Tampilkan postingan dengan label Berita Sosial / Kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Sosial / Kemasyarakatan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 27 September 2013
Bulukumba Rawan Bencana, Masyarakat Perlu Waspada
RAWAN BENCANA. Kepala BPBD Provinsi Sulsel, Syamsibar (tengah), memberikan pengarahan dan penjelasan, pada acara Penilaian Kapasitas Lokal dalam Pengurangan Resiko Bencana, di Hotel Agri, Bulukumba, Kamis, 26 September 2013. Kegiatan tersebut diikuti unsur TNI, SKPD, Camat, Lurah, dan Kepala Desa. (ist)
Kamis, 20 Juni 2013
Kawasan Adat Ammatoa Kajang Sudah Saatnya Diakui
DISKUSI PUBLIK. Agfor Indonesia mengadakan diskusi publik tentang kawasan adat Ammatoa, Kajang, di rumah pertemuan kawasan adat Ammatoa, Desa Tanah Toa, Kajang, Bulukumba, Senin, 17 Juni 2013. Diskusi antara lain dihadiri Wabup Bulukumba Syamsuddin, dan pakar kehutanan dari Universitas Hasanuddin Dr Azhar. (ist)
Selasa, 04 Juni 2013
BBM, Miras, Kafe, Narkoba, Petasan, dan Balapan Liar di Bulukumba
Selain mengantisipasi berbagai kemungkinan dampak yang terjadi setelah harga BBM dinaikkan, Pemkab Bulukumba bersama unsur-unsur terkait, sudah membahas berbagai langkah antisipasi menghadapi bulan suci Ramadhan, terutama pengawasan terhadap peredaran miras, kafe, narkoba, petasan, serta balapan liar di Bulukumba. (Foto: Asnawin)
Minggu, 25 Desember 2011
Kebijakan Dua Jalur Untungkan Mal Mega Zanur
BONGKAR. Warga Jalan Ratulangi dan sekitarnya memprotes kebijakan dua jalur dengan cara membongkar beton pemisah untuk median jalan, Rabu, 21 Desember 2011. Mereka protes karena kebijakan dua jalur itu justri kerap menimbulkan kemacetan arus lalu lintas dan juga merugikan pedagang di sekitar Jalan Ratulangi. (Foto: Arman/Fajar)
Rabu, 09 November 2011
50 Anak Ikut Sunatan Massal
SUNATAN MASSAL. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bulukumba, Hj Nurhayati Lasaleng (kedua dari kiri) bersama beberapa pengurus TP-PKK Bulukumba menyaksikan sunatan massal yang diadakan di Aula Gedung PKK Bulukumba, Rabu, 9 November 2011. (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)
Senin, 07 November 2011
Ratusan KK Terima Bantuan Beras
SERAHKAN BANTUAN. Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan (pakai kopiah) disaksikan Wabup Syamsuddin (paling kanan), dan Ketua DPRD Bulukumba Andi Hamzah Pangki, menyerahkan bantuan beras secara simbolis kepada 280 warga Kecamatan Bontobahari, di Aula Kantor Camat Bontobahari, Sabtu, 5 November 2011. (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)
Kamis, 03 November 2011
BTN Puri Asri Tempat Berbuat Mesum Pelajar
Warga BTN Puri Asri, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba resah dengan aksi mesum yang sering dilakukan pelajar dan mahasiswa di perumahan tersebut. Sudah beberapa pasangan pelajar dan mahasiswa tertangkap melakukan perbuatan tidak senonoh dalam perumahan ini. Pemkab Bulukumba yang memiliki Perda Penerapan Syariat Islam diharapkan mengambil langkah-langkah guna mengantisipasi kejadian serupa terulang.
Sabtu, 15 Oktober 2011
Pasangan yang Tertangkap Razia Dianjurkan Menikah
Aparat menangkap dua pasangan mesum di sebuah rumah kos yang terletak di Jl Melati, Bulukumba, masing-masing dua perempuan yang berstatus mahasiswi, serta dua laki-laki yang juga salah seorang tenaga honorer di salah satu instansi di lingkup Pemkab Bulukumba dan wiraswasta di Bulukumba. Usai dirazia, aparat Satpol kemudian memanggil kedua pihak keluarga mereka dan diminta untuk menikahkan anak mereka.
