warga yang berminat belajar baca, tulis,dan berhitung. 

Satu upaya lagi sebelum benar-benar mengabdi di tempat ini adalah mempelajari bahasa Konjo yang merupakan bahasa setempat. Masing-masing proses ini membutuhkan waktu sebulan lamanya. Tenaga sukarelawan lainnya bernama Habibi mengungkapkan, komunitas ini lebih mudah didekati secara psikologis jika pandai berbahasa setempat. Bermodal penguasaan bahasa itu pula yang membuat Ammatoa (pemimpin suku Kajang) memberikan izin atas pendirian SOKOLA Alam.

”Hal terpenting dan wajib bagi setiap pengajar adalah mempelajari bahasa Konjo. Ini butuh waktu sebulan juga. Sebab, bahasa itulah modal komunikasi kami dengan warga dan anak-anak. Mereka juga bisa mengerti dan mudah menyerap apa yang kami  ajarkan,” tutur salah satu pengajar sukarela Imran yang diamini kawannya Habibi.

Kenyataannya, menguasai bahasa daerah membuat pendekatan, terutama ke anak-anak usia sekolah dasar lebih mudah. Metode mengajar santai dengan mengikuti ritme mereka dan bermodal literatur seadanya, membuat sebagian besar anak-anak Kajang ini akhirnya bisa baca, tulis, dan berhitung.

Apalagi, jika melihat anak-anak yang diajar sebagian besar adalah penggembala sapi dan kerbau. Praktis, butuh pendekatan komunikasi yang baik. Butuh pula kesabaran menanti mereka. Akhirnya, jam belajar mereka disesuaikan dengan kesempatan yang mereka punya.
 
Para pengajar yang biasanya dua orang pun harus mengikuti ke mana mereka menggembalakan sapi dan kerbaunya. Sebuah pengalaman seru tentunya untuk tenaga pengajar, seperti Imran dan Habibi. 

”Mengajar di Kajang benar-benar berbeda dibandingkan di sini (Mariso). Di sana, kami mengikuti mereka menggembala sapi. Jadi, tempatnya tidak tentu, kadang di bawah pohon kadang di rumah-rumahan sawah atau di rumah kebun. Kami tunggui sampai sapi mereka aman ditinggal seperti kalau sudah makan. Biasanya itu waktu siang hari. Kami juga maksimal mengajar selama dua jam karena mereka kembali menggembala sapi,” tutur Habibi.
 
Seusai belajar, anak-anak penggembala bersama pengajar biasanya bermain sejenak sebelum kembali menggembala.
 
Bermain dengan permainan anak setempat atau paling disenangi memanjat pohon kelapa. Paling tidak mendapat buah kelapa dan meminum airnya untuk menghilangkan dahaga. Kehangatan dan keakraban dalam gambaran suasana tersebut rasanya menghapus peluh perjuangan para sukarelawan dalam mencapai daerah ini. Sebab, untuk menjangkau Pangi dari Kajang Luar, dilakukan dengan berjalan kaki belasan kilometer. Tidak ada kendaraan yang memasuki daerah tersebut. 

Waktu tiga pekan setiap bulannya sebagai jadwal intens mengajar di SOKOLA Alam Kajang ini pun menjadi tidak cukup. Apalagi melihat perlengkapan belajar yang dibawa dari Makassar yang hanya beberapa alat tulis, white board kecil, beberapa buku gambar, dan buku tulis ataupun dengan menjinjing satu poster huruf abjad. Melalui keterbatasan ini misi pengajaran harus maksimal.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Foto-foto Festival Phinisi 2010 di Bulukumba




GADIS BERBAJU BODO. Para penari yang mengenakan baju bodo, baju adat Bugis-Makassar, pada pembukaan Festival Phinisi 2010, di Bulukumba, 22 Oktober 2010. Foto direkam dari http://aci.detik.com/readfoto/2010/11/01/141440/1481535/1002/3/. Berikut beberapa foto dari ajang Festival Phinisi 2010 di Bulukumba yang dimeriahkan dengan berbagai atraksi dan pertunjukan.



