Kamis, 02 September 2010

Mengunjungi Objek Wisata Makam Dato Tiro di Bulukumba


Keterangan gambar: Inilah objek wisata budaya religius Makam Dato Tiro di Hila-hila, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, saat dipotret pada 21 Maret 2010. (foto: asnawin)



Mengunjungi Objek Wisata Makam Dato Tiro di Bulukumba


Oleh: Asnawin

Salah satu objek wisata andalan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bulukumba adalah Makam Dato Tiro, di kampung Hila-hila, Kelurahan Eka Tiro, Kecamatan Bontotiro. Makam yang sudah berusia ratusan tahun itu, hingga kini tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, baik wisatawan lokal, maupun wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Lokasi objek wisata tersebut terletak sekitar 180 km dari Kota Makassar yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat dengan waktu sekitar 4-5 jam. Tarif bis umum dari Makassar ke Bontotiro antara Rp 40.000 hingga Rp 50.000.


Keterangan gambar: Makam Dato Tiro di Hila-hila, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, saat dipotret pada 21 Maret 2010. (foto: asnawin)

Mengapa objek wisata tersebut menarik dikunjungi? Ada beberapa jawaban atas pertanyaan tersebut. Pertama, karena Dato Tiro adalah pembawa agama Islam di Bulukumba, sehingga makamnya memiliki nilai sejarah.

Kedua, karena Dato Tiro konon memiliki kesaktian, antara lain dari tarikan tongkat yang selalu dibawanyalah sehingga tak jauh dari makamnya terbentuk sebuah sumur panjang yang sudah berusia ratusan tahun, tetapi hingga kini airnya masih bening dan jernih.

Sebagian masyarakat setempat percaya bahwa air yang bening dan jernih tersebut diduga kuat keluar dari celah-celah dinding batu, bukan dari pasir putih yang ada di dasar sumur. Tidak sedikit pula yang yakin bahwa dengan mandi di sumur panjang di tepi jalan tersebut, maka selain dapat menikmati sejuk dan segar air sumur, penyakit kita akan sembuh, baik penyakit medis, maupun penyakit non-medis.


Keterangan gambar: Sumur panjang yang konon dibuat dengan goresan tongkat di tanah oleh Dato Tiro pada abad ke-17, hingga kini masih berpasir putih dan airnya bening jernih. Pemandangan ini dipotret pada 21 Maret 2010. (foto: asnawin)

Ketiga, karena banyak orang percaya (baik yang beragama Islam maupun non-muslim) bahwa setelah berkunjung ke makam Dato Tiro maka kita akan mendapatkan sesuatu atau keinginan kita akan terpenuhi. Banyak wisatawan mengaku berkunjung ke Makam Dato Tiro karena memang sudah meniatkan (nadzar) sejak lama bahwa dirinya akan berkunjung ke sana jika keinginannya tercapai atau terpenuhi.

Dengan tiga alasan tersebut, tak salah kiranya kalau dikatakan Makam Dato Tiro di Bulukumba sebagai objek wisata sejarah, budaya, dan religius. Maka tak perlu heran pula bahwa meskipun Dato Tiro adalah seorang ulama dan pembawa agama Islam di Bulukumba, tetapi wisatawan yang berkunjung bukan hanya orang yang beragama Islam melainkan juga non-muslim.

Ulama Dari Sumatera

Siapa sebenarnya Dato Tiro? Dari berbagai literatur diketahui bahwa Dato Tiro sebenarnya hanyalah sebuah gelar yang diberikan oleh masyarakat setempat atas penghargaan dan rasa hormat. Nama aslinya adalah Abdul Djawad. Versi lain menyebut nama aslinya adalah Nurdin Ariyani.

Abdul Djawad atau Al Maulana Khatib Bungsu datang ke Sulawesi Selatan bersama dua orang sahabatnya dari Sumatera, yaitu: Khatib Makmur yang lebih dikenal dengan nama Dato ri Bandang, dan Khatib Sulaiman yang lebih dikenal dengan Dato Patimang.

Mereka bertiga adalah murid atau santri dari Pesantren Sunan Giri. Sunan Giri adalah nama salah seorang walisongo (wali sembilan yang merupakan penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17) dan pendiri kerajaan Guru Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin, dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kebomas, Gresik.