Selasa, 16 Agustus 2011
Sambut Kemerdekaan, Bupati Bagi-Bagi Uang untuk Veteran
BAGI-BAGI UANG. Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan secara pribadi memberikan sedekah kepada sedikitnya delapan ratus veteran, janda veteran, dan pejuang kemerdekaan masing-masing 50 ribu perorang atau lebih dari Rp 40 juta, di Gedung Jiwa Semangat dan Nilai-Nilai 45, Bulukumba, Selasa, 16 Agustus 2011.
Selasa, 02 Agustus 2011
Kemenpera Bantu Bulukumba 30 Perumahan Nelayan
KAWASAN PESISIR. Pemerintah kabupaten (Pemkab) Bulukumba, mendapat bantuan perumahan nelayan sebanyak 30 unit. Jatah 30 unit bantuan perumahan nelayan tersebut, berasal dari kantor Kementerian Perumahan Rakyat. Bantuan perumahan khusus nelayan itu akan dibangun di kawasan pesisir di kecamatan Ujungbulu. (Foto: Asnawin)
Kemenpera Bantu Bulukumba 30 Perumahan Nelayan
Harian Ujungpandang Ekspres
Selasa, 02-08-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=70079
BULUKUMBA, UPEKS - Pemerintah kabupaten (Pemkab) Bulukumba, mendapat bantuan perumahan nelayan sebanyak 30 unit. Jatah 30 unit bantuan perumahan nelayan tersebut, berasal dari kantor Kementrian Perumahan Rakyat. Bantuan perumahan khusus nelayan itu akan dibangun di kawasan pesisir di kecamatan Ujungbulu.
"Karena perumahan khusus nelayan, maka, perumahan tersebut akan dibangun di kawasan pesisir Ela-ela atau Kalumeme," kata M Sukri, Kepala Dinas Tataruang dan Pemukiman Bulukumba.
Diakui Sukri, bantuan perumahan khusus nelayan itu merupakan bantuan yang kali pertama di dapat Pemkab Bulukumba.
Pemkab Bulukumba menyambut baik bantuan perumahan nelayan dari Kantor Kementerian Perumahan Rakyat.
30 unit perumahan khusus nelayan itu, akan diperuntukkan kepada nelayan yang hidupnya pas-pasan dan belum punya rumah. Atau nelayan yang sudah punya rumah, tapi rumahnya tidak layak huni.
Selain bantuan 30 unit rumah nelayan, menurut Sukri, masyarakat Bulukumba juga akan kebagian bantuan perbaikan rumah.
Sebanyak 150 unit rumah akan direhabilitasi atau diperbaiki tahun ini. Dana bantuan perbaikan perumahan itu berasal dari Kantor Kementerian Perumahan Rakyat.
Bantuan 30 unit pembangunan rumah baru khusus nelayan itu, tidak termasuk bantuan pembangunan 300 unit rumah yang didapat Pemkab Bulukumba sebelumnya.
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/]
Kamis, 16 Juni 2011
Pemkab Bulukumba Tidak Miliki Data Anjal
ANAK JALANAN. Anak jalanan (anjal) di Bulukumba mulai menjamur. Namun pemerintah kabupaten (pemkab) khususnya Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dissosnakertrans) belum memiliki program apapun terkait penanganannya. Bahkan Dissosnakertrans mengakui belum memiliki data tentang jumlah anjal di Bulukumba. (int)
----------
Pemkab Bulukumba Tidak Miliki Data Anjal
- Berdalih Tidak Dianggarkan
Oleh: Muhammad Arman
Harian Fajar
Rabu, 15 Juni 2011
http://www.fajar.co.id/read-20110614202810-pemkab-tidak-miliki-data-anjal
BULUKUMBA -- Anak jalanan (anjal) di Bulukumba mulai menjamur. Namun pemerintah kabupaten (pemkab) khususnya Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dissosnakertrans) belum memiliki program apapun terkait penanganannya. Bahkan Dissosnakertrans mengakui belum memiliki data tentang jumlah anjal di Bulukumba.
Alasannya, sulit melakukan pendataan anjal termasuk gelandangan dan pengemis (gepeng) lantaran bersifat musiman. Selain itu, Dissosnakertrans berkelit, tidak ada anggaran yang disiapkan untuk penanganan anjal dan gepeng.
Kepala Dissosnakertrans Bulukumba, Jalaluddin Halim mengatakan, selama ini yang masuk program dan terdata hanya kategori anak terlantar yakni yatim piatu dan anak putus sekolah. Itu pun, kata dia, hanya diambil dari laporan kepala desa. Jumlahnya pun, kata dia, baru pada kisaran seratus anak, kecuali lanjut usia jumlahnya sudah seribuan orang.