BUKA FESTIVAL. Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo didampingi Ketua DPRD Sulsel, HM Roem, Plt Bupati Bulukumba, Azikin Solthan, dan Ketua DPRD Bulukumba, Edi Manaf saat membuka Festival Phinisi , Jumat 22 Oktober 2010. Foto direkam dari http://lokalnews.fajar.co.id/read/108100/123/-perkenalkan-wisata-lewat-festival-pinisi. (foto: arman/fajar)


MENYAMBUT GUBERNUR. Ribuan anak dari berbagai sekolah dasar di Bulukumba yang memakai seragam sekolah sambil memegang kayu kecil yang di ujungnya ada bendera kertas menyambut kedatangan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang akan membuka Festival Phinisi 2010. Foto direkam dari

TARI PABBATTE PASSAPU. Tarian Pabbatte Passapu atau Sabung Ayam dengan baju hitam-hitam khas suku Kajang. Gerakan tari pabbatte passapu ini meniru gerakan ayam jago yang tengah berkelahi. Tarian ini untuk menyindir mereka yang gemar berjudi sabung ayam. Dalam tarian ini digambarkan larangan-larangan berjudi sabung ayam dan kebiasaankebiasaan buruk kaum adam. Foto direkam dari (http://aci.detik.com/readfoto/2010/11/01/141440/1481535/1002/4/.






TARI NELAYAN. Dua gadis remaja membawakan tari nelayan yang ceria dan penuh energi. Tari ini menggambarkan kehidupan para nelayan di laut yang hidup dari hasil menangkap ikan.Tari ini banyak menampilkan gerak-gerak seperti mendayung, melempar jala, tertusuk duri ikan, dan lain sebagainya. Foto direkam dari http://aci.detik.com/readfoto/2010/11/01/141440/1481535/1002/5/.


BERPOSE. Seorang penari berpose dengan latar belakang Pantai Bira yang terkenal akan pasir putihnya yang super halus, pada pembukaan Festival Phinisi 2010, di Pantai Bira, Bulukumba, 22 November 2010. Foto direkam dari


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Menjenguk Rifaldi, Balita Penderita Hydrocephalus (2-Selesai)


PEDULI SESAMA -- Salah seorang kru Redaksi Radar Bulukumba (Grup Fajar) Akhiruddin saat meyerahkan bantuan ke orangtua bayi penderita Hydrocephalus di rumahnya, Sabtu, 27 November 2010. Harapan orangtua Rifaldi untuk melihat puteranya lepas dari penderitaan mulai tampak. Rifaldi kini mulai mendapat uluran tangan untuk biaya operasi pengangkatan cairan di kepalanya.

----------------------------------------------
Menjenguk Rifaldi, Balita Penderita Hydrocephalus (2-Selesai)
Dapat Jamkesda Setelah Wabup Turun Tangan

Harian Fajar, Makassar
Minggu, 28 November 2010
http://news.fajar.co.id/read/110711/127/menengok-rifaldi-balita-penderita-hydrocephalus-2selesai

PERASAAN putus asa orangtua Rifaldi perlahan mulai terhapus. Mereka kini punya harapan untuk mendekap putra kelimanya itu seperti empat anaknya yang lain. Rifaldi kini punya harapan untuk lepas dari penyakit yang dideritanya sejak tiga belas bulan silam. Kondisi bayi dari keluarga miskin ini yang disebarkan melalui media massa ternyata mengundang banyak simpati. Tidak hanya pemerintah setempat, para dermawan lainnya pun mulai mengulurkan tangannya untuk membantu biaya operasi Rifaldi.

Bantuan yang diterima ini pun tidak disia-siakan. Mariani bersama suaminya pun memutuskan untuk kembali membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulthan daeng Radja, Sabtu, 27 November kemarin. Meskipun bantuan yang dia terima belum seberapa, namun ini tidak membuat dia mengurungkan niatnya lagi untuk mewujudkan impian agar anaknya segera dioperasi. Dia sangat percaya akan mendapatkan perhatian pemerintah sambil berharap masih ada orang yang rela menyisihkan sebagian hartanya untuk disumbangkan kepadanya.

Tekad ini ternyata tidak sia-sia karena tidak lama setelah tiba di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit ini, Wakil Bupati Bulukumba, Syamsuddin yang yang mengetahui informasi ini pun tiba. Mantan sekkab Bantaeng ini pun langsung menanyakan soal fasilitas jaminan kesehatan (jamkesda) yang dimiliki anak ini. Nyaris anak ini kembali kesulitan karena belum mendapat fasilitas jamkesmas.

Beruntung, Syamsuddin berhasil meyakinkan pihak rumah sakit untuk membereskan persoalan ini. Bahkan bocah ini rencananya akan bermalam dulu satu malam di rumah sakit ini sambil menunggu penyelesaian administrasinya. Namun Syamsuddin meminta agar anak ini segera dirujuk ke Makassar untuk mendapatkan pelayanan lebih baik. 

"Rujuk saja ke Makassar, tidak perlu lagi tunggu besok, soal biaya itu persoalan di belakang, saya siap bertanggungjawab," ucap Syamsuddin.