Pada tahun 1600-an Masehi, Abdul Djawad menyiarkan agama Islam di Tiro (Bulukumba) dan sekitarnya. Adapun raja yang pertama diislamkan dalam kerajaan Tiro adalah Launru Daeng Biasa yang bergelar Karaeng Ambibia.

Launru Daeng Biasa adalah cucu keempat dari Karaeng Samparaja Daeng Malaja yang bergelar Karaeng Sapo Batu yang merupakan raja pertama di Tiro.

Kedatangan Abdul Jawad yang bergelar Al Maulana Khatib Bungsu ke Tiro (Bontotiro) dapat diterima oleh masyarakat setempat, karena dirinya memiliki kesaktian dan sentuhan ajaran Islam yang dibawanya menanamkan kesadaran religius keyakinan untuk hidup zuhud, suci lahir batin, selamat dunia akhirat, dalam kerangka tauhid ‘appasseuang (meng-Esakan Allah SWT).

Berbeda dengan sahabatnya (khatib Makmur atau Dato ri Bandang, dan Khatib Sulaiman atau Dato Patimang), khatib Abdul Djawad menekankan pelajaran tasawwuf sesuai dengan keinginan masyarakat yang lebih menyukai hal-hal yang bersifat kabatinan.

Khatib Abdul Jawad inilah yang menjadi mubalig sampai akhir hayatnya di Tiro Kabupaten Bulukumba, sehingga masyarakat setempat memberinya gelar Dato Tiro. Kata dato digunakan oleh masyarakat setempat karena dialek mereka sulit mengucapkan kata datuk, tetapi dato sama artinya dengan datuk. Kata dato kemudian berubah arti menjadi kakek atau nenek atau orang tua yang dihormati.

Perlu Sentuhan Artistik


Keterangan gambar: Objek wisata Makam Dato Tiro di Hila-hila, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, perlu sentuhan artistik. Pemandangan ini dipotret pada 21 Maret 2010. (foto: asnawin)

Pada hari Ahad, 21 Maret 2010, saya bersama isteri dan anak-anak, ayah (Aminuddin Gudang Daeng Taba, yang lahir dan besar di Bontotiro), tante (Besse Daeng Jintu, adik kandung ayah), serta beberapa saudara, ipar, dan keponakan, mengunjungi objek wisata Makam Dato Tiro.

Kami ke sana sekalian ziarah ke makam nenek (Dekkalala Daeng Pute' atau lebih akrab dipanggil Puang Pute') dan bersilaturrahim dengan sejumlah keluarga. Makam nenek kami bersama makam puluhan makam lainnya tepat berada di belakang makam Dato Tiro.

Puang Pute, nenek kami, meninggal dunia pada 6 Januari 1996, sekitar pukul 23.00 Wita, atau hanya sekitar dua jam setelah pesta pernikahan saya berakhir. Almarhumah seolah-olah sengaja menunggu usainya pesta pernikahan kami sebelum menghembuskan nafas terakhir. Ketika saya pamit kepadanya untuk mengantar isteri saya ke rumah mertua yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah orangtua saya, almarhumah masih sempat bicara dan memberi pesan.

''Jagai isterinu (jaga isteri kamu),'' katanya.

Hanya sesaat setelah masuk ke rumah mertua dan sebelum kami sempat duduk, telepon berdering dan dari balik telepon kakak saya menyampaikan bahwa nenek ''sudah pergi.''
Saya langsung menangis dan kami pun segera kembali ke rumah nenek yang bersebelahan dengan rumah orangtua saya.

Peristiwa itu terkenang kembali ketika kami berziarah ke makam nenek kami Puang Pute' yang berada tepat di belakang Makam Dato Tiro.

Setelah ziarah ke makam nenek, kami pun berkunjung ke makam Dato Tiro. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bulukumba dan sebagai pemerhati pariwisata, saya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan saya setelah melihat dari dekat kondisi Makam Dato Tiro.

Betapa tidak, kondisi Makam Dato Tiro tidak bisa dikatakan bersih dalam arti sesungguhnya. Juga jauh dari kesan indah dan artistik. Dindingnya hanya berwarna putih polos tetapi tidak mulus. Kaca jendelanya tidak utuh lagi dan juga tidak mengkilap. Tulisan Dato Tiro di pintu gerbang juga sudah hilang.