Sedangkan untuk data anjal, pihaknya sama sekali tidak memiliki datanya. Bahkan untuk melakukan pendataan belum dilakukan dengan alasan jumlahnya selalu berubah-ubah. Ini disebabkan tidak menetapnya anak tersebut pada suatu tempat dan cenderung hanya muncul pada tempat-tempat umum.
"Pernah mau didata tapi kami pikir sulit karena berganti-ganti. Bisa hari yang ditemukan si A besok si B," aku Jalaluddin, Selasa, 14 Juni 2011.
Ia juga menyoal belum adanya peraturan daerah (perda) yang mengatur soal anjal. Karena itu, kata dia, sulit baginya untuk mengambil langkah pendataan, apalagi penanganan.
Wakil Ketua DPRD Bulukumba, Andi Edy Manaf mengatakan, seharusnya Dissosnakertrans tidak harus menunggu perda untuk melakukan pendataan. Edy malah menyalahkan Dissosnakertrans jika sampai saat ini belum memiliki data tentang jumlah anjal. Data tersebut, kata dia, harus dimiliki untuk melakukan pemetaan tentang jumlah dan latar belakang anjal atau gepeng yang beroperasi di Bulukumba. (arm)
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/]
----------
Pemkab Bulukumba Tidak Miliki Data Anjal
- Berdalih Tidak Dianggarkan
Oleh: Muhammad Arman
Harian Fajar
Rabu, 15 Juni 2011
http://www.fajar.co.id/read-20110614202810-pemkab-tidak-miliki-data-anjal
BULUKUMBA -- Anak jalanan (anjal) di Bulukumba mulai menjamur. Namun pemerintah kabupaten (pemkab) khususnya Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dissosnakertrans) belum memiliki program apapun terkait penanganannya. Bahkan Dissosnakertrans mengakui belum memiliki data tentang jumlah anjal di Bulukumba.
Alasannya, sulit melakukan pendataan anjal termasuk gelandangan dan pengemis (gepeng) lantaran bersifat musiman. Selain itu, Dissosnakertrans berkelit, tidak ada anggaran yang disiapkan untuk penanganan anjal dan gepeng.
Kepala Dissosnakertrans Bulukumba, Jalaluddin Halim mengatakan, selama ini yang masuk program dan terdata hanya kategori anak terlantar yakni yatim piatu dan anak putus sekolah. Itu pun, kata dia, hanya diambil dari laporan kepala desa. Jumlahnya pun, kata dia, baru pada kisaran seratus anak, kecuali lanjut usia jumlahnya sudah seribuan orang.
Sedangkan untuk data anjal, pihaknya sama sekali tidak memiliki datanya. Bahkan untuk melakukan pendataan belum dilakukan dengan alasan jumlahnya selalu berubah-ubah. Ini disebabkan tidak menetapnya anak tersebut pada suatu tempat dan cenderung hanya muncul pada tempat-tempat umum.
"Pernah mau didata tapi kami pikir sulit karena berganti-ganti. Bisa hari yang ditemukan si A besok si B," aku Jalaluddin, Selasa, 14 Juni 2011.
Ia juga menyoal belum adanya peraturan daerah (perda) yang mengatur soal anjal. Karena itu, kata dia, sulit baginya untuk mengambil langkah pendataan, apalagi penanganan.
Wakil Ketua DPRD Bulukumba, Andi Edy Manaf mengatakan, seharusnya Dissosnakertrans tidak harus menunggu perda untuk melakukan pendataan. Edy malah menyalahkan Dissosnakertrans jika sampai saat ini belum memiliki data tentang jumlah anjal. Data tersebut, kata dia, harus dimiliki untuk melakukan pemetaan tentang jumlah dan latar belakang anjal atau gepeng yang beroperasi di Bulukumba. (arm)
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/]
Jumat, 06 Mei 2011
Bulukumba Terima Bantuan Sarana Air Minum
BANTUAN. Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, menerima bantuan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan senilai lebih dari Rp 5,6 miliar dari Pemprov Sulsel, serta bantuan program pemberdayaan petani senilai Rp 2,8 miliar, bantuan pengembangan koperasi daerah senilai Rp 50 juta, dan bantuan sarana budi daya kelautan dan perikanan senilai Rp 1 miliar.
-----------------------
Bulukumba Terima Bantuan Sarana Air Minum
Antara news
Rabu, 04 Mei 2011
http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/27409/bulukumba-terima-bantuan-sarana-air-minum
Bulukumba (ANTARA News) - Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, menerima bantuan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan senilai lebih dari Rp 5,6 miliar dari Pemprov Sulsel. Bantuan itu diserahkan pada pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat ke VIII/2011 tingkat provinsi di lapangan Pemuda Bulukumba, Rabu, 5 Mei 2011.
