Kamis, 23 September 2010

Menengok Evolusi Perahu Pinisi di Tanaberu Bulukumba


Keterangan gambar: PINISI PESIAR. H Arwin berpose di atas Pinisi jenis pesiar buatannya di lokasi peluncuran, Minggu 19 September. (FOTO ARMAN/FAJAR)



Menengok Evolusi Perahu Pinisi di Tanaberu Bulukumba
- Dulu Kapal Kargo, Sekarang Kapal Pesiar


Laporan: Muhammad Arman KS, Bulukumba

Harian Fajar, Makassar
SELASA, 21 SEPTEMBER 2010
http://news.fajar.co.id/read/105248/127/menengok-evolusi-perahu-pinisi-di-tanaberu-bulukumba

ADA yang menarik disimak dari perubahan pola pikir generasi pembuat perahu Pinisi pada dekade abad XXI. Jika pada abad XIX dan XX lalu hanya terpaku pada jenis perahu pengangkut barang atau kargo, kini perahu Pinisi justru berevolusi ke perahu angkutan wisata atau perahu pesiar. Apa saja yang berbeda?

Perahu Pinisi berkapasitas seratus orang dengan beban maksimal 150 ton, baru saja diselesaikan 12 orang generasi pembuat Pinisi di Desa Tanaberu Kecamatan Bontobahari. Dua tiang dan tujuh layar tetap menjadi ciri khas perahu ini. Hanya model dan interior perahu saja yang berubah. Jika biasanya Pinisi hanya untuk pengangkut barang atau kapal kargo, kali ini untuk wisata atau kapal pesiar.

Meski fungsinya berubah, secara keseluruhan, desain dan bahannya masih tetap sama. Sentuhan alam pada setiap interior kapal ini juga masih sangat kental. Kendati begitu, tidak menghilangkan kesan mewah, baik dari segi penataan maupun fasilitas yang disiapkan.

Ada tiga lantai yang disulap menjadi ruang-ruang rehat yang didesain sesuai kebutuhan wisata. Di lantai satu ada enam kamar yang diperuntukkan untuk tamu. Selain itu, dilantai ini juga disiapkan beranda untuk bersantai pada setiap sisi kapal dengan konsep terbuka.

Kemudian pada lantai dua, ada tiga kamar dan satu buah restoran dengan perpaduan konsep tradisional-modern. Sedangkan lantai tiga diperuntukkan sebagai ruang kapten dan kru kapal.

Kapal ini memiliki panjang alas dasar 15 meter dengan panjang keseluruhan 30 meter plus lebar tujuh meter. Tidak kurang dari 100 kubik kayu yang terdiri atas tiga jenis; kayu besi, kayu jati, dan kayu punaga, dibutuhkan untuk menyelesaikan satu unit Pinisi.

Per unit Pinisi dihargai kurang lebih Rp 2 miliar. Sebanding dengan biaya sewa kamar di atas kapal ini yang rata-rata USD 800-1.500 per malamnya.

Kapal pesiar ini dalam satu minggu ke depan dalam tahap peluncuran. Yakni mendorong kapal sedikit demi sedikit dari tempat galangan menuju laut. Tujuannya untuk pengapungan badan kapal sebelum resmi berlayar.

Kapal yang diberi naman Pearl of Papua tersebut akan berangkat meninggalkan pantai Tanaberu menuju Papua pada 31 Oktober nanti.

H Arwin, desainer kapal pesiar ini menuturkan bahwa secara keseluruhan, dibutuhkan waktu tujuh bulan untuk menyelesaikan Pearl of Papua. Kapal ini adalah kapal ketiga yang dibuat H Arwin dengan jenis pesiar sejak 2003. Sebelumnya, tidak kurang dari 20 unit kapal kargo sudah dihasilkan bapak tiga anak ini.

Ide awal dia beralih ke kapal jenis pesiar karena menganggap kapal Pinisi harus bisa menjangkau semua kalangan. Alhasil, pemikiran Arwin direspons pengusaha jasa angkutan kapal. Dua kapal yang dibuat sebelumnya, saat ini ada yang berlayar di perairan Bali dan ada juga yang berlayar di Laut Flores.

"Saya berprinsip, Pinisi bisa digunakan untuk apa saja asal tidak keluar dari konsep atau ciri kkasnya," ucap Arwin saat ditemui penulis di lokasi peluncuran kapal, Minggu 19 September.

Dia menceritakan ketertarikannya pada Pinisi karena merupakan warisan turun-temurun dalam keluarga besarnya. Tentu saja dia tidak langsung menjadi pembuat kapal. Awalnya, 1984-1987, dia hanya menjadi juru masak di atas kapal Pinisi. Kemudian menjadi pembantu kru kapal, hingga menjadi kapten kapal pada 1989 silam.

Saat itu, barulah dia mulai merintis keinginannya untuk membuat sendiri perahu. Dengan ilmu yang dia dapatkan secara turun-temurun, akhirnya dia bisa memulai membuat kapal pada era 1990-an.

Tetapi ada yang aneh dari para pembuat kapal Pinisi. Menurut bapak berusia 40 tahun ini, rata-rata pembuat Pinisi mabuk kapal saat ikut berlayar. Mereka hanya bisa membuat kapal tetapi tidak kuat berlayar dalam jarak jauh. Makanya, kru yang menemani dia membuat kapal hanya berdomisili di Tanaberu dan tidak pernah ikut berlayar.

"Mungkin ini tidak terlepas dari asal usul perahu Pinisi ini. Konon dulu, ada kapal yang terdampar di Desa Ara dan kaptennya terdampar di Bira. Makanya, saat itu muncul mitos orang Ara adalah pembuat kapal atau Panrita Lopi, dan orang Bira adalah pemakai kapal atau yang berlayar menggunakan pinisi ini," ungkap dia sambil mempersilakan penulis melihat setiap sisi kapal. (*)


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

1 komentar:

wira yuniar mengatakan...

Koreksi dari saya mengenai berita ini adalah bahwa haji Arwin bukan desainer dari Pearl of Papua, beliau hanya kontraktor pelaksana pekerjaan oembuatan kapal Pearl of Papua, sedangkan desainer kapal tersebut adalah saya.

Silakan kunjungi website saya www.7sailsdesign.com

Terima kasih