Asa Mariani semakin besar saat tim dari dompet peduli Radar Bulukumba (Fajar Grup) pun tiba untuk menyerahkan bantuan. Dana yang berhasil dikumpulkan selama tiga hari ini pun diserahkan langsung Pemimpin Redaksi (pemred) Radar Bulukumba, Syamsul Bakir Hamid. Melihat ini, ibu Rifaldi semakin yakin tidak lama lagi anaknya akan dioperasi. Apalagi dia juga baru saja mendengar kabar akan kembali menerima bantuan dari Yayasan Kemanusiaan Fajar (YKF) jelang anaknya dioperasi di Makassar.

Tidak lama setelah itu, seorang pria masuk di ruang tempat Rifaldi mendaparkan perawatan sementara. Pria itu pun dengan tegas menyatakan bahwa mobil ambulanc yang akan membawa Rifaldi dirujuk ke Makassar sudah siap. Bergegas Mariani berdiri dan menggendong buah hatinya yang sedang melawan sakit ini. Tapi langkahnya kembali tertahan saat pria itu menyebut ongkos ambulans sekira Rp 900 ribu belum beres.

Mendengar ini, wajah Mariani kembali lesu termasuk para wartawan yang hendak meliput keberangkatan Rifaldi. Orang-orang yang datang melihat kondisi Rifaldi tampak tercengang bercampur bingung. Tetapi Wabub Syamsuddin memperlihatkan kepeduliannya yang langsung keluar menuju sebuah meja untuk membereskan pembayaran biaya ambulans ini. Barulah orang-orang kembalu legas termasuk orang tua Rifaldi.

Dia pun melanjutkan langkahnya ke luar menuju ambilans yang sudah terparkir tepat di depan ruang UGD. Tanpa berpikir panjang dia masuk ke mobil ini sambil menggendong anaknya. Tidak ada lagi yang ada dalam pikiran Mariani selain membayangkan meja operasi dan melihat anaknya kembali normal.

Hanya ayah Rifaldi yang terlihat sibuk mengangkat setengah karung beras dan sebuah kompor masak. Meskipun akhirnya dia batal membawa perlengkapan ini lantaran ditegur salah salah seorang yang menyatakan tidak dibenarkan memasak di rumah sakit. Dia kemudian meletakkan kompor tersebut tetapi berasnya tetap dia naikkan ke Ambulans.

Sebelum beranjak meninggalkan rumah sakit, dengan sangat dalam berpamitan dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada orang yang telah membantunya. 

"Mudah-mudahan ada balasannya, saya sangat senang karena anak saya akhirnya ada harapan hidup. Saya tidak menyangka akhinya bisa merujuk anak saya," ucapnya sambil matanya berkaca-kaca bersamaan dengan itu mobil ambulans itu mulai bergerak meninggalkan rumah sakit ini. (*)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

Menjenguk Rifaldi, Balita Penderita Hydrocephalus (1)


BUTUH BANTUAN. Mariani hanya bisa meratapi nasib anaknya, Rifaldi yang sedang berjuang melawan penyakit. Berawal dari benjolan kecil saat masih berusia dua bulan, Rifaldi kini mengalami pembesaran ukuran kepala yang tidak biasa. Ia kini sedang melawan sakit. Padahal, pada usianya kini, seharusnya ia bisa bermain dengan ceria.



--------------------------------------------
Menjenguk Rifaldi, Balita Penderita Hydrocephalus (1)
Biaya Operasi Mahal, Orang Tua Pasrah



Harian Fajar, Makassar
Sabtu, 27 November 2010
http://news.fajar.co.id/read/110650/127/menjenguk-rifaldi-balita-penderita-hydrocephalus-1

MARIANI tidak pernah menyangka putra kelimanya, Rifaldi yang lahir normal akan menderita penyakit hydrocephalus. Bocah malang berusia 15 bulan itu terbaring lesu di kamar berukuran 3x4 meter. Buah hati pasangan Amran dan Mariani itu bernama Rifaldi. Ia lahir 27 Juli 2009.

Berawal dari benjolan kecil saat masih berusia dua bulan, Rifaldi kini mengalami pembesaran ukuran kepala yang tidak biasa. Ia kini sedang melawan sakit. Padahal, pada usianya kini, seharusnya ia bisa bermain dengan ceria.

Tapi itu sulit dia lakukan. Karena dia harus menanggung beban penderitaan akibat kelainan pada kepalanya. Bersama orang tua dan empat kakaknya, dia terpaksa menjalani hidup dengan kondisi kepalanya yang terus membesar.