Mewakili pemerintah provinsi, Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang juga menyerahkan bantuan program pemberdayaan petani senilai Rp 2,8 miliar dan bantuan pengembangan koperasi daerah senilai Rp 50 juta, serta bantuan sarana budi daya kelautan dan perikanan senilai Rp 1 miliar.
Terkait pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong, Wakil Gubernur mengatakan, gotong royong adalah budaya dan kearifan lokal masyarakat Sulsel yang memiliki semangat, nilai dan makna yang universal.
Menurut dia, budaya gotong royong tidak akan memudar namun justru melakukan penyesuaian bentuk sesuai dengan perkembangan zaman.
"Saat ini, bentuk-bentuk gotong royong khususnya di daerah perkotaan tidak lagi identik dengan membuat jalan, membersihkan kampung dan sebagainya, tetapi lebih dipahami sebagai sikap solidaritas, asosiasi, kesetiakawanan sosial dan pengelompokan diri dalam bentuk komunitas." jelasnya.
Untuk itu, lanjutnya, gotong royong harus tetap dipertahankan sebagai sebuah budaya di tengah masyarakat serta menjadi media pembangunan dalam era kekinian dari segenap unsur pemerintah dan masyarakat. (T.KR-RY/N002)
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/]
Selasa, 26 April 2011
Mencari Kayu Bakar Meski Harus "Ngesot"
CARI KAYU BAKAR. Memiliki tubuh yang tidak sempurna bukan penghalang bagi nenek tua bernama Tape (70) yang harus menyeret badannya di tanah atau ngesot saat mencari potongan kayu bakar di tengah kebun. Potongan-potongan kayu bakar itu lalu dijual untuk menyambung hidupnya. (Kompas.com/k23-11)
--------------------------
Mencari Kayu Bakar Meski Harus "Ngesot"
Kompas.com
K23-11 | Pepih Nugraha |
Senin, 25 April 2011 |
http://regional.kompas.com/read/2011/04/25/12535186/Mencari.Kayu.Bakar.meski.Harus.Ngesot.
BULUKUMBA, KOMPAS.com — Memiliki tubuh yang tidak sempurna bukan penghalang bagi Tape yang harus menyeret badannya di tanah atau ngesot saat mencari potongan kayu bakar di tengah kebun. Potongan-potongan kayu bakar itu lalu dijual untuk menyambung hidupnya.
Wanita lumpuh ini pun menjual jasanya untuk memelihara ternak ayam milik orang lain. Dari hasil kerja keras tanpa memelas kasih kepada orang lain, nenek berusia 70 tahun ini akhirnya bisa membeli rumah panggung meski ukurannya tak besar.
"Tidak apa-apa kecil ataupun tidak bagus, yang penting nenek bisa tinggal di rumah sendiri tanpa harus numpang lagi ke rumah saudara ataupun cucu," ungkap Tape kepada Kompas.com, di rumahnya di Desa Balong, Kecamatan Ujungloe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi selatan, Senin (25/04/2011).
Tape menceritakan, sejak lahir dirinya hanya memiliki satu kaki yang sempurna, sementara kaki sebelah kanannya kecil dan pendek sehingga ketika Tape akan berjalan dirinya terpaksa menyeret badan dengan menggunakan pinggul dan tangan kanan sebagai penopang untuk melangkah.
Senyum yang terpancar di raut wajah Tape menjadi pengobat rasa lelah setelah menyeret tubuhnya berkilo-kilometer melewati batu kerikil-kerikil tajam. Bahkan, sesekali, dalam perjalanannya Tape terpaksa harus berhenti karena kaki maupun tangannya digigit semut.
Nenek yang tidak menikah tersebut terus berjalan di tepi jalan raya kendati kendaraan-kendaraan terus melintas dengan kencang. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, semangat hidup tidak pudar.
Seusai mengumpulkan kayu bakar, Tape menjaga ayam milik tetangga yang berada di tengah kebun cokelat tak jauh dari rumah panggung miliknya. Jika peliharaannya membuahkan hasil, keuntungannya dibagi dua dengan pemilik ayam. Sayang, semenjak mata Tape rabun, ayam-ayam yang dipeliharanya tidak sebanyak dulu.
Menjelang malam, Tape baru kembali ke rumah. Kelelahan dan kepenatan seharian mencari kayu perlahan-lahan hilang ketika Tape merentangkan badannya di atas papan kayu rumahnya.