Keterangan gambar: Sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat beristirahat bagi para pengunjung Makam Dato Tiro. Pemandangan ini dipotret pada 21 Maret 2010. (foto: asnawin)

Sebuah bangunan di samping makam yang dipersiapkan sebagai tempat beristirahat bagi para pengunjung, juga kurang terawat dan tidak memiliki fasilitas apa-apa, sehingga kami sama sekali tidak tertarik beristirahat di tempat tersebut.


Keterangan gambar: Bengkel sepeda motor di samping Makam Dato Tiro sangat merusak pemandangan, seperti terlihat pada 21 Maret 2010. (foto: asnawin)

Di sudut halaman Makam Dato Tiro, terdapat sebuah bengkel sepeda motor yang membelakangi bangunan tempat beristirahat bagi pengunjung. Kehadiran bengkel yang konon dibuat atas persetujuan yayasan Makam Dato Tiro, sangat merusak pemandangan. Padahal, di belakang makam terdapat hutan kecil yang cukup indah dan di sana ada beberapa pohon besar yang menjulang tinggi.

Daya khayal saya segera bekerja. Saya membayangkan betapa indah dan menariknya Makam Dato Tiro sebagai sebuah objek wisata, seandainya di sana ada sentuhan artistik. Pagarnya dibuat dari kayu atau besi berukir, dinding makam tidak putih polos tetapi ada variasi warna dan corak, kaca jendela utuh dan selalu bersih mengkilap, serta atapnya bukan terbuat dari seng.

Saya bukan seniman, sehingga saya tidak bisa mengkhayal seperti pekerja seni. Saya hanya seorang penikmat seni, maka saya hanya bisa membayangkan sesuai kemampuan daya khayal saya tentang bagaimana sebaiknya Makam Dato Tiro.

Saya berharap yayasan yang menangani pengelolaan dan pengembangan objek wisata Makam Dato Tiro, bersama pemerintah kabupaten Bulukumba, dapat lebih serius mengurus pengelolaan dan pengembangan objek wisata tersebut. Maafkan atas kelancangan saya menulis artikel ini. Semua saya lakukan demi kecintaan saya kepada Bulukumba dan kerinduan saya melihat ''butta panrita lopi'' menjadi kota bersih, menarik, dan kota tujuan wisata.

Makassar, 3 September 2010


Referensi:

-- Aminuddin, Asnawin, Mengenal Kabupaten Bulukumba (1): Mendunia Berkat Bira dan Phinisi, http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/2009/08/mengenal-kabupaten-bulukumba-1.html

-- Aminuddin, Asnawin, Mengenal Kabupaten Bulukumba (4-bersambung): "Mali’ Siparappe, Tallang Sipahua", http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/2009/08/mengenal-kabupaten-bulukumba-4.html,

-- Djumbia, Amir, Menelusuri Awal Masuknya Islam di Sulsel, http://www.tribun- timur.com/ view.php? id=48899&jenis=Opini, Jumat, 14 September 2007

-- http://koranindonesia.com/2008/04/29/makam-datuk-tiro-objek-wisata-budaya-andalan-bulukumba/,
Makam Datuk Tiro Objek Wisata Budaya Andalan Bulukumba, 29 April 2008

-- Ma'sa, Lukman, Penerapan Syari’at Islam Di Desa Padang Bulukumba Sulawesi Selatan (bagian 2-bersambung), http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/2009/08/penerapan-syariat-islam-di-desa-padang_21.html


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

3 komentar:

gearindo mengatakan...

salam sejahtera , setiap aset daerah seharusnya pemerintah daerah yang bertanggung jawab dan yayasan cuma sebagai pengelolah tapi harus taat dengan pemerintah daerah yang secara tidak langsung bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat terutama masyarakat Bulukumba secara umum dan khususnya masyarakat bonto tiro.

RCA 102,5 FM mengatakan...

Artikel mantap, pak. Bagus nih kalo dishare lebih luas. Sukses.

Asnawin mengatakan...

Trims atas kunjungan dan komentarnya, mdh2an Bulukumba bisa lebih dikenal di seantero dunia dan makin berkembang di masa2 mendatang .....