Keluarga miskin ini hidup di sebuah kampung yang jauh dari keramaian. Untuk mencapai kampung ini dibutuhkan waktu sejam melewati jalan yang rusak dan berbatu. Penduduk yang ada di kampung ini pun sudah banyak yang tahu bahwa ada anak malang di kampung ini. Sebuah puskesdes yang berada sekira satu kilometer dari rumahnya juga tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan fasilitas.

Kondisi Rifaldi saat ini sangat memprihatinkan. Matanya tertutup tetapi bukan berarti dia sedang tidur. Ukuran kepalanya yang mengalami pembesaran tiga kali lipat dari ukuran badannya membuat kelopak matanya terdorong. Ini membuat bocah ini sulit untuk membuka matanya dengan normal. Dia juga kesulitan bergerak karena berat badannya tidak mampu mengimbangi berat kepalanya.

Dia mengalami kelainan produksi cairan yang berlebih pada kepalanya. Ini bisa dibuktikan dengan kondisi kepalanya yang tidak mengeras. Justru kepalanya lembek dan terasa seperti bahan karet yang terisi jika disentuh. Tanda-tanda kelainan ini sebenarnya sudah ada saat Rifaldi masih berusia dua bulan. Saat itu benjolan kecil sudah mulai muncul pada bagian jidatnya. Tetapi orang tua Rifaldi hanya menganggap biasa.

Kelainan ini baru diperiksakan ke dokter dua bulan kemudian atau saat Rifaldi berusia empat bulan. Orang tua Rifaldi mulai panik karena benjolan kecil itu semakin membesar sehingga dia memutuskan membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulthan Daeng Radja Bulukumba. Saat itu dokter memvonis dia menderita kelainan cairan pada otak atau disebut dengan istilah hydrocephalus.

Hanya saja, saat itu dokter di rumah sakit tersebut mengaku tidak sanggup dengan alasan anak ini perlu penanganan khusus. Orang tua Rifaldi disarankan untuk merujuk anak ini ke Makassar untuk mengikuti operasi pengangkaran cairan yang berlebih tersebut. Namun karena keterbatasan biaya, orang tua Rifaldi mengurungkan niatnya dan memilih membawa anaknya pulang ke rumahnya.

Dia kemudian mencoba menggunakan pengobatan alternatif dengan pengobatan tradisional atau dengan memanggil dukun. Tetapi upaya ini juga tidak berhasil sehingga saat ini orang tua Rifaldi memilih pasrah sambil menunggu ada orang yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu biaya operasi anaknya. Sebenarnya tidak terlalu besar biaya yang dibutuhkan untuk operasi. Ibu Rifaldi hanya diminta menyiapkan Rp 5 juta tetapi bagi keluarga miskin yang hanya berprofesi sebagai petani biasa ini jumlah tersebut sangat besar dan sulit dia dapatkan.

"Saat itu saya cuma punya uang tiga juta saja. Itu pun saya sudah berusaha cari di sana-sini untuk mengumpulkan uang. Tapi saya diminta siapkan lima juta ditambah dengan biaya ambulans sekira Rp 900 ribu. Saya tidak sanggup," ucap dia sambil mengelus kepala putranya saat di temui di rumahnya di Dusun Pattalassang, Desa Orogading, Kecamatan Kindang, sekira 35 kilometer dari pusat Kota Bulukumba, Selasa, 23 November.

Orang tua Rifaldi hanya bisa menengadahkan tangannya meminta uluran tangan pemerintah atau pihak lain yang mau membantunya. Saat ini Mariani mengaku tidak bisa berbuat apa-apa dengan keterbatasan keuangan keluarganya.

Bahkan Mariani makin bingung karena kondisi anaknya yang makin lemah. Badannya juga semakin kecil sementara kepalanya makin membesar. Sehari-hari dia juga tidak pernah membelikan obat anaknya karena tidak punya biaya. Dia hanya bisa menyuguhkan bubur setiap kali anaknya menangis pertanda lapar. Rifaldi juga sudah berhenti menyusui sejak tiga bulan lalu. Mariani pun setiap malam disibukkan untuk mengurusi anaknya yang selalu meringis kesakitan.

Kepala Desa Orogading, Lukman mengatakan, dirinya sangat prihatin dengan kondisi yang dialami warganya. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena untuk berobat butuh biaya besar karena harus dirujuk ke Makassar. Dia pun berharap nanti ada bantuan dari pemerintah kabupaten kepada anak malang ini. Dia pun berencana menyampaikan kondisi warganya ini kepada Pemkab Bulukumba.

"Selama ini saya baru mengajak dia ke Rumah Sakit Bulukumba. Saya belum pernah mencoba mencari donatur lain untuk membatu dia,” katanya. (bersambung)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]