"Uang dari hasil usaha ini nenek kumpulkan sejak masih remaja. Selama nenek masih bisa jalan, nenek tidak mau meminta-meminta di pinggir jalan. Namun, nenek sering kali dilempar uang dari pengendara yang sedang lewat ketika nenek pulang dari pasar," kata Tape sambil tersenyum.
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/]
Minggu, 13 Maret 2011
Anak Jalanan Mulai Resahkan Warga Bulukumba
ANAK JALANAN. Anak jalanan (Anjal) mulai berkeliaran di Kabupaten Bulukumba dan banyak meresahkan warga. Anjal tersebut mendatangi rumah warga, serta mendatangi dan meminta uang kepada warga yang sedang beraktivitas di daerah itu. (Foto: Internet)
-----------------------
Anak Jalanan Mulai Resahkan Warga Bulukumba
Laporan Samsul Bahri
Tribun Timur - Kamis, 10 Maret 2011
http://makassar.tribunnews.com/2011/03/10/anjal-mulai-resahkan-warga-bulukumba
BULUKUMBA, TRIBUN TIMUR.COM-- Anak jalanan (Anjal) mulai berkeliaran di Kabupaten Bulukumba dan banyak meresahkan warga. Anjal tersebut mendatangi rumah warga dan juga mendatangi warga yang sedang beraktivitas di daerah itu.
Beberapa warga setempat megaku bahwa Anjal itu meminta uang kepada warga di daerah itu, bahkan ada yang mulai memaksa warga untuk memberikan uang kepada Anjal tersebut.
Hal itu banyak dijumpai di halaman kantor POS Bulukumba, di sejumlah warung kopi, dan di tempat keramaian lainnya seperti di Pasar Sentral.
"Ini tiap hari datang dan banyak di antara mereka adalah orang yang sama dan pada umumnya berasal dari luar Bulukumba," kata Mahfud, Kepala Desa Padang, Kecamatan Gantarang, seusai memberi uang pecahan Rp 1000-an kepada Anjal itu, Kamis, 10 Maret 2011.
Warga berharap agar aksi Anjal itu untuk segera ditertibkan atau diberi pembinaan. (*)
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]
Selasa, 25 Januari 2011
Tunggakan Raskin di Bulukumba Rp 161,4 Juta
Tunggakan beras miskin (raskin) di Bulukumba hingga akhir tahun 2010 lalu, Rp 161.472.000 atau Rp161,4 juta. Besarnya tunggakan raskin terjadi karena pengelola raskin di tingkat desa dan kelurahan, tidak menyetor hasil penjualan dari Rumah Tangga Sasaran atau RTS penerima raskin.
-------------------------------------
Tunggakan Raskin di Bulukumba Rp 161,4 Juta
Harian Ujungpandang Ekspres
Rabu, 26-01-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=60341
BULUKUMBA, UPEKS-- Tunggakan beras miskin (raskin) di Bulukumba hingga akhir tahun 2010 lalu, Rp 161.472.000 atau Rp161,4 juta. Besarnya tunggakan raskin terjadi karena pengelola raskin di tingkat desa dan kelurahan, tidak menyetor hasil penjualan dari Rumah Tangga Sasaran atau RTS penerima raskin.
Data dari Bagian Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Setda Bulukumba, 23 desa dan kelurahan di Bulukumba menunggak raskin tahun 2010 di 10 kecamatan. Kecamatan Ujungbulu dan Kecamatan Bontobahari, dua kecamatan yang bebas dari tunggakan.
"Kecamatan Herlang merupakan penunggak raskin terbesar," kata Umar Naim, Kabag Ekbang Bulukumba, Selasa (25/1).
RTS penerim raskin sebenarnya sudah membayar raskin ketika dibagikan di kantor desa dan kelurahan. Namun menurut Umar Naim, tunggakan terjadi karena uang raskin tidak disetor oleh oknum pengelola.
Tahun 2010 lalu, Bulukumba kebagian jatah raskin sebanyak 3.862.800 kilogram atau 3,8 juta kilogram. Setiap rumah tangga sasaran atau RTS penerima raskin mendapat jatah 15 kilogram dengan harga Rp1600 per kilogram.
"Jumlah RTS penerima raskin 2010 di Bulukumba 21.460 RTS," terang Umar Naim.
Untuk 2011 ini, pagu raskin Bulukumba tidak bertambah. Sama dengan dengan tahun lalu, pagu raskin Bulukumba tetap 3.862.800 kilogram dengan 21.460 RTS penerima raskin. Umar Naim mengatakan, desa dan kelurahan yang ada tunggakan raskinnya tidak akan kebagian raskin sebelum melunasi tunggakannya.
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]
-------------------------------------
Tunggakan Raskin di Bulukumba Rp 161,4 Juta
Harian Ujungpandang Ekspres
Rabu, 26-01-2011
http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=60341
BULUKUMBA, UPEKS-- Tunggakan beras miskin (raskin) di Bulukumba hingga akhir tahun 2010 lalu, Rp 161.472.000 atau Rp161,4 juta. Besarnya tunggakan raskin terjadi karena pengelola raskin di tingkat desa dan kelurahan, tidak menyetor hasil penjualan dari Rumah Tangga Sasaran atau RTS penerima raskin.
Data dari Bagian Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Setda Bulukumba, 23 desa dan kelurahan di Bulukumba menunggak raskin tahun 2010 di 10 kecamatan. Kecamatan Ujungbulu dan Kecamatan Bontobahari, dua kecamatan yang bebas dari tunggakan.
"Kecamatan Herlang merupakan penunggak raskin terbesar," kata Umar Naim, Kabag Ekbang Bulukumba, Selasa (25/1).
RTS penerim raskin sebenarnya sudah membayar raskin ketika dibagikan di kantor desa dan kelurahan. Namun menurut Umar Naim, tunggakan terjadi karena uang raskin tidak disetor oleh oknum pengelola.
Tahun 2010 lalu, Bulukumba kebagian jatah raskin sebanyak 3.862.800 kilogram atau 3,8 juta kilogram. Setiap rumah tangga sasaran atau RTS penerima raskin mendapat jatah 15 kilogram dengan harga Rp1600 per kilogram.
"Jumlah RTS penerima raskin 2010 di Bulukumba 21.460 RTS," terang Umar Naim.
Untuk 2011 ini, pagu raskin Bulukumba tidak bertambah. Sama dengan dengan tahun lalu, pagu raskin Bulukumba tetap 3.862.800 kilogram dengan 21.460 RTS penerima raskin. Umar Naim mengatakan, desa dan kelurahan yang ada tunggakan raskinnya tidak akan kebagian raskin sebelum melunasi tunggakannya.
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]
Kamis, 20 Januari 2011
LVRI Bulukumba Gelar Acara Ulang Tahun
Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan bersalaman dengan anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bulukumba, pada acara ulang tahun LVRI tingkat Kabupaten Bulukumba, di Aula Markas Kodim 1411 Bulukumba, Kamis, 20 Januari 2011. (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)
------------------------------------
LVRI Bulukumba Gelar Acara Ulang Tahun
BULUKUMBA. Pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Bulukumba menggelar acara ulang tahun ke-54 organisasi para pejuang kemerdekaan tersebut di Aula Markas Kodim 1411 Bulukumba, Kamis (20/01). Ratusan anggota LVRI Bulukumba turut hadir pada acara tersebut.
Peringatan Ultah tersebut berlangsung sederhana dan penuh dalam suasana kekeluargaan. Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan dan sejumlah pejabat turut hadir pada acara tersebut, antara lain Wakil Ketua DPRD Edy Manaf, Dandim 1411 Agung Senoadji, Ketua Pengadilan Negeri Ganjar Susilo dan Kaur Ops Polres Kompol Muhammad Amir.
Ratusan veteran yang mengikuti peringatan ulang tahun tersebut dengan bersemangat mendengarkan sambutan Bupati Bulukumba yang memberi apresiasi atas hasil perjuangan veteran dan kini telah dinikmati oleh bangsa dan rakyat Indonesia.
Bupati mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para veteran yang telah berjuang dan rela mengorbankan segalanya, sehingga kemerdekaan bisa dirasakan bangsa dan rakyat Indonesia.
"Tanpa bapak-bapak veteran ini, kita tidak akan melihat Bulukumba seperti saat ini," ujar Zainuddin.
Bupati Bulukumba mengajak para veteran untuk bersama-sama meningkatkan rasa persatuan untuk mencapai Bulukumba yang jauh lebih baik. (asnawin)
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]
Rabu, 19 Januari 2011
Bulukumba Terima Bantuan 300 Unit Rumah Miskin
Pemerintah Kabupaten Bulukumba menerima bantuan 300 unit rumah miskin dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu. Di Sulawesi Selatan, hanya Bulukumba yang menerima bantuan rumah miskin.
------------------------------------------
Pemkab Bulukumba Terima Bantuan 300 Unit Rumah Miskin
BULUKUMBA. Pemerintah dan masyarakat Bulukumba patut bersyukur karena dari 23 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, hanya Bulukumba yang mendapatkan bantuan rumah miskin Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.
Kemenkokesra memberikan 700 unit rumah miskin untuk seluruh Indonesia dan 300 unit di antaranya akan dibangun di Bulukumba. Pencanangan peresmian pembangunan rumah miskin di Bulukumba rencananya akan dilangsungkan pada 29 Januari 2011. Pencanangan akan dihadiri tiga menteri, yakni Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perumahan dan Pemukiman, serta dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
"Di Sulsel hanya Bulukumba yang menerima bantuan rumah miskin ini dan diperuntunkan bagi warga yang kurang mampu," jelas Kabag Humas Pemkab Bulukumba, Daud Kahal, kepada wartawan di Bulukumba, Rabu, 19 Januari 2011.
Menurut dia, bantuan 300 rumah miskin ini merupakan berkah yang sangat besar bagi pemerintah dan masyarakat Bulukumba.
''Ini merupakan berkah yang sangat besar dan kita semua patut bersyukur,'' ujarnya.
Anggaran pembangunan 300 rumah miskin tersebut sebesar Rp 16,5 miliar, dengan estimasi anggaran sekitar Rp 50 juta per unit rumah. Ketika ditanya tentang lokasi pembangunan rumah miskin di Bulukumba, Daud Kahal mengatakan masalah lokasi masih akan dibicarakan dengan beberapa pihak terkait.
"Kami belum bisa pastikan lokasinya dimana ditempatkan. Sebab baru sementara menunggu usulan, baik dari Kepala Desa (Kades) maupun Camat, khususnya lokasi pembangunan rumah miskin ini. Kita akan libatkan Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya, serta Dinas Bina Marga," paparnya.
Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa pada intinya bantuan ini akan dipusatkan pada wilayah-wilayah kurang mampu di daerah berjuluk Bumi Panrita Lopi. Apalagi sumber bantuan ini memang diperuntukan bagi warga miskin.
"Khusus pembangian rumah miskin ini kami belum pastikan kriterianya seperti apa. Yang pasti, penerima bantuan adalah warga kurang mampu," katanya.
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]
Jumat, 26 November 2010
Mensos Bagikan Dana PKH Rp 6,5 M
BERSAMA WARGA MISKIN. Mensos Salim Segaf di tengah warga Makassar yang teridentifikasi masuk kategori RTSM, di Kantor Pos Besar Makassar, Selasa, 23 November 2010. Mensos bagi-bagi duit miliaran rupiah di Sulsel dalam bentuk Program Keluarga Harapan (PKH), antara lain bantuan dana Keserasian Sosial untuk 875 KK di Bulukumba sebesar Rp 875 juta. (FOTO YUSRAN/FAJAR)
--------------------------------------------------
Mensos Bagikan Dana PKH Rp 6,5 M
Harian Fajar, Makassar
Rabu, 24 November 2010
http://metronews.fajar.co.id/read/110478/61/mensos-bagikan
MAKASSAR -- Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al-Jufri bagi-bagi duit miliaran rupiah di Sulsel dalam bentuk Program Keluarga Harapan (PKH), Selasa 23 November. Totalnya Rp 6,5 miliar untuk 17.722 rumah tangga sangat miskin (RTSM) di Makassar, Gowa, dan Bone. Rinciannya, Makassar Rp 3,3 miliar untuk 8.539 RTSM, Gowa Rp 2,29 miliar untuk 6.638 RTSM, dan Bone Rp 953 juta untuk 2.545 RTSM.
Selain itu, kemarin Mensos Salim Segaf juga mengucurkan bantuan bagi 97 Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin (KUBE FM) di Kepulauan Selayar, Bantaeng dan Wajo senilai Rp 2,9 miliar. Juga bantuan permukiman Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Pangkep sebesar Rp 2,144 miliar dalam bentuk 65 unit rumah dan 66 paket sembako serta sarana-prasarana lainnya.
Bantuan sembako bagi KAT Barru sebesar Rp 452 juta, bantuan dana Keserasian Sosial untuk 875 KK di Bulukumba sebesar Rp 875 juta, Takalar Rp 625 juta, Jeneponto Rp 375 juta, Wajo Rp 1,250 miliar, Bantaeng Rp 375 juta, dan Barru Rp 250 juta.
Juga bantuan cadangan dana klaim Askesos untuk Yaspindo bagi 200 orang peserta sebesar Rp 30 juta, bantuan operasional penguatan Orsos/LSM Peduli KTKPM kepada Lembaga Perlindungan Anak Sulsel dan Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Arafah masing-masing sebesar Rp 12,5 juta.
Totalnya, kemarin Mensos Salim Segaf mengucurkan bantuan dalam berbagai bentuk di Sulsel senilai Rp 15.788 miliar.
Khusus untuk bantuan PKH bagi RTSM, Mensos Salim Segaf mengatakan bahwa jatah Sulsel tahun ini baru tiga kabupaten/kota saja. Alasannya, anggaran terbatas dan baru sebatas uji coba. Makanya, tiga kabupaten/kota penikmat PKH tersebut diberikan dalam dua tahap (per triwulan).
Dijelaskan, bantuan untuk RTSM dalam bentuk PKH itu akan disalurkan lewat kantor pos. Pencetakan, distribusi kartu dan berbagai formulir PKH, termasuk pembayaran bantuan hingga penyediaan kantor bagi para pendamping di kecamatan, diserahkan via kantor pos.
Bahkan khusus untuk penerima baru seperti Sulsel, pembayarannya dilakukan melalui rekening Giro Pos. Ini berbeda dengan pembayaran di lokasi penerima lama yang menggunakan Wesel Pos.
"Dengan model Giro Pos ini, penerima diharapkan dapat menyimpan uangnya lebih lama di rekening. Jadi, tidak perlu buru-buru dan antre untuk mengambil uang," ujar Mensos Salim Segaf di depan Wakil Gubernur Sulsel H Agus Arifin Nu'mang dan para kepala daerah se-Sulsel di Hotel Clarion and Convention, kemarin.
Wakil Gubernur Sulsel di Hotel Clarion mengungkapkan, angka kemiskinan di Sulsel rata-rata mengalami penurunan 8,19 persen per tahun. Pada 2006 lalu, ungkap Agus, angka kemiskinan di Sulsel masih 1,11 juta jiwa, turun menjadi 931 ribu jiwa pada 2010.
Penyerahan bantuan untuk RTSM dalam bentuk PKH kemarin dilakukan Mensos secara simbolis di Kantor Pos Besar Makassar, Jl Slamet Riyadi. Tidak kurang seribu warga miskin di kota ini, hadir pada kesempatan tersebut.
Menurut Salim, program ini diperuntukkan bagi orang miskin dengan pendapatan maksimal Rp 7 ribu per hari. Dan lebih diprioritaskan bagi RTSM yang beranggotakan ibu hamil atau sedang dalam masa nifas dan menyusui, serta memiliki anak berusia wajib belajar (SD-SMP, red). Datanya, kata dia, diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS).
"Intinya ada tunjangan kesehatan dan pendidikan. Kesehatan bagi ibu hamil dan ibu menyusui agar rajin memeriksakan dirinya ke posyandu. Sementara untuk tunjangan pendidikan, dilihat dari tingkat kerajinan anaknya menuntut ilmu," urai Salim Segaf.
Meskipun di dalam rumah itu ada ibu hamil dan memiliki putra atau putri di bangku SD atau SMP, batas dana per tahun yang diberikan maksimal Rp 2,2 juta. Dana ini bisa diterima setiap tiga bulan sekali dan bisa dicairkan lewat kantor pos.
Secara nasional, total dana untuk tahap pertama dalam bentuk PKH ini mencapai Rp 1,3 triliun yang disalurkan pada 20 provinsi. Tahun depan akan dikembangkan menjadi 25 provinsi yang provinsi tambahannya dikhususnya ke wilayah timur.
Operator PKH, Azhar, mengaku untuk setiap kriteria ada perbedaan dana yang diperoleh.
"Jadi ada bantuan tetap dalam hal ini adalah si pengasuh anak kalau tidak punya orang tua. Mereka mendapat bantuan Rp 200 ribu per tahun, ibu hamil atau nifas Rp 800 ribu, balita menyusui Rp 800 ribu, siswa SD Rp 400 ribu, dan siswa SMP atau MTs Rp 800 ribu per tahunnya," urai Azhar.
Marketing Business Development Director PT Pos Indonesia, Setyo Riyanto, mengaku dengan adanya PKH ini setidaknya bisa membantu masyarakat untuk mengentaskan kemiskinan.
"Baik dari segi kesehatan maupun pendidikan," kata Setyo. (asw-rin)
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]
Langganan:
Postingan (Atom